Balada Fasilitator 5

 


Ada pendapat yang mengatakan bahwa birokrasi tanpa administrasi adalah bohong. Pendapat itu ada benarnya. Sebab pemerintahan membutuhkan administrasi sebagai bukti, kontrol, dan bentuk pertanggungjawaban. Namun persoalan muncul ketika urusan pemerintahan menjadi terlalu birokratis, sehingga energi lebih banyak habis untuk mengurus prosedur daripada menyelesaikan pekerjaan.

 

Karena itulah banyak program menghadirkan fasilitator. Kehadiran mereka dimaksudkan untuk mempercepat proses, menjembatani berbagai kepentingan, dan memangkas jalur-jalur birokrasi yang dianggap menghambat pelayanan kepada masyarakat. Dalam banyak kasus, kerja fasilitator memang diuntungkan oleh penyederhanaan prosedur dan kewenangan yang lebih fleksibel dibandingkan struktur birokrasi yang kaku.

 

Tetapi pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa setelah birokrasi dipangkas, ternyata masih ada hambatan lain yang jauh lebih sulit diatasi. Hambatan itu tidak tertulis dalam peraturan, tidak tercantum dalam petunjuk teknis, dan tidak masuk dalam indikator kinerja. Namanya adalah budaya kerja yang terlalu formil, konflik pribadi, ego antarbidang, serta hubungan yang kurang harmonis antarpejabat atau antarunit kerja.

 

Tidak jarang tahapan pekerjaan fasilitator harus melewati dua pihak yang kebetulan sedang tidak akur. Berkas berpindah lambat, koordinasi tersendat, dan keputusan tertahan bukan karena aturan, melainkan karena hubungan antar manusia yang sedang bermasalah. Akibatnya tahapan pekerjaan mandek tanpa ada satu pun regulasi yang dilanggar.

 

Kondisi menjadi lebih rumit ketika masing-masing pihak yang berkonflik memiliki dukungan atau pengaruh dari figur yang kekuasaannya bahkan melebihi pimpinan langsung mereka. Dalam keadaan seperti ini, pimpinan sebenarnya mengetahui akar persoalan, tetapi tidak memiliki ruang gerak yang cukup untuk memindahkan salah satu pihak atau mengambil langkah tegas. Akhirnya konflik dibiarkan berlangsung, pekerjaan ikut tertahan, dan organisasi berjalan dengan luka yang semua orang tahu keberadaannya tetapi enggan membicarakannya.

 

Yang lebih menarik, pimpinan sering kali mengetahui kondisi tersebut. Mereka tahu sumber masalahnya. Mereka tahu siapa yang tidak bisa bekerja sama. Mereka tahu mengapa sebuah tahapan tidak bergerak. Namun semuanya berjalan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Semua tahu, tetapi berpura-pura tidak tahu.

 

Sementara itu waktu terus berjalan. Target tidak mau menunggu. Kontrak tidak mengenal alasan. Ketika progres terlambat, yang pertama kali ditanya bukan akar masalahnya, melainkan fasilitatornya.

 

"Anda sudah dibayar untuk bekerja."

"Silakan cari strategi."

"Kontrak sudah ditandatangani."

"Target harus tercapai."

 

Kalimat-kalimat itu terdengar logis. Namun sering kali melupakan satu kenyataan bahwa fasilitator bukan pemegang kewenangan. Mereka tidak bisa memerintahkan pejabat untuk berdamai. Mereka tidak dapat menyelesaikan ego sektoral dengan surat tugas. Mereka juga tidak bisa memindahkan orang-orang yang justru menjadi sumber hambatan.

 

Akhirnya lahirlah ironi yang berulang dari tahun ke tahun. Birokrasi telah dipangkas, prosedur telah disederhanakan, sistem telah diperbaiki, tetapi hambatan terbesar tetap berasal dari manusia yang sulit bekerja sama dengan manusia lainnya.

 

Dan ketika hambatan itu membuat target terlambat tercapai, yang salah tetap fasilitator.

 

Begitulah balada itu terus dimainkan. Keberhasilan dianggap kewajiban, sedangkan kegagalan dianggap kesalahan. Padahal sering kali yang menghambat bukan aturan, bukan administrasi, dan bukan pula kurangnya kerja keras, melainkan ego yang terlalu besar untuk ditempatkan di bawah kepentingan bersama.

 

Karena pada akhirnya, reformasi birokrasi tidak hanya membutuhkan pemangkasan prosedur. Ia juga membutuhkan kejujuran untuk mengakui sumber masalah yang sebenarnya. Sebab selama ego, konflik pribadi, dan budaya kerja yang tidak sehat masih dibiarkan tumbuh, maka yang dipangkas hanyalah birokrasi, sementara hambatannya tetap berdiri kokoh di tengah jalan.

Post a Comment

أحدث أقدم