Visi, misi, strategi, dan
aksi kerap disebut berurutan dalam dunia pendampingan masyarakat. Ia dihafal,
ditulis rapi di proposal, lalu diperlakukan seolah semuanya sama pentingnya di
setiap tahap. Padahal, keempatnya adalah jenjang berpikir, bukan sekadar
kumpulan istilah.
Visi adalah arah jauh:
keadaan ideal yang ingin dicapai. Ia tidak bicara kegiatan, melainkan makna.
Misi adalah peran yang dipilih untuk mendekati visi itu. Strategi adalah
kecerdikan membaca keadaan agar langkah tidak sekadar ramai. Dan aksi adalah
kerja nyata yang terlihat di lapangan.
Masalah muncul ketika
pembahasan ini tidak dilakukan dan tidak benar-benar jelas sejak awal. Visi
dipaksa menjadi aksi. Strategi disamakan dengan misi. Misi dipersempit menjadi
daftar kegiatan. Akibatnya bukan hanya gerakan yang kehilangan arah, tetapi
juga melahirkan dampak sosial yang nyata: masyarakat menjadi bingung, lalu
lelah.
Bingung karena tidak
pernah diajak memahami untuk apa mereka bergerak. Lelah karena terus diminta
melakukan aksi demi aksi, sementara tujuan terasa jauh dan kabur. Ketika tujuan
belum tercapai dan kelelahan menumpuk, stigma pun lahir. Pendamping yang tadinya
dipercaya perlahan dilabeli sebagai pembual: pandai bicara, rajin mengajak
bergerak, tetapi tidak kunjung membawa hasil.
Contoh sederhana bisa
kita lihat pada upaya penguatan ekonomi warga. Visi yang sering diucapkan
adalah kemandirian. Namun diskusi cepat meloncat ke aksi: pelatihan, bantuan
alat, pembentukan kelompok usaha. Ketika usaha tidak jalan, warga kembali
dikumpulkan, diberi motivasi, lalu diajak mencoba lagi dengan pola yang sama.
Yang tidak pernah benar-benar dibahas adalah misi dan strategi: apakah warga
siap secara organisasi, apakah pasar tersedia, apakah relasi kuasa di desa
memungkinkan usaha itu tumbuh.
Persoalan lain yang
memperparah keadaan adalah obsesi pada aksi seragam. Semua kelompok diminta
bergerak dengan cara yang sama. Yang tidak mengikuti pola dianggap tidak solid,
tidak konsisten, bahkan dicurigai. Padahal, konteks sosial tidak pernah
seragam. Menyeragamkan aksi di tengah keragaman hanya akan mempercepat
kelelahan dan kekecewaan.
Di sinilah peran
pendamping seharusnya menjadi penentu. Pendamping bukan sekadar penggerak
kegiatan, apalagi hanya pengumpul laporan. Ia adalah penjaga nalar gerakan.
Tanpa pemahaman yang utuh tentang visi, misi, strategi, dan aksi, pendamping
akan mudah terjebak mendorong aktivitas tanpa arah yang dipahami bersama.
Pendamping yang bekerja
dengan kesadaran justru membantu masyarakat membaca posisinya sendiri: apa
tujuan yang ingin dicapai, peran apa yang realistis, strategi apa yang paling
masuk akal, dan aksi apa yang relevan dengan kondisi mereka. Bukan memaksakan
keseragaman, melainkan menjaga agar gerakan tetap bermakna.
Tanpa itu semua,
pendampingan hanya akan melahirkan banyak kegiatan, banyak kelelahan, dan
sedikit perubahan. Kita sibuk bergerak, sementara kepercayaan masyarakat
pelan-pelan terkikis.
Post a Comment