Pemberdayaan Masyarakat versus Pendampingan Masyarakat

 


Dalam diskursus pembangunan sosial, istilah pemberdayaan masyarakat kerap diucapkan dengan penuh keyakinan. Ia terdengar progresif, menjanjikan, dan seolah menjadi jawaban atas berbagai persoalan kemiskinan dan ketimpangan. Namun di lapangan, tidak sedikit program pemberdayaan justru menyisakan pertanyaan: mengapa masyarakat tampak aktif selama program berjalan, tetapi kembali rapuh ketika proyek usai?

 

Masalahnya sering bukan pada niat, melainkan pada cara pandang. Pemberdayaan kerap dimaknai sebagai proses “memberi daya” kepada masyarakat, seolah daya itu tidak pernah ada sebelumnya. Masyarakat ditempatkan sebagai penerima, sementara pihak luar hadir sebagai pemilik pengetahuan, sumber daya, dan arah perubahan. Program disusun rapi, indikator ditetapkan sejak awal, dan keberhasilan diukur dari serapan anggaran serta laporan kegiatan.

 

Dalam praktik seperti ini, masyarakat memang bergerak, tetapi sering kali hanya sebatas memenuhi tuntutan program. Mereka hadir di pelatihan, mengikuti arahan, dan mengisi formulir. Namun ketika pendamping dan anggaran ditarik, kebingungan muncul. Yang tertinggal bukan kemandirian, melainkan ketergantungan baru.

 

Berbeda dengan pendekatan tersebut, pendampingan masyarakat menempatkan manusia sebagai subjek sejak awal. Pendamping tidak datang membawa resep jadi, melainkan kesediaan untuk hadir, mendengar, dan berjalan bersama. Prosesnya lebih lambat, sering kali tidak spektakuler, dan sulit diukur dengan angka-angka instan. Namun justru di sanalah letak kekuatannya.

 

Pendampingan berangkat dari keyakinan sederhana: setiap komunitas memiliki pengetahuan lokal, pengalaman bertahan, dan daya hidup yang lahir dari sejarah panjang mereka. Tugas pendamping bukan menggantikan, melainkan membantu masyarakat menyadari dan menguatkan potensi tersebut. Bukan memimpin dari depan, tetapi menjaga agar masyarakat berani mengambil keputusan atas hidupnya sendiri.

 

Pendekatan ini menuntut kerendahan hati. Pendamping harus siap menahan diri dari godaan menjadi “penyelamat”. Ia harus rela bekerja dalam sunyi, tanpa tepuk tangan, bahkan tanpa pengakuan. Sebab tujuan pendampingan bukanlah ketergantungan, melainkan kemandirian yang tumbuh dari dalam.

 

Dalam perspektif nilai, manusia tidak dimuliakan karena terus dituntun, tetapi karena diberi ruang untuk belajar memilih—termasuk ruang untuk keliru dan bangkit kembali. Perubahan yang lahir dari proses semacam ini mungkin tidak cepat, tetapi lebih tahan lama.

 

Pada akhirnya, perbedaan antara pemberdayaan dan pendampingan bukan semata soal istilah, melainkan soal sikap batin dalam melihat masyarakat. Pemberdayaan yang terburu-buru mudah berubah menjadi proyek administratif. Pendampingan memilih setia pada proses kemanusiaan.

 

Yang satu sibuk menyalakan cahaya dari luar.

Yang lain menjaga agar api kecil di dalam diri masyarakat tetap menyala.

 

Dan barangkali, ukuran keberhasilan yang paling jujur adalah ketika masyarakat mampu melangkah sendiri, sementara kita—yang pernah hadir—dapat mundur dengan tenang, tanpa merasa kehilangan peran, karena sejak awal tujuan kita bukan untuk dibutuhkan, melainkan untuk memerdekakan.

Post a Comment

Previous Post Next Post