Pernah suatu masa, dunia menoleh ke Lampung bukan karena jalan
rusak, bukan karena konflik politik, bukan pula karena sensasi murahan media
sosial. Dunia menoleh karena selembar kain bernama tapis.
Kita masih ingat ketika selebritas dunia Paris Hilton dan Miss
Universe asal Puerto Riko, Zuleyka Rivera, mengenakan busana rancangan desainer
Lampung Aan Ibrahim bermotif tapis. Ada pula Elfin Pertiwi Rappa di ajang Miss
International 2014 di Jepang yang mengenakan balutan tapis dengan mahkota siger
dan berhasil meraih *The Best National Costume* lewat tema “Tale of Siger
Crown”. Lalu Kevin Hendrawan di Mister International 2015 di Korea Selatan
tampil gagah dengan busana tapis bertema “The Invincible Golden Hero of
Krakatau”. Kemudian Anindya Kusuma Putri di panggung Miss Universe 2015 di Las
Vegas membawa tapis kembali melangkah ke panggung dunia lewat karya Mia Ayunda
Sari.
Di saat itu, mungkin banyak ulun Lampung diam-diam meneteskan
haru.
Sebab kain yang dulu hanya dianggap kain adat kampung, ternyata
mampu berdiri sejajar dengan gemerlap busana dunia. Tapis tidak lagi hanya tersimpan
di lemari kayu rumah tua atau dibuka saat acara adat semata. Ia pernah berjalan
di karpet internasional sambil membawa nama Lampung dengan anggun.
Dan memang sejak awal, tapis bukan sekadar kain.
Ia lahir dari penghormatan kepada leluhur. Dari tangan-tangan
perempuan yang menenun bukan hanya benang, tetapi juga doa, kesabaran, dan
martabat keluarga. Tapis dipakai bukan untuk pamer kekayaan, melainkan penanda
kehormatan dalam adat. Ia hadir di pernikahan, penyambutan, upacara, hingga
berbagai ruang budaya yang membuat orang Lampung tetap ingat bahwa dirinya
punya akar.
Kain tapis umumnya mengangkat tema alam, terutama flora dan
fauna. Ada pula kain tertentu yang mengangkat kehidupan rumah tangga seperti
pada kain tapis cucuk andak. Selain itu, terdapat perbedaan motif yang
dipengaruhi asal daerahnya, seperti tapis pepadun, tapis sai batin, dan tapis
abung.
Karena itulah setiap lembar tapis sesungguhnya seperti cerita
yang ditenun. Ada pesan tentang alam, kehidupan, penghormatan, dan identitas
yang diwariskan diam-diam dari generasi ke generasi.
Di dalam tapis juga tersimpan falsafah hidup masyarakat Lampung
yang dikenal dengan *piil pesenggiri*. Sebuah nilai tentang harga diri,
kehormatan, penghormatan kepada sesama, keramahan, dan menjaga martabat dalam
kehidupan sosial. Maka mengenakan tapis sejatinya bukan hanya memakai kain
adat, tetapi juga membawa pesan tentang bagaimana orang Lampung memandang
kehormatan hidupnya.
Sebab *piil pesenggiri* tidak pernah lahir untuk kesombongan. Ia
lahir agar manusia tahu cara menghargai dirinya tanpa merendahkan orang lain.
Agar masyarakat tetap menjaga adab, menjaga kata-kata, dan menjaga marwah
leluhurnya.
Hari ini tapis berdiri bersama sulam usus dan celugam sebagai
identitas budaya Lampung yang tidak ternilai.
Lebih dari itu, tapis sesungguhnya juga perekat masyarakat
Lampung. Ia menjadi titik temu antara adat, keluarga, dan kehidupan sosial yang
beragam. Dalam balutan tapis, orang Lampung belajar bahwa perbedaan status,
kampung, bahkan etnis, bisa duduk bersama dalam penghormatan kepada budaya.
Sebab tapis bukan hanya milik satu golongan, melainkan milik ingatan kolektif
tentang siapa kita dan dari mana kita berasal.
Mungkin itulah sebabnya, ketika seseorang mengenakan tapis dalam
acara adat atau kegiatan budaya, yang tampak bukan sekadar pakaian. Ada rasa
memiliki yang ikut dikenakan. Ada kebanggaan yang diam-diam menyatukan.
Di tengah kegelisahan budaya yang perlahan tergerus zaman,
muncul pula ikhtiar untuk menjaga agar Lampung tidak kehilangan wajahnya
sendiri. Salah satunya melalui program *Kamis Beradat*. Sebuah kebijakan
pelestarian budaya yang mewajibkan aparatur sipil negara, pegawai pemerintah,
dan institusi pendidikan mengenakan batik khas Lampung serta berkomunikasi
menggunakan bahasa Lampung setiap hari Kamis. Program ini resmi berlaku melalui
Instruksi Gubernur Lampung Nomor 4 Tahun 2025.
Mungkin bagi sebagian orang itu hanya soal pakaian dan bahasa
sehari dalam sepekan. Tetapi sesungguhnya, budaya memang sering bertahan dari
hal-hal kecil yang dilakukan terus menerus.
Sebab identitas tidak selalu hilang karena dirampas. Kadang ia
hilang pelan-pelan karena tidak lagi dibiasakan.
Namun zaman memang selalu membawa dua wajah. Di satu sisi ia
membuka peluang, di sisi lain ia perlahan mengikis makna.
Kini muncul tapis bordir dengan teknik mesin. Produksinya cepat,
jumlahnya banyak, dan harganya lebih terjangkau. Bahkan teknik bordir
berkembang lagi, ada yang manual dan ada yang memakai komputer. Yang manual
tentu lebih mahal karena kerumitannya masih menyisakan sentuhan tangan manusia.
Sedangkan yang modern lebih praktis, mengikuti kebutuhan pasar yang serba
cepat.
Tidak ada yang salah dengan perkembangan itu. Sebab budaya juga
harus mampu bertahan hidup di tengah perubahan zaman.
Namun pertanyaannya menjadi lain ketika tapis mulai diperlakukan
hanya sebagai barang dagangan.
Hari-hari ini pengrajin tapis bermunculan dengan membawa nama
desa, kecamatan, bahkan kabupaten tempat usaha mereka berdiri. Sebuah
perkembangan ekonomi yang patut diapresiasi. Tetapi pernahkah kita menyimak
lebih jauh bahwa sebagian besar pengrajin tapis justru beretnis Jawa, sementara
yang banyak menjualnya beretnis Minang?
Tentu ini bukan salah. Rezeki memang milik siapa saja yang mau
bekerja keras. Budaya juga bisa menjadi ruang perjumpaan lintas etnis. Lampung
harus tetap menjadi tanah yang ramah bagi siapa pun.
Tetapi ada satu pertanyaan kecil yang diam-diam menggantung di
udara.
Apakah nilai-nilai budaya ulun Lampung yang terkandung di dalam
tapis ikut tersampaikan kepada konsumen?
Apakah filosofi *piil pesenggiri* ikut dikenalkan ketika tapis
dipasarkan?
Ataukah tapis kini hanya tinggal motif emas di atas kain, tanpa
cerita tentang penghormatan kepada leluhur, tanpa filosofi tentang kehormatan
perempuan Lampung, tanpa makna tentang adat yang dulu dijaga dengan begitu
sakral?
Sebab harga sebuah benda sesungguhnya tidak hanya ditentukan
oleh bahan dan tingkat kerumitan pengerjaan. Ada nilai yang ikut hidup di
dalamnya. Ada ruh yang membuatnya berbeda dari sekadar produk pabrik.
Kopi menjadi mahal karena cerita tentang tanah dan petaninya.
Lukisan menjadi bernilai karena gagasan dan sejarahnya. Dan tapis semestinya
juga demikian. Ia berharga bukan hanya karena benang emasnya, tetapi karena
identitas yang melekat di dalamnya.
Jangan sampai suatu hari nanti tapis hanya tinggal komoditas,
sementara orang Lampung sendiri perlahan lupa makna yang tersulam di setiap
motifnya.
Karena budaya tidak mati ketika tidak dipakai. Budaya mati
ketika generasinya tak lagi memahami arti dari apa yang mereka kenakan.
Dan mungkin, yang paling menyedihkan bukan ketika tapis dibeli
orang luar.
Tetapi ketika ulun Lampung sendiri mulai lelah mencintainya.
Tabik.
Post a Comment