Kerja Ada, Cerita Tiada

 


Dalam pendampingan dan pemberdayaan masyarakat, saya sering menemukan sesuatu yang menarik. Di lapangan ternyata banyak inovasi terjadi. Ada cara-cara baru yang ditemukan, ada pendekatan yang diperbaiki, ada persoalan yang berhasil dicarikan jalan keluarnya. Namun setelah kegiatan selesai, sebagian inovasi itu ikut menghilang bersama berlalunya waktu.


Bukan karena inovasinya tidak penting. Justru sering kali karena kita tidak terbiasa mendokumentasikannya.


Saya pun merasa berada di dalam persoalan yang sama. Dalam bekerja mendampingi masyarakat, terkadang kita lebih mudah melakukan daripada menjelaskan apa yang sudah dilakukan. Ketika diminta mempresentasikan pengalaman atau menuangkannya menjadi sebuah tulisan, baru terasa bahwa menceritakan sebuah proses ternyata tidak semudah menjalankannya.


Persoalannya juga tidak selalu karena malas mendokumentasikan. Di lapangan, terkadang kita terkendala alat untuk merekam kegiatan. Tidak semua fasilitator selalu memiliki perangkat yang memadai untuk mengambil foto, video, atau membuat catatan secara cepat. Ditambah lagi, sebagian fasilitator masih gagap teknologi. Jangankan mengolah dokumentasi menjadi bahan presentasi atau tulisan, mengelola dokumentasi sederhana saja terkadang masih menjadi pekerjaan tersendiri.


Ada persoalan lain yang menurut saya justru lebih menarik. Sebagian fasilitator menganggap apa yang dilakukannya adalah hal biasa.


“Ah, itu kan cuma begitu saja.”


seperti itu sering muncul.


Padahal sesuatu yang dianggap biasa oleh pelakunya, belum tentu biasa bagi orang lain. Cara seorang fasilitator menghadapi masyarakat, menemukan pendekatan, menyelesaikan konflik, mengajak kelompok yang semula pasif menjadi aktif, atau mencari solusi atas persoalan lokal, bisa saja menjadi pengalaman berharga bagi fasilitator di tempat lain.


Karena merasa biasa saja, akhirnya tidak didokumentasikan. Karena tidak didokumentasikan, sulit diceritakan. Karena sulit diceritakan, pengalaman baik tersebut tidak banyak diketahui.


Di lapangan kita bisa berdiskusi, meyakinkan masyarakat, mencari jalan keluar, bahkan mencoba cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Tetapi ketika ditanya, “Apa inovasinya? Bagaimana prosesnya? Apa yang berubah setelah dilakukan?” tiba-tiba kita sibuk mencari kata-kata.


Hal yang sama sering saya temui ketika berdiskusi dengan sesama fasilitator. Ketika ditanya tentang pengalaman baik yang pernah dilakukan, jawabannya terkadang sangat sederhana: “Ya, waktu itu kami melakukan begini.”


Selesai.


Padahal kalau digali lebih dalam, ternyata di balik kalimat sederhana itu ada persoalan yang dihadapi, proses panjang bersama masyarakat, keputusan yang tidak mudah, cara pendekatan yang berbeda, sampai hasil yang cukup menarik.


Masalahnya, pengalaman itu sering hanya tersimpan di kepala pelakunya.


Menurut saya, di sinilah salah satu tantangan fasilitator. Kita tidak cukup hanya mampu bekerja di lapangan, tetapi juga perlu mampu mencatat, mendokumentasikan, dan menceritakan kembali apa yang sudah dilakukan.


Sebab pengalaman yang tidak dicatat akan sulit dipelajari orang lain. Inovasi yang tidak didokumentasikan akan sulit direplikasi. Dan praktik baik yang tidak pernah diceritakan, pada akhirnya hanya menjadi cerita pribadi.


Tentu kita tidak perlu menjadikan setiap kegiatan sebagai sesuatu yang harus dibesar-besarkan. Dokumentasi juga bukan berarti mencari panggung atau menunjukkan bahwa diri kita paling hebat.


Justru dokumentasi yang baik adalah cara sederhana untuk menjawab satu pertanyaan: apa yang sebenarnya terjadi di lapangan dan apa yang bisa dipelajari dari sana?


Saya kemudian berpikir, mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar pekerjaan sampai lupa menyimpan cerita dari pekerjaan itu sendiri.


Kita punya kegiatan. Kita punya pengalaman. Kita punya inovasi. Kita punya perubahan yang terjadi di masyarakat.


Tetapi ketika diminta menceritakannya secara sistematis, kita sering kehilangan jejaknya.


Kerja ada, cerita tiada.


Maka barangkali kemampuan fasilitator ke depan tidak hanya perlu diperkuat dalam hal pendampingan masyarakat, tetapi juga dalam hal dokumentasi, pemanfaatan teknologi sederhana, dan kemampuan menulis pengalaman baik.


Tidak harus kamera mahal. Tidak harus aplikasi yang rumit. Tidak harus tulisan yang hebat.


Yang penting ada kemauan untuk berhenti sejenak, melihat kembali apa yang sudah dilakukan, lalu mencatatnya.


Sebab sesuatu yang kita anggap biasa hari ini, bisa jadi justru menjadi pelajaran berharga bagi orang lain di kemudian hari.


Karena pengalaman yang hanya dilakukan akan berhenti sebagai pengalaman.


Tetapi pengalaman yang dicatat, direnungkan, dan dibagikan, bisa berubah menjadi pengetahuan.


Dan mungkin di situlah inovasi menemukan manfaat keduanya: bukan hanya ketika berhasil membantu menyelesaikan persoalan masyarakat, tetapi ketika pengalaman tersebut mampu menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang lebih baik.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post