Dari Suntikan ke Ulekan

 


Semalam, saat saya dan istriku Arbayti Resminingsih sedang mengobrol santai di kamar, tiba-tiba teleponnya berdering. Setelah menerima panggilan itu, ia buru-buru menuju televisi dan mencari remote. Melihat tingkahnya yang tergesa-gesa, saya bertanya, "Telepon dari siapa?" Ia menjawab singkat, "Dari Cikwo. Ada orang Trans7 ngasih tahu kalau  Cikwo Resto lagi ditayangkan sekarang."

 

Televisi pun menyala. Kami berdua menyaksikan tayangan tentang menu-menu andalan Cikwo Resto Pekhos Pati. Sesekali kamera menyorot makanan, sesekali menyorot orang-orang yang selama ini lebih sering bekerja di balik layar. Dan malam itu, salah satunya adalah istri saya. Setelah acara selesai, saya menjabat tangannya sambil berkata, "Selamat ya, sudah masuk TV." Ia hanya tersenyum, senyum sederhana yang sulit disembunyikan dari rasa bahagia.

 

Rupanya yang terkejut malam itu bukan hanya saya. Beberapa menit kemudian pesan WhatsApp mulai berdatangan. Salah satunya berbunyi, "Kami tadi nonton bang.. Lena bilang ma Yudha kok kayak suara Alak Betty. Iya apa buk, bilang Yudha. Ehhh... pas dibaca di layar TV beneran Alak Bettynya."  Saya tersenyum membaca pesan itu. Ternyata ada suara yang begitu akrab di telinga orang lain hingga wajahnya belum muncul pun mereka sudah dapat menebaknya. Tidak lama kemudian, istri saya memperlihatkan pesan dari putri kami yang sedang menempuh pendidikan di IPB. Pesannya pendek, "Barusan saya nonton emak lu masuk TV Trans7." Kami tertawa membacanya. Tidak ada kalimat panjang, tetapi entah mengapa pesan itulah yang paling lama tinggal di hati.

 

Saya lalu berkata kepada istri saya, "Lihat, ini salah satu kenikmatan dari Allah yang tidak berbentuk uang." Sebab memang ada kebahagiaan yang tidak bisa dihitung dengan angka. Tidak bisa dicairkan di bank. Tetapi mampu membuat hati terasa penuh. Kami pun mengobrol tentang tayangan itu. Saya bilang kisah ini menarik untuk ditulis. Ketika saya bertanya apa judul yang tepat, ia menjawab cepat, "Dari Suntikan ke Ulekan."

 

Semakin dipikir, semakin pas rasanya. Istri saya adalah seorang Analis Kesehatan. Bertahun-tahun hidupnya akrab dengan laboratorium kesehatan, mikroskop, tabung reaksi, dan suntikan. Namun pertengahan tahun 2024, ketika ia memutuskan untuk berhenti dari dunia Laboratorium Klinik, hidup membawanya ke jalan yang berbeda. Saat itu Cikwo Isna Adianti, pemilik Cikwo Resto, hendak mendampingi suaminya bertugas di Kalimantan. Dalam situasi itulah istri saya diminta membantu mendampingi Axioma, putra Cikwo, mengelola Cikwo Resto Way Halim, bahkan sesekali mewakili melakukan supervisi ke Liwa.

 

Dulu tangannya akrab dengan suntikan. Kini lebih sering berurusan dengan ulekan. Dulu ia membaca hasil pemeriksaan laboratorium. Kini ia membantu memperkenalkan cita rasa masakan kepada pelanggan. Tetapi sesungguhnya yang berubah hanya medianya. Ketelitian, kesabaran, dan semangat melayani orang lain tetaplah sama. Hari ini banyak orang lebih mengenalnya sebagai bagian dari keluarga besar Cikwo Resto daripada sebagai seorang analis kesehatan. Dan justru karena itulah semalam wajahnya muncul di televisi nasional.

 


Di umur saya yang sudah memasuki setengah abad, saya mulai memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana yang kita susun saat muda. Kadang Tuhan membawa seseorang dari laboratorium menuju dapur rumah makan. Dari suntikan menuju ulekan. Dari pekerjaan yang dipelajari di bangku sekolah menuju pekerjaan yang tidak pernah ada dalam angan-angannya. Namun justru di jalan yang tidak direncanakan itu tersimpan cerita-cerita yang layak disyukuri.

 

Maka jika ada pelajaran yang saya dapatkan dari malam ini, jawabannya sederhana. Jangan terlalu sempit mendefinisikan rezeki. Sebab Tuhan bisa menghadirkannya dari arah yang sama sekali tidak kita duga. Dan di antara sekian banyak nikmat yang diberikan-Nya, salah satu yang paling membahagiakan semalam adalah berada di dekat istri, menyaksikan perjalanan panjangnya dari suntikan ke ulekan, lalu melihatnya tersenyum ketika wajahnya muncul di layar televisi nasional.

Post a Comment

Previous Post Next Post