Ada satu kebiasaan yang hampir
selalu mengiringi langkah seorang fasilitator ketika hendak turun ke
masyarakat. Di dalam tasnya sudah ada modul, di tangannya sudah ada target, dan
di kepalanya sudah tersusun materi yang harus disampaikan. Bahkan tidak jarang
sudah diberi tanda dengan rapi: poin mana yang wajib dibahas, halaman mana yang
tidak boleh terlewat, dan capaian mana yang harus masuk laporan. Seolah-olah
keberhasilan fasilitasi ditentukan oleh seberapa banyak materi yang berhasil dipindahkan
dari buku ke kepala peserta.
Padahal sesampainya di lokasi,
fasilitator sering lupa bahwa orang-orang yang duduk di hadapannya bukanlah
kertas kosong yang menunggu ditulisi. Mereka adalah manusia yang telah puluhan
tahun hidup bersama masalah yang sedang dibahas. Mereka mengenal tanah tempat
mereka berpijak, memahami musim yang datang dan pergi, mengerti adat yang
diwariskan leluhurnya, dan memiliki pengalaman yang kadang jauh lebih panjang
daripada usia program yang sedang dijalankan.
Ironisnya, tidak sedikit
fasilitator yang datang membawa jawaban sebelum sempat mendengar cerita. Datang
membawa kesimpulan sebelum memahami keadaan. Datang membawa pengetahuan
seolah-olah masyarakat tidak memiliki apa-apa. Padahal banyak hal yang dicari
oleh program sesungguhnya sudah hidup di tengah masyarakat. Ada yang tersimpan
dalam ingatan para sesepuh, ada yang hidup dalam kebiasaan gotong royong, ada
yang melekat dalam adat istiadat, dan ada pula yang tersimpan rapi di alam yang
setiap hari mereka baca tanpa pernah menyebutnya sebagai teori.
Saya teringat sebuah ungkapan
lama yang dahulu sering disampaikan dalam pelatihan fasilitasi: "Nothing
plus Nothing is Something." Kalimat yang terdengar aneh bagi logika
matematika, tetapi sangat masuk akal dalam dunia pemberdayaan. Ketika
fasilitator datang tanpa merasa paling tahu, dan masyarakat diberi ruang untuk
mengeluarkan pengetahuan yang mereka miliki, justru dari ruang yang tampak
kosong itulah sering lahir sesuatu yang besar. Muncul gagasan, tumbuh kesadaran,
dan ditemukan solusi yang benar-benar berasal dari kebutuhan masyarakat
sendiri.
Karena itu sesungguhnya modal
utama seorang fasilitator ketika pertama kali memasuki sebuah desa bukanlah
tumpukan materi, bukan pula sederet istilah teknis yang rumit. Modal yang
paling berharga adalah etika, kemampuan berkomunikasi, dan pengetahuan dasar
tentang budaya setempat. Sebab masyarakat biasanya tidak langsung menilai isi
kepala kita. Mereka lebih dahulu menilai sikap kita. Cara kita menyapa. Cara
kita duduk. Cara kita mendengar. Cara kita menghormati tokoh masyarakat dan
adat yang mereka pegang. Dari situlah kepercayaan mulai tumbuh. Dan tanpa
kepercayaan, materi sehebat apa pun sering hanya lewat di telinga tanpa pernah
sampai ke hati.
Tentu bukan berarti fasilitator
harus membuang tema kegiatan, melupakan judul pelatihan, atau mengabaikan
target program. Target tetap harus dicapai. Perubahan tetap harus diupayakan.
Namun jalan menuju target itu tidak harus selalu dimulai dari modul. Jika
temanya tentang lingkungan, mulailah dengan bertanya bagaimana leluhur mereka
menjaga alam. Jika temanya tentang ekonomi, mulailah dengan mendengar bagaimana
mereka bertahan menghadapi masa sulit. Jika temanya tentang kelembagaan,
carilah terlebih dahulu bentuk-bentuk kebersamaan yang telah hidup di tengah
masyarakat. Dari situlah fasilitator menjahit pengetahuan lokal dengan tujuan
program, sehingga target tercapai tanpa membuat masyarakat merasa sedang
diajari.
Semakin lama saya mengamati dunia
fasilitasi, semakin saya percaya bahwa tugas fasilitator bukan mengisi
masyarakat dengan pengetahuan baru, melainkan membantu mereka menemukan kembali
pengetahuan yang sudah lama mereka miliki. Sebab masyarakat bukan ruang hampa.
Mereka adalah perpustakaan hidup yang tidak memiliki rak buku. Mereka adalah
buku tebal yang ditulis oleh pengalaman, adat istiadat, kegagalan,
keberhasilan, dan hubungan panjang dengan alam.
Mungkin itulah sebabnya
fasilitator terbaik bukanlah yang paling banyak berbicara, melainkan yang
paling banyak mendengar. Bukan yang paling cepat memberi jawaban, melainkan
yang paling sabar menggali pertanyaan. Sebab dalam banyak kesempatan,
masyarakat sebenarnya tidak kekurangan pengetahuan. Yang mereka butuhkan
hanyalah seseorang yang membantu membuka kembali halaman-halaman kebijaksanaan
yang selama ini telah mereka miliki.
Dan ketika itu terjadi,
fasilitator tidak lagi menjadi pusat kegiatan. Ia hanya menjadi jembatan. Ia
hanya menjadi penghubung. Ia hanya menjadi orang yang membantu masyarakat
menemukan kekuatan yang sesungguhnya sudah ada dalam diri mereka sendiri.
Karena pada akhirnya, sebagaimana
balada-balada fasilitator lainnya, pelajaran terbesar sering bukan berasal dari
materi yang kita bawa, melainkan dari kerendahan hati untuk menyadari bahwa
masyarakat yang kita datangi ternyata tidak pernah kosong. Mereka hanya
menunggu untuk didengar. Mereka hanya menunggu untuk dipercaya. Mereka hanya
menunggu seseorang yang datang bukan untuk menulis di atas kertas, melainkan
untuk membaca buku yang telah lama terbuka di hadapannya.
Post a Comment