Di kota-kota seperti Bandar Lampung, ojek online—motor maupun mobil—telah
lama melampaui fungsi angkut. Ia adalah urat nadi harian. Menggerakkan orang,
barang, dan harapan. Namun nadi yang dipaksa berdenyut tanpa jeda, lama-lama
menipis. Lelah. Nyaris putus.
Pada awal kemunculannya, ojol datang membawa janji. Janji kemudahan bagi
penumpang, dan janji penghidupan yang terasa wajar bagi pengemudi. Ada bonus
per penumpang, ada target harian, ada keyakinan bahwa kerja keras masih
dihitung. Lelah dibayar dengan angka yang masuk akal.
Kini, janji itu tinggal cerita.
Kawan saya—yang masih bertahan di balik setir—bercerita dengan nada
datar. Menjadi pengemudi ojol sekarang, katanya, lebih susah. Potongan aplikasi
membesar, sementara bonus menghilang. Target tinggal istilah. Insentif tinggal
arsip. Pengemudi bertambah, penumpang tak sebanding. Kota tetap ramai, tetapi
rezeki terasa makin sempit.
Wajah penumpang pun berubah. Dulu, mayoritas kelas menengah ke
atas—mereka yang menghargai waktu dan sopan santun. Kini, ojol adalah kendaraan
semua kalangan. Secara sosial, ini kemajuan. Tetapi bagi pengemudi, ini medan
ujian kesabaran yang tak pernah diajarkan aplikasi.
Ada yang ngebosi, sok tahu arah, padahal salah. Memaksa dijemput di titik
macet, diturunkan di gang sempit yang tak bisa berputar. Tak mau bergeser
sedikit pun, seolah dunia wajib menyesuaikan dirinya. Gaya seperti bos besar,
empati nyaris nol.
Permintaan mematikan AC karena takut muntah adalah wajar. Yang tak wajar,
cara meminta tanpa rasa terima kasih. Seakan pengemudi hanyalah fitur, bukan
manusia dengan tubuh yang juga butuh nyaman.
Yang paling menusuk, kata kawan itu pelan, adalah ongkos. Dulu, masih
sering ada tip. Tarif Rp17.000 dibulatkan menjadi Rp20.000. Bukan soal uangnya,
melainkan rasa hormat. Kini, tarif tertulis Rp10.600, yang dibayar Rp10.000.
“Cuma sepuluh ribu, kan?” Atau, “Enam ratusnya saya nggak punya.”
Kalimat-kalimat kecil itu berulang. Pelan. Konsisten. Menggerus.
Enam ratus rupiah mungkin tak berarti bagi sebagian orang. Tetapi bagi
pengemudi yang hidup dari akumulasi receh, ia adalah tanda. Bahwa kota ini
makin terbiasa menghemat empati. Bahwa rasa malu perlahan menguap, digantikan
pembenaran.
Tulisan ini bukan keluhan. Bukan pula ratapan. Ini catatan tentang kota
yang kian efisien, namun kian miskin rasa. Tentang teknologi yang memudahkan
banyak orang, sambil memeras sebagian yang lain. Tentang manusia yang direduksi
menjadi rating, algoritma, dan saldo harian.
Ojol akan tetap berjalan. Kota akan terus bergerak.
Pertanyaannya tinggal satu:
apakah kita masih bergerak sebagai sesama manusia, atau sekadar angka
yang saling mengurangi?
Di balik helm dan setir itu, ada orang-orang yang menahan lelah, menelan
emosi, dan tetap menyapa sopan. Dan barangkali, yang paling getir dari semuanya,
adalah kenyataan bahwa kesopanan kini sering tak menemukan balasan.
Setir terus diputar.
Saldo terus dihitung.
Harga diri—itulah yang diam-diam dipertaruhkan setiap hari.
Post a Comment