Menulis Aman di Zaman yang Mudah Terbakar



Suatu ketika, di sebuah pesta keluarga, saya berbincang dengan kakak sepupu. Di tengah obrolan santai itu, ia bercerita pernah membaca salah satu tulisan saya di media online. Saya mengira ia akan membahas isi tulisan tersebut. Ternyata yang ia soroti justru cara saya menulis. "Bagus, tapi terlalu halus," katanya. Sebelum saya sempat menjawab, ia menambahkan, "Sekarang ini, yang kasar saja belum tentu ditanggapi, apalagi kalau halus." Kalimat itu sederhana, tetapi terus mengendap dalam pikiran saya.

 

Barangkali ia tidak sepenuhnya salah. Hari ini kita hidup di ruang publik yang lebih mudah memviralkan kemarahan daripada kebijaksanaan. Tulisan yang meledak-ledak sering lebih cepat mendapat perhatian dibanding tulisan yang mengajak orang berpikir. Seolah-olah ukuran keberanian seorang penulis bukan lagi kualitas gagasannya, melainkan seberapa banyak orang yang berhasil dibuat tersinggung.

 

Dalam dunia jurnalistik kita mengenal 5W + 1H sebagai syarat agar sebuah tulisan utuh dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun menurut saya, ada satu unsur yang semakin penting untuk ditambahkan, yaitu keamanan. Bukan keamanan agar penulis berhenti mengkritik, melainkan keamanan agar kritik tidak berubah menjadi fitnah, tidak menyerempet SARA, tidak menjadi body shaming, tidak merendahkan martabat orang lain, dan tidak meninggalkan luka yang sebenarnya tidak perlu.

 

Menulis sejatinya bukan hanya soal keberanian mengungkapkan pendapat, tetapi juga keberanian menanggung akibat dari setiap kata yang kita pilih. Sebab setelah sebuah tulisan dipublikasikan, ia bukan lagi milik penulis. Ia akan dibaca dengan ribuan sudut pandang, ditafsirkan dengan beragam kepentingan, bahkan bisa digunakan untuk tujuan yang sama sekali tidak pernah kita maksudkan.

 

Karena itu, literasi tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis. Literasi harus menjadi cara memberdayakan masyarakat agar mampu membedakan kritik dari kebencian, fakta dari prasangka, serta kebebasan berpendapat dari kebebasan menyakiti. Masyarakat yang literat bukan masyarakat yang paling banyak berbicara, melainkan masyarakat yang paling bijak memilih kata.

 

Saya masih mengingat ucapan kakak sepupu itu. Mungkin benar, tulisan yang kasar lebih cepat terdengar. Namun saya tetap percaya, tulisan yang baik bukanlah tulisan yang paling keras suaranya, melainkan tulisan yang paling bertanggung jawab. Sebab tujuan akhir menulis bukan memenangkan perdebatan, melainkan menghadirkan kesadaran, dan dari kesadaran itulah pemberdayaan masyarakat dapat tumbuh dengan perlahan, tetapi bertahan lama.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post