Belajarlah Mengaku Salah Tanpa Menambahkan “Tapi”

 


Ada kalanya kita bertemu orang yang tampak begitu lapang menerima kesalahan. “Iya, saya salah, tapi….” Kalimat itu kemudian berlanjut panjang. Kesalahannya memang diakui, tetapi segera dikecilkan. Tanggung jawabnya memang diterima, tetapi langsung dibagi kepada orang lain. “Presentasi saya memang ada kesalahan, cuma typo.” “Saya menerima disalahkan, tapi kawan saya juga harus diperlakukan sama.”

 

Sekilas, itu tampak seperti pengakuan. Padahal, jika direnungkan, sering kali “tapi” dan “cuma” menjadi jalan kecil yang disiapkan ego untuk melarikan diri. Kita ingin terlihat rendah hati karena sudah mengaku salah, tetapi pada saat yang sama belum sepenuhnya rela menanggung kesalahan itu. Mulut berkata, “Saya salah,” sementara ego berbisik, “Jangan salah-salah amat.”

 

Barangkali, kata “tapi” tidak selalu buruk. Dalam banyak keadaan, ia memang diperlukan. Namun ketika ia selalu hadir tepat setelah pengakuan kesalahan, kita patut bertanya kepada diri sendiri: apakah saya benar-benar sedang mengakui kesalahan, atau hanya sedang mencari cara agar kesalahan itu tampak lebih ringan?

 

Sebab orang yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri tidak sibuk membandingkan kesalahannya dengan kesalahan orang lain. Ketika diingatkan, ia tidak segera membuka daftar dosa kawan-kawannya. Ketika dikoreksi, ia tidak buru-buru mencari siapa yang juga pantas dikoreksi. Salah orang lain tetap salah. Tetapi kesalahan kita tidak akan menjadi benar hanya karena ternyata banyak orang melakukan kesalahan yang sama.

 

Mengaku salah tanpa syarat memang tidak mudah. Ada gengsi yang harus diturunkan. Ada harga diri yang kadang keliru kita jaga. Kita lebih nyaman mencari alasan daripada mengatakan, “Ya, saya keliru. Terima kasih sudah mengingatkan. Saya akan memperbaikinya.” Padahal, mungkin justru di situlah ukuran kedewasaan kita: bukan pada kemampuan selalu terlihat benar, tetapi pada keberanian tetap jujur ketika ternyata kita salah.

 

Pada akhirnya, menerima kesalahan dan memperbaikinya tanpa embel-embel adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri. Lebih jauh lagi, ia juga menjadi pengakuan bahwa manusia memang tidak diciptakan untuk selalu sempurna. Kita diberi kelebihan agar dapat bersyukur, dan diberi kekurangan agar tidak mudah meninggikan diri. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT., sedangkan manusia, setinggi apa pun jabatan, seluas apa pun pengetahuan, dan sebesar apa pun pengaruhnya, tetap memiliki ruang untuk keliru.

 

Maka, belajarlah mengaku salah tanpa menambahkan “tapi”. Tidak perlu selalu ada pembelaan. Tidak harus menunggu orang lain juga dipersalahkan. Tidak perlu mengecilkan kekeliruan dengan kata “cuma”. Jika salah, akui. Jika keliru, perbaiki. Jika diingatkan, berterima kasih.

 

Karena terkadang, satu kalimat paling jujur yang bisa menyelamatkan kita dari kesombongan adalah: “Iya, saya salah.”

Lalu berhenti di sana.

Tidak perlu ditambahkan “tapi.”

 

Post a Comment

Previous Post Next Post