Lampung Tanpa Bahasa: Sunyi yang Pelan-Pelan Kita Biasakan



Bahasa selalu bekerja dalam senyap. Ia tidak datang dengan kegaduhan, tidak menuntut untuk diperhatikan. Ketika ia ditinggalkan, ia tidak marah—ia hanya pelan-pelan jarang dipakai, lalu perlahan dilupakan. Padahal, bagi sebuah bangsa, bahasa bukan sekadar alat bicara, melainkan cara mengenali diri. Dalam konteks Lampung, bahasa Lampung adalah identitas ulun Lampung, tempat nilai, ingatan, dan cara hidup diwariskan lintas generasi.

 

Kesadaran akan pentingnya bahasa Lampung sesungguhnya mulai menemukan bentuknya. Instruksi Gubernur Lampung Nomor 4 Tahun 2025 tentang Hari Kamis Beradat, meskipun baru diterapkan di lingkungan pemerintahan dan lembaga pendidikan, tetap layak diapresiasi. Setidaknya, bahasa Lampung masih diberi ruang untuk hadir secara resmi dan diakui sebagai bagian penting dari kehidupan bersama. Dari ruang-ruang formal inilah, harapannya kesadaran itu tumbuh—perlahan, tanpa paksaan.

 

Namun, bahasa tidak pernah benar-benar hidup karena kebijakan. Ia bertahan karena digunakan, dirawat, dan diterima dalam praktik sehari-hari. Di sinilah jarak antara regulasi dan realitas mulai terasa. Dalam sebuah grup percakapan, saya membaca pesan sederhana: “Kalau mau ngobrol pakai bahasa Lampung, mending chat pribadi saja. Di sini nggak semua orang Lampung, jadi nggak paham.” Tidak ada nada kasar, tidak pula niat buruk yang jelas. Tetapi kalimat itu menyiratkan sesuatu yang lebih sunyi: bahasa Lampung mulai dianggap tidak pantas hadir di ruang bersama.

 

Lampung hari ini memang bukan ruang yang homogen. Dari sisi jumlah, suku Lampung telah lama menjadi minoritas di tanahnya sendiri. Fakta ini tidak dapat disangkal. Namun, keberagaman seharusnya memperkaya kehidupan kultural, bukan justru mengaburkan identitas ruang. Pribahasa di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung tidak pernah dimaksudkan sebagai alat pemaksaan, melainkan sebagai penanda etika hidup bersama. Memijak bumi Lampung berarti bersedia memahami nilai, adat, dan bahasa yang hidup di dalamnya.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, salah satu ruang paling jujur bagi bahasa adalah pasar. Di sanalah bahasa bekerja tanpa naskah dan tanpa seremoni. Tawar-menawar, sapaan, canda, bahkan ketegangan kecil lahir melalui bahasa. Jika bahasa Lampung ingin tetap hidup, maka pasar adalah salah satu ruang paling penting untuk menjaganya tetap bernapas. Bahasa yang bertahan di pasar adalah bahasa yang benar-benar digunakan, bukan sekadar diingat.

 

Kesadaran ini idealnya tidak berhenti di pasar. Ruang-ruang publik lain seperti terminal, hotel, dan kafe-kafe juga memiliki peran yang tidak kecil. Tidak perlu menunggu program besar atau kesempurnaan. Kehadiran banner sederhana, papan informasi, atau sekadar ucapan selamat datang dalam bahasa Lampung sudah cukup menjadi penanda bahwa bahasa ini masih dihormati sebagai bahasa tuan rumah. Terkadang, bahasa tidak harus dipaksa untuk terdengar; ia cukup dihadirkan agar tidak sepenuhnya hilang dari ingatan.

 

Refleksi tentang bahasa Lampung juga tidak bisa dilepaskan dari soal generasi. Anak-anak dari keluarga non-etnis Lampung yang lahir dan besar di Lampung sesungguhnya tumbuh dalam ruang kultural yang sama. Membiasakan bahasa Lampung bagi mereka bukan soal mengganti identitas asal, melainkan bentuk penghormatan terhadap tempat berpijak. Ini bukan kewajiban administratif, melainkan tanggung jawab sosial yang wajar dalam masyarakat yang beradab. Tidak tahu banyak ya sedikit-sedikit, lama-lama juga bisa.

 

Pada saat yang sama, kegelisahan ini juga layak diarahkan kepada anak-anak orang Lampung sendiri, terutama yang tumbuh di kota-kota seperti Bandar Lampung. Rasa malu berbahasa Lampung sering kali lahir bukan karena penolakan, melainkan karena tidak terbiasa. Jika belum bisa, tidak ada yang perlu disembunyikan. Belajar selalu menjadi jalan yang sah. Kita rela mencari les bahasa asing demi masa depan dan gengsi, tetapi sering ragu ketika diminta mempelajari bahasa sendiri—padahal keduanya sama-sama usaha intelektual.

 

Ada perasaan yang sulit dihindari ketika seseorang pulang ke pekon atau tiyuh, bertemu sanak saudara yang masih setia menjaga bahasa Lampung, sementara dirinya hanya mampu tersenyum tanpa kata. Bukan karena ditegur, tetapi karena sadar telah kehilangan satu jembatan penting—jembatan yang menghubungkan darah, ingatan, dan rasa memiliki.

 

Pada akhirnya, pertanyaan mendasarnya tetap sama: mungkinkah Lampung melangkah maju dengan meninggalkan bahasa Lampung? Kearifan lokal Lampung lahir dan diwariskan melalui bahasanya. Ketika bahasa itu semakin jarang digunakan di rumah, di sekolah, di pasar, dan di ruang publik, maka nilai-nilai yang dikandungnya pun perlahan kehilangan pijakan.

 

Bahasa Lampung mungkin tidak akan hilang dalam satu malam. Ia akan pergi pelan-pelan, ketika tidak lagi dibiasakan, ketika jarang dihadirkan, ketika dianggap tidak penting untuk dipelajari. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling berhak menggunakan bahasa Lampung, melainkan siapa yang masih bersedia merawatnya. Sebab dari sanalah, martabat Lampung kelak akan diingat—bukan hanya dari apa yang dibangun, tetapi dari bahasa yang tetap hidup di tengahnya. Tabik

 

Post a Comment

Previous Post Next Post