Dalam kehidupan, kita sering terjebak melihat sesuatu dari
permukaannya saja. Karena mengenakan atribut yang sama, bekerja dalam program
yang sama, atau menyandang profesi yang sama, kita lalu menganggap semuanya
serupa. Padahal di balik kesamaan itu ada karakter yang berbeda, ada
pengorbanan yang berbeda, ada tanggung jawab yang berbeda, bahkan ada manfaat
yang berbeda yang diberikan kepada masyarakat.
Perumpamaan sederhananya seperti berlian, bacan, veros, dan
kerikil. Semuanya sama-sama batu. Namun tidak seorang pun akan mengatakan bahwa
nilai semuanya sama. Ada yang disimpan dengan penuh kehati-hatian, ada pula
yang berserakan di pinggir jalan. Bukan karena asal-usulnya berbeda jauh,
melainkan karena nilai dan makna yang melekat pada masing-masing juga berbeda.
Begitu pula dengan fasilitator pemberdayaan. Dari luar
mungkin terlihat sama. Sama-sama memegang surat tugas, sama-sama membuat
laporan, sama-sama mendampingi masyarakat, dan sama-sama mengejar target
program. Namun ketika masuk lebih dalam, kita akan menemukan bahwa sesama
fasilitator ternyata belum tentu serupa.
Ada fasilitator yang bekerja dalam diam, lebih banyak berada
di tengah masyarakat daripada di depan kamera. Ada yang rela menghabiskan
waktu, tenaga, bahkan pikirannya untuk memastikan kelompok dampingan tetap
berjalan. Ketika masalah muncul, ia hadir. Ketika masyarakat membutuhkan
penjelasan, ia datang. Ketika program mengalami hambatan, ia ikut mencari jalan
keluar. Ia mungkin tidak terkenal, tetapi keberadaannya dirasakan.
Namun ada pula fasilitator yang pandai berbicara tetapi
minim isi. Ada yang paling sering tampil di depan, tetapi menghilang ketika
keadaan menuntut keberanian untuk pasang badan. Ada yang gemar mengomentari
pekerjaan orang lain, seolah dirinya paling sempurna, padahal pekerjaannya
sendiri masih jauh dari sempurna. Ada yang lebih sibuk mencari muka daripada
mencari solusi. Ada yang lebih rajin membangun citra daripada membangun
masyarakat.
Bahkan dalam situasi tertentu, ketika tekanan datang dari
berbagai arah dan penilaian kinerja menjadi taruhan, terkadang muncul mereka
yang lebih memilih menyelamatkan diri sendiri daripada menjaga kebersamaan.
Tidak sedikit yang rela membiarkan rekan seperjuangannya menghadapi masalah
sendirian. Ada pula yang menjadikan kelemahan rekannya sebagai jalan untuk
memperoleh penilaian yang lebih baik bagi dirinya sendiri. Mereka lupa bahwa
keberhasilan program bukanlah hasil kerja satu orang, melainkan buah dari kerja
bersama.
Sebaliknya, ada fasilitator yang mungkin tidak dikenal luas,
tidak pandai mencari panggung, dan jarang dipuji. Namun jejak kerjanya
tertinggal di masyarakat. Ia hadir bukan untuk dilihat, tetapi untuk memberi
manfaat. Ia bekerja bukan untuk mendapat tepuk tangan, tetapi untuk memastikan
program benar-benar dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
Dari sini kita belajar bahwa identitas tidak dibentuk oleh
profesi semata. Menjadi fasilitator hanyalah sebuah nama. Nilainya tidak
ditentukan oleh seberapa sering tampil di depan, seberapa banyak berbicara
dalam rapat, atau seberapa pandai membangun citra. Nilainya ditentukan oleh apa
yang dikerjakan ketika tidak ada yang melihat, bagaimana ia bersikap ketika
menghadapi masalah, dan bagaimana ia memperlakukan masyarakat maupun rekan kerjanya.
Pada akhirnya, hal paling mendasar yang membedakan seorang
fasilitator dengan fasilitator lainnya adalah kejujuran, integritas, dan
kompetensi. Kejujuran membuatnya berani mengatakan yang benar meskipun tidak
selalu menguntungkan dirinya. Integritas membuatnya tetap teguh memegang
nilai-nilai yang diyakininya meskipun berada di bawah tekanan. Sementara
kompetensi membuatnya mampu bekerja, menyelesaikan persoalan, dan menghadirkan
manfaat nyata bagi masyarakat yang didampinginya.
Ketiga hal itulah yang tidak dapat dipalsukan oleh
pencitraan. Tidak dapat ditutupi oleh kepandaian berbicara. Tidak dapat
digantikan oleh kedekatan dengan atasan atau kemampuan membangun hubungan
dengan pihak tertentu. Sebab pada akhirnya masyarakat akan lebih percaya pada
hasil kerja daripada kata-kata, lebih menghargai pengabdian daripada
penampilan, dan lebih mengingat manfaat daripada pencitraan.
Karena itu, jangan terburu-buru menyamakan semua orang hanya
karena berada dalam profesi yang sama. Sebagaimana tidak semua batu memiliki
nilai yang sama, tidak semua fasilitator memiliki kualitas pengabdian yang sama
pula.
Kehidupan mengajarkan bahwa kesamaan status tidak selalu
melahirkan kesamaan nilai. Kesamaan profesi tidak selalu melahirkan kesamaan
karakter. Kesamaan tugas tidak selalu melahirkan kesamaan pengabdian.
Maka, ketika melihat seseorang menyandang profesi yang sama,
jangan hanya melihat atribut yang melekat padanya. Lihatlah kejujurannya.
Lihatlah integritasnya. Lihatlah kompetensinya. Karena di sanalah sesungguhnya
nilai seseorang dibentuk.
Karena itulah, sesama
fasilitator, belum tentu serupa.
Post a Comment