Setiap bulan Agustus, biasanya
suasana kampung berubah. Bendera merah putih berkibar di hampir setiap rumah,
jalan dihias, anak-anak berlarian mengikuti lomba, sementara orang tua ikut
tertawa melihat tingkah mereka. Ada kegembiraan yang sederhana, tetapi terasa
hangat. Seolah kemerdekaan bukan hanya diperingati, tetapi benar-benar
dirasakan bersama.
Namun tahun ini, entah mengapa saya
merasakan sesuatu yang berbeda.
HUT RI ke-81 di lingkungan tempat
saya tinggal terasa lebih senyap. Dari tiga RT yang ada, hanya satu RT yang
mengadakan lomba. Dua RT lainnya nyaris tidak ada kegiatan. Bendera memang masih
terpasang, tetapi seadanya. Tidak ada keramaian seperti yang biasanya saya
lihat pada bulan Agustus.
Mungkin saya terlalu peka. Mungkin
juga ini hanya kebetulan.
Saya tidak ingin menggeneralisir
keadaan ini ke tempat lain. Bisa jadi di kampung sebelah, suasana kemerdekaan
justru jauh lebih meriah. Tetapi dari hati yang paling dalam, saya seperti
menangkap sebuah pesan kecil dari kesunyian itu: masyarakat mungkin sedang tidak baik-baik saja.
Bukan tidak cinta tanah air. Bukan
pula tidak menghargai kemerdekaan.
Barangkali sebagian orang sedang
lebih sibuk menghitung uang belanja daripada menghitung hadiah lomba. Lebih
sibuk memikirkan cicilan daripada membuat panggung hiburan. Lebih sibuk mencari
tambahan penghasilan daripada mengikuti rapat persiapan tujuhbelasan.
Sebab ketika kebutuhan hidup semakin
banyak sementara penghasilan terasa semakin sempit, kemeriahan memang bisa
menjadi sesuatu yang harus dipikirkan ulang.
Dulu, kita merayakan kemerdekaan
dengan lomba panjat pinang, balap karung, makan kerupuk, hiburan dan berbagai
kegiatan lainnya. Sekarang, mungkin sebagian masyarakat merayakannya dengan
cara yang jauh lebih sederhana.
Memasang bendera.
Memandangnya sebentar.
Kemudian kembali bekerja.
Dan mungkin, sebelum tidur, ada doa
yang tidak pernah terdengar oleh siapa pun: Semoga besok rezeki lebih baik.
Semoga anak-anak sehat. Semoga kebutuhan rumah tangga tercukupi. Semoga negeri
ini benar-benar membuat rakyatnya merasa merdeka.
Saya kemudian bertanya kepada diri
sendiri, mungkinkah cara kita memperingati kemerdekaan memang sedang bergeser?
Dari upacara menjadi doa. Dari
hiburan menjadi perenungan. Dari keramaian menjadi kesunyian.
Kalau dulu kita berteriak,
“Merdeka!”
Mungkin hari ini sebagian rakyat
cukup mengatakannya dalam hati.
Sebab bagi orang yang sedang
berjuang memenuhi kebutuhan hidup, kemerdekaan tidak selalu harus dirayakan
dengan pesta. Kadang kemerdekaan hanya ingin dirasakan dalam bentuk yang paling
sederhana: bisa makan dengan tenang,
bekerja dengan layak, membiayai sekolah anak, dan pulang ke rumah tanpa membawa
terlalu banyak kecemasan.
Maka jika Agustus tahun ini terasa
lebih sunyi, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa rakyat kehilangan
nasionalisme.
Bisa jadi mereka hanya sedang lelah.
Dan di balik kesunyian itu, merah
putih mungkin tetap berkibar. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu ramai, bahkan
mungkin dengan tiang seadanya.
Tetapi ia tetap merah putih.
Tetap menjadi simbol sebuah harapan.
Harapan agar kemerdekaan yang dulu
diperjuangkan dengan darah dan air mata, hari ini benar-benar sampai kepada
mereka yang setiap hari masih berjuang dengan keringat dan air mata.
Dirgahayu
Republik Indonesia ke-81.
Barangkali tahun ini kita tidak
banyak tertawa dalam merayakannya.
Tetapi semoga kita masih punya cukup
alasan untuk berharap.
Post a Comment