Membaca Masalah Seperti Membaca Pohon



Sering kali kita keliru membaca persoalan. Kita ribut di daun, berdebat di buah, bahkan saling menyalahkan sesama ranting, tetapi lupa menunduk ke bawah, ke akar. Padahal sebagaimana pohon, kehidupan sosial tumbuh dan bertahan justru dari sesuatu yang tak kasatmata namun menentukan segalanya.

 

Dalam kehidupan bermasyarakat, akar persoalan hampir selalu bersifat struktural. Ia bersemayam dalam sistem, kebijakan, tata kelola, dan cara berpikir yang diwariskan lama tanpa pernah sungguh-sungguh diuji. Ketimpangan akses pendidikan, hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas, budaya patronase, serta pembiaran terhadap penyalahgunaan wewenang adalah akar-akar yang tumbuh diam-diam. Ia tidak berisik, tidak viral, namun perlahan menghisap nutrisi kehidupan bersama untuk kepentingan segelintir pihak. Ironisnya, justru karena berada di bawah tanah, akar menjadi bagian yang paling jarang disentuh. Terlalu dalam, terlalu sensitif, dan sering dianggap berbahaya jika dibongkar.

 

Dari akar inilah tumbuh batang, yakni masalah inti yang menopang seluruh keburukan. Batang itu tampak kokoh dari luar, tetapi rapuh dari dalam. Korupsi yang dinormalisasi, kemiskinan yang dikelola alih-alih dientaskan, birokrasi yang lamban namun kebal kritik, serta kekuasaan yang lebih sibuk mengamankan diri daripada melayani rakyat, semuanya berdiri di batang yang sama. Masalah inti ini bukan semata karena ketiadaan aturan, melainkan karena hilangnya etika dalam menjalankan aturan. Batang tetap berdiri bukan karena kuat, melainkan karena kebiasaan lama, kompromi kolektif, dan ketakutan untuk berubah.

 

Ketika batang rapuh, daun dan buah tak punya pilihan selain ikut menanggung akibat. Daun menguning, buah membusuk, lalu jatuh berserakan. Inilah dampak sosial yang paling mudah dilihat dan paling sering dipersoalkan: kemiskinan, kriminalitas, konflik horizontal, rendahnya kepercayaan publik, serta generasi muda yang tumbuh dengan sinisme terhadap masa depan. Sayangnya, pada tahap ini justru daun dan buah yang disalahkan. Rakyat dicap malas, anak muda dianggap tak berdaya saing, masyarakat dituding tidak disiplin. Kita lupa bahwa daun tidak memilih akarnya, dan buah tidak pernah menentukan batangnya.

 

Menggunting daun tidak akan membuat pohon kembali sehat. Memungut buah busuk tidak akan menyembuhkan akar yang membusuk. Dampak sosial sejatinya adalah cermin, bukan penyebab. Ia memantulkan apa yang terjadi jauh di bawah tanah dan di dalam batang yang selama ini enggan kita sentuh.

 

Memetakan masalah dengan jujur bukan soal kecanggihan analisis, melainkan keberanian moral. Apakah kita berani menengok ke akar yang selama ini kita biarkan? Apakah kita siap mengguncang batang yang selama ini menopang kenyamanan segelintir orang? Pohon yang sakit tidak membutuhkan pujian karena masih berdaun hijau, melainkan perawatan serius pada akarnya. Dan masyarakat yang ingin sembuh tidak cukup dengan slogan perubahan, tetapi kerja sunyi dan konsisten membongkar sebab-sebab struktural yang selama ini disakralkan. Karena hanya dengan akar yang sehat, batang akan kembali kuat, dan daun serta buah bisa memberi kehidupan, bukan sekadar harapan palsu.

Post a Comment

Previous Post Next Post