Gunung Pesagi tidak pernah bersuara. Ia berdiri sebagai punggung
tertinggi di Lampung, memikul hutan, hujan, dan harapan manusia yang hidup jauh
di bawahnya. Dari tubuhnya yang hijau, air dilepaskan perlahan—tidak tergesa,
tidak rakus—agar sungai tetap mengalir dengan tertib dan tanah tetap memiliki
daya tahan. Pesagi tidak menuntut pujian. Ia hanya membutuhkan perlindungan.
Namun justru di situlah persoalannya: terlalu lama perlindungan itu digantikan
oleh diam.
Dari punggung Pesagi mengalir dua urat kehidupan yang menentukan nasib
banyak wilayah. Way Ketuban turun dari Kecamatan Balik Bukit, melewati Batu
Brak, Belalau, Bandar Negeri Suoh, Suoh, hingga bermuara di Kecamatan Semaka,
Kabupaten Tanggamus. Sementara Way Rekuk mengambil jalur lain, mengalir ke
Kecamatan Sukau dan terus menuju Kota Batu, Kabupaten OKU Selatan, Sumatra
Selatan. Dua aliran ini berbeda arah, tetapi sama-sama bergantung pada utuh
atau rapuhnya hutan di hulu.
Pada pagi-pagi tertentu di Way Mengaku, ketika kabut belum turun dan
matahari masih jujur, Gunung Pesagi memperlihatkan wajahnya tanpa penutup. Dari
balkon lantai tiga Hotel Astama, terlihat jelas ladang-ladang yang telah
melangkah melewati batas. Hutan lindung kehilangan garis tegasnya. Hijau yang
seharusnya menyatu terbelah oleh tanah terbuka. Itu bukan cerita, bukan asumsi.
Itu luka yang bisa dilihat oleh siapa pun yang bersedia membuka mata.
Pesagi tetap diam.
Dan diam itu perlahan menjadi kebiasaan kita.
Di tengah kerusakan tersebut, beredar kabar yang kerap terdengar di
ruang-ruang percakapan warga. Perambah berani masuk hingga kawasan hutan
lindung karena merasa aman. Disebut-sebut ada oknum aparat yang membekingi.
Benar atau tidaknya kabar itu perlu dibuktikan secara hukum, namun jejak
pembiarannya tercermin jelas pada kondisi hutan hari ini. Kerusakan yang terus
meluas menandakan bahwa pengawasan belum berjalan sebagaimana mestinya.
Karena itu, upaya penyelamatan Gunung Pesagi tidak cukup berhenti pada
imbauan. Penertiban terhadap aktivitas perambahan harus dilakukan secara
konsisten. Hutan yang telah ditebang perlu dipulihkan kembali melalui penanaman
ulang yang terencana. Namun langkah tersebut harus berjalan seiring dengan
penegakan hukum yang adil dan terbuka, termasuk terhadap oknum yang terbukti
membekingi pelanggaran. Tanpa ketegasan, upaya pemulihan hanya akan menjadi
rutinitas tanpa hasil.
Menjaga Pesagi juga berarti menata cara kita berkunjung. Aktivitas
pendakian perlu dikelola dengan prinsip tanggung jawab. Setiap pendaki wajib
menjaga pohon tetap berdiri dan tidak meninggalkan sampah dalam bentuk apa pun.
Para pihak terkait terutama kelompok sadar wisata memiliki peran penting untuk
memastikan hal ini berjalan, mulai dari pendataan potensi sampah yang dibawa
setiap pendaki hingga memastikan seluruhnya dibawa kembali saat turun. Gunung
bukan ruang bebas tanpa aturan, melainkan kawasan yang harus dijaga dengan
disiplin dan kesadaran bersama.
Sejarah telah berkali-kali memberi peringatan. Aceh, Sumatera Utara,
dan Sumatera Barat hari ini menjadi contoh bagaimana kerusakan hutan berujung
pada banjir bandang dan longsor yang merenggut banyak hal. Bencana tidak datang
tiba-tiba. Ia tumbuh dari akumulasi kelalaian yang dibiarkan terlalu lama.
Jika suatu hari Gunung Pesagi di arah Balik Bukit mengalami longsor,
dampaknya tidak akan berhenti di Pekon Bahway. Nama Bahway—bawah air—bukan
sekadar cerita lama tentang gempa Krakatau. Air dan lumpur akan mengikuti
jalurnya sendiri. Way Ketuban akan membawa ancaman ke Balik Bukit, Batu Brak,
Belalau, Bandar Negeri Suoh, Suoh, hingga Semaka di Tanggamus. Way Rekuk akan
mengalirkan dampak ke Sukau dan Kota Batu di OKU Selatan. Air tidak mengenal
batas wilayah, dan lumpur tidak membedakan siapa yang lalai dan siapa yang
tidak.
Karena itu, langkah hari ini harus diambil dengan kesungguhan.
Perambahan harus dihentikan, hutan dipulihkan, pendakian ditata, dan hukum
ditegakkan. Semua itu bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk melindungi.
Gunung Pesagi tidak meminta kita berbicara keras. Ia hanya berharap
kita berhenti diam dan mulai bertindak.
Selama kita masih diberi waktu, menjaga Pesagi berarti menjaga masa
depan. Sebab jika diam terus dipelihara, maka alam akan memilih cara sendiri
untuk mengingatkan—dan saat itu, sering kali sudah terlambat.

Post a Comment