Dalam kerja pendampingan
masyarakat, orientasi sering diperlakukan sebagai urusan awal yang ringan:
perkenalan, penyampaian agenda, lalu segera masuk ke kegiatan inti. Ia dijalani
sekadarnya, seolah cukup untuk menggugurkan kewajiban prosedural. Padahal,
orientasi bukan pintu kecil yang bisa dilewati sambil lalu. Ia adalah fondasi
yang menentukan ke mana pendampingan akan berjalan dan sejauh mana rasa
memiliki dapat tumbuh.
Orientasi sejatinya
adalah proses menata arah. Di ruang inilah pendamping dan masyarakat mulai
menyamakan pijakan: apa yang diharapkan, apa yang mungkin dilakukan bersama,
dan tanggung jawab apa yang bersedia dipikul masing-masing. Tanpa kejelasan
ini, pendampingan mudah kehilangan orientasi moralnya—kegiatan berjalan,
laporan selesai, tetapi masyarakat tetap merasa sebagai orang luar dari proses
yang menyebut namanya sendiri.
Karena itu, orientasi
tidak cukup dimaknai sebagai saling mengenal secara personal. Ia mesti menjadi
ruang untuk memetakan harapan, menggali kontribusi, dan merumuskan kesepakatan
bersama. Harapan penting agar pendamping tidak bekerja dengan asumsi sepihak.
Kontribusi perlu dibicarakan agar masyarakat tidak sejak awal ditempatkan
sebagai penerima pasif. Sementara kesepakatan menjadi penanda bahwa proses ini
adalah milik bersama, bukan sekadar titipan program.
Namun, orientasi hanya
akan bermakna jika ditopang oleh cara berkomunikasi yang tepat. Di sinilah
pendekatan live in dan apa yang kerap disebut sebagai “bunuh diri kelas”
menemukan relevansinya. Live in bukan
sekadar tinggal bersama warga, melainkan kesediaan pendamping untuk hadir
secara utuh—menggunakan bahasa sehari-hari, mengikuti ritme hidup masyarakat,
dan membuka diri untuk belajar. Sementara “bunuh diri kelas” adalah metafora
keberanian menanggalkan jarak status, bahasa elitis, dan rasa paling tahu.
Tanpa komunikasi yang
setara dan membumi, orientasi mudah berubah menjadi ruang monolog. Pendamping
berbicara, masyarakat mendengar; pendamping menawarkan, masyarakat mengangguk.
Kesepakatan lahir, tetapi tidak berakar. Sebaliknya, ketika orientasi dijalani
dengan sikap mendengar, dialog, dan kerendahan hati, harapan yang tersembunyi
dapat muncul, dan kontribusi—sekecil apa pun—menemukan tempatnya.
Orientasi yang dijalankan
asal-asalan justru menjadi penghambat di tahap selanjutnya. Ketika partisipasi
melemah atau konflik muncul, masalahnya sering kali bukan pada teknis kegiatan,
melainkan pada orientasi yang gagal menumbuhkan rasa memiliki sejak awal.
Orientasi yang baik tidak mempercepat proses, tetapi merapikan pijakan agar
langkah berikutnya tidak goyah.
Dalam memetakan harapan
dan kontribusi, orientasi seharusnya menjadi ruang aman bagi masyarakat untuk
berbicara jujur—termasuk menyampaikan batas dan keraguan. Tidak semua orang
mampu berkontribusi dengan cara yang sama, dan itu bukan kelemahan. Tugas
pendamping adalah menyusun peran secara adil dan realistis, agar kesepakatan
yang lahir bukan sekadar janji, melainkan komitmen yang hidup.
Pada akhirnya, orientasi
mencerminkan cara pandang pendamping terhadap masyarakat. Jika masyarakat
diposisikan sebagai subjek, orientasi akan dijalani dengan kesabaran dan
kesungguhan. Dari sanalah arah ditata, rasa ditumbuhkan, dan pendampingan
menemukan maknanya—bukan sekadar bergerak, tetapi benar-benar berjalan bersama.

Post a Comment