Dalam
tulisan sebelumnya, saya pernah menyinggung tentang orang-orang yang tampak
begitu lapang mengakui kesalahan. “Iya, saya salah, tapi….” Atau, “Iya, saya keliru, cuma….” Setelah itu, kalimatnya biasanya menjadi panjang.
Kesalahan memang diakui, tetapi segera dikecilkan. Tanggung jawab memang
diterima, tetapi pelan-pelan dibagi kepada orang lain.
Ternyata,
kata tapi dan cuma bukan hanya sering dipakai untuk
mengurangi bobot sebuah kesalahan. Dalam kehidupan sehari-hari, terutama di
tempat kerja atau dalam sebuah organisasi, dua kata itu juga kerap menjadi
pelengkap ketika seorang atasan hendak memberikan penghargaan kepada
bawahannya.
“Kalian
memang masih banyak kekurangan, tapi
setidaknya sudah berjuang.”
“Nilai
pengetahuan kalian memang kecil, cuma
nilai kostumnya cukup bagus.”
Kalimat
seperti ini, sepintas, terdengar biasa. Bahkan mungkin dianggap sebagai bentuk
evaluasi yang objektif. Ada apresiasi, ada koreksi. Ada pujian, ada catatan.
Lengkap.
Namun,
persoalannya kadang bukan terletak pada koreksinya. Kritik memang diperlukan.
Evaluasi bahkan tidak boleh dihilangkan. Persoalannya adalah ketika setiap
penghargaan selalu terasa belum selesai, karena buru-buru disusul oleh kata tapi atau cuma.
“Kamu
sudah bekerja dengan baik, tapi….”
“Kalian
sudah berusaha keras, cuma….”
Dan
seperti biasa, setelah kata tapi,
perhatian kita berpindah. Kalimat sebelumnya perlahan kehilangan arti. Pujian
yang baru saja diberikan seperti ditarik kembali. Yang tersisa dalam ingatan
bukan “kamu sudah bekerja dengan baik”, melainkan daftar kekurangan yang
menyusul setelahnya.
Begitulah
nasib sebagian pujian di bawah kepemimpinan tertentu: datang sebentar, lalu
pulang sebelum sempat membuat orang merasa dihargai.
Menurut
saya, atasan yang terlalu sering menggunakan pola seperti ini perlu melakukan
refleksi. Jangan-jangan, keinginan untuk selalu terlihat objektif justru
berubah menjadi kebiasaan menggunakan standar yang tidak seimbang. Ketika
bawahan melakukan kesalahan, kesalahannya dibahas panjang lebar. Tetapi ketika
bawahan berhasil, keberhasilannya hanya diberi ruang beberapa kalimat sebelum
segera dicari kekurangannya.
Bawahan
diminta bekerja keras, tetapi hasil kerja kerasnya selalu dianggap belum cukup.
Mereka diminta percaya diri, tetapi setiap kemajuan selalu disambut dengan
pengingat bahwa masih banyak yang kurang. Mereka diminta berinisiatif, tetapi
ketika berhasil, penghargaan diberikan sambil menyiapkan koreksi.
Lalu
kita bertanya-tanya, mengapa mereka tidak bersemangat?
Barangkali
bukan karena mereka tidak ingin maju. Bisa jadi mereka hanya lelah bekerja di
tempat di mana keberhasilan selalu dianggap belum layak untuk dirayakan.
Atasan
yang tegas tentu bukan atasan yang harus selalu memuji. Tidak semua pekerjaan
harus disambut tepuk tangan. Tidak semua hasil harus disebut sempurna. Tetapi
ketegasan tidak sama dengan pelit menghargai. Kritis juga tidak berarti selalu
berhasil menemukan kekurangan, bahkan ketika orang lain sedang melakukan
sesuatu yang patut diapresiasi.
Ada
waktunya mengoreksi. Ada waktunya menegur. Ada waktunya mengevaluasi. Tetapi
ada pula waktunya untuk mengatakan, “Terima
kasih. Kalian sudah berusaha.”
Titik.
Tidak
perlu buru-buru menambahkan tapi.
Tidak
perlu merasa penghargaan menjadi berlebihan hanya karena kita tidak segera
menyisipkan cuma.
Kekurangan
tetap bisa dibicarakan pada waktunya. Evaluasi tetap bisa dilakukan dengan
tegas. Bahkan, justru karena kita menghargai apa yang telah dilakukan dengan
baik, koreksi yang diberikan setelahnya bisa lebih mudah diterima.
Sebab
mendidik bukan hanya soal menunjukkan di mana orang lain salah. Mend idik juga
berarti membantu mereka memahami apa yang sudah benar, agar bagian itu tidak
hilang dan bisa menjadi kekuatan untuk memperbaiki kekurangan.
Jangan
sampai kita terlalu sibuk mencari apa yang belum sempurna, sampai lupa mengakui
bahwa ada orang-orang yang sudah berusaha sungguh-sungguh.
Karena
terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukan pujian panjang dan berlebihan. Cukup
satu kalimat sederhana, yang diucapkan dengan tulus dan tidak langsung
dibatalkan oleh kalimat berikutnya.
“Terima kasih sudah berusaha.”
Sudah.
Biarkan
kalimat itu selesai.
Tidak
semua penghargaan harus diberi catatan kaki.
Tidak
semua pujian harus segera dicari “tapinya”.
Sebab
boleh jadi, suatu hari nanti, yang membuat seseorang berhenti berusaha bukan
karena ia tidak mampu. Tetapi karena terlalu lama mendengar kata-kata
penghargaan yang selalu terdengar seperti ini:
“Terima kasih sudah berusaha, tapi….”
إرسال تعليق