Tanjakan Jalan Pekon Sukarame Itu Janji

 


Kadang saya berpikir...

Apa gunanya pemerintah jika rakyat harus jadi tukang tambal Jalan menggunakan aspal atau semen yang mereka bayar dari keringatnya sendiri?

 

Pemerintah itu, katanya seperti hujan di musim kemarau —

selalu dinanti, tapi tak pernah pasti.

Mereka menanam janji di atas kertas tebal,

lalu membiarkannya layu di lubang-lubang jalan yang menganga.

Di sanalah janji itu jatuh — bukan pada tempatnya,

melainkan pada rakyat yang sabar tapi lelah.

 

Di negeri yang katanya beradab,

jalan rusak bukan lagi soal anggaran,

tapi soal empati yang ikut mengelupas

bersama nurani yang dipoles demi jabatan.

Luka jalan itu adalah luka sosial —

tapi mereka hanya sibuk merancang podium,

bukan memahami jeritan batu,

atau rintihan semen yang dilangkahi dengan acuh.

 

Bagi mereka, jalan kampung itu cuma garis kecil di laporan proyek,

bukan urat nadi kehidupan.

Mereka tak tahu betapa getirnya seorang anak

berjalan menanjak dengan sepatu basah dan lembar nilai di genggaman.

Mereka tak tahu, karena mereka tak pernah menyapa tanah.

Tanah itu terlalu biasa untuk sepatu kulit mereka.

 

Negara ini, ya...

Negara ini lebih pandai membangun monumen kemegahan

daripada menanam keadilan dalam bentuk sederhana.

Dan saat rakyat memilih bergotong royong,

bukan itu tanda kuatnya bangsa —

tapi tanda bahwa pemerintah telah pensiun

tanpa surat pengunduran diri.

 

Sukarame, katanya kecil.

Tapi hanya bagi mereka yang hidup di grafik dan gaji tetap.

Bagi petani, ia adalah lintasan harapan.

Bagi pelajar, ia adalah jalan menuju mimpi.

Bagi ibu-ibu, ia adalah jalur pulang dari pasar dan puskesmas.

Tapi suara mereka tak cukup nyaring

untuk menembus dinding yang dibangun dari kebekuan hati.

 

Jika janji adalah jalan,

maka Sukarame telah lama ditinggalkan.

Yang melintas kini hanya retorika,

indah di mulut, kosong di makna.

Seperti senja di layar televisi:

memukau dilihat,

tapi tak pernah menyentuh tanah yang diinjak rakyat.

 

Dan kita, yang saban hari melintasi jalan itu,

bukan hanya membawa hasil kebun atau tubuh letih —

tapi juga membawa pelajaran tentang diam:

Diam pemerintah,

dan diam kita yang perlahan berubah menjadi doa—

doa agar suatu hari nanti,

jalan ini tak hanya ditambal batu,

tapi juga ditambal keadilan.

 

Lamunan Malam Jum'at..

Kemiling, 31/07/2025

Post a Comment

Previous Post Next Post