Di Balik Kata “Kami Menghadapi Masyarakat”



Ada kalimat yang terdengar sederhana, bahkan terasa benar, ketika diucapkan, *“kami yang menghadapi masyarakat.”* Kalimat itu tidak salah. Ia lahir dari posisi yang memang berada paling dekat dengan denyut kehidupan warga, dari ruang yang setiap hari menerima tanya, harap, dan kadang juga keluh yang tak sempat dituliskan.

 

Namun kebenaran, jika tidak disertai kejujuran pada sikap, perlahan bisa berubah menjadi sekadar tameng.

 

Sebab di balik kalimat itu, ada kenyataan yang kerap luput diceritakan, bahwa koordinasi bukan tidak pernah dilakukan, bahwa ruang komunikasi sudah lama dibuka, bahkan lebih dari sekali, penjelasan pernah disampaikan dengan cukup terang, dan jalur struktural telah dilalui sebagaimana mestinya, meski pada akhirnya semua itu seperti tak pernah benar-benar dianggap ada.

 

Lalu mengapa masih terdengar, *“kami tidak dilibatkan”?*

 

Pertanyaan ini tidak lagi sederhana. Ia mulai menyentuh sesuatu yang lebih dalam, tentang bagaimana kita memaknai peran, tentang bagaimana kita menempatkan diri dalam kerja bersama.

 

Ada yang merasa bahwa dilibatkan harus selalu dalam bentuk hadir di ruang rapat, disebut dalam forum, atau duduk dalam lingkaran perencanaan. Padahal tidak semua ruang bisa memuat semua orang, tidak semua forum mampu menampung seluruh kepentingan, dan tidak semua proses harus berhenti hanya untuk memastikan semua merasa diundang secara langsung.

 

Ada keterbatasan ruang, ada batas waktu, dan ada mekanisme yang berjalan melalui pimpinan di atasnya. Itu bukan pengabaian, itu cara sistem bekerja.

 

Di titik ini, kalimat *“kami yang menghadapi masyarakat”* seharusnya tidak berhenti sebagai alasan. Ia semestinya menjelma menjadi gerak, menjadi langkah untuk *jemput bola*, turun bersama ke masyarakat, melihat langsung apa yang sedang dikerjakan, menyapa apa yang sedang dibangun, dan menjawab apa yang memang perlu dijelaskan.

 

Sebab bukankah yang paling dekat dengan masyarakat tidak seharusnya menunggu, tetapi mendekat?

 

Ironinya, energi justru habis untuk mempertanyakan mengapa tidak diundang dalam perencanaan, alih-alih memastikan kehadiran di tengah masyarakat itu sendiri. Seolah-olah kehormatan lebih penting daripada kebermanfaatan, seolah-olah diakui dalam forum lebih utama daripada hadir di lapangan.

 

Di sanalah kalimat itu mulai terasa berbeda. Bukan lagi sebagai bentuk tanggung jawab, tapi perlahan berubah menjadi pembenaran.

 

Dan ketika proses yang seharusnya bisa berjalan menjadi tersendat, ketika koordinasi yang sudah dilakukan dianggap tidak pernah ada, ketika waktu publik habis hanya untuk menunggu, maka wajar jika muncul tanya yang lebih jujur, meski terasa tidak nyaman.

 

Apakah ini benar tentang keterlibatan, atau sekadar tentang keinginan untuk dihormati?

 

Tulisan ini tidak hendak menunjuk siapa pun. Ia hanya ingin mengajak kita melihat lebih jernih, bahwa birokrasi yang ruwet tidak selalu lahir dari aturan yang rumit, tapi seringkali tumbuh dari sikap yang gemar merumitkan.

 

Dan di tengah semua itu, masyarakat tetap menunggu, menunggu jawaban yang sederhana, menunggu kepastian yang tidak berbelit, menunggu kehadiran yang tidak bersyarat.

 

Maka mungkin kita perlu mengingat kembali, bahwa menghadapi masyarakat bukan hanya soal siapa yang paling sering disebut, tapi siapa yang benar-benar hadir.

 

Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar kalimat *“kami yang menghadapi”*, tetapi langkah nyata yang bisa mereka rasakan.

Post a Comment

Previous Post Next Post