Saya belajar bahwa
pendidikan warga tidak pernah dimulai dari menara. Ia bermula dari rumah—dari
daun pintu yang sering dilalui kaki-kaki lelah, dari ruang tamu yang menyimpan
cerita hidup, dari percakapan yang tumbuh tanpa jadwal resmi. Di sanalah
belajar menemukan bentuknya yang paling jujur, sebelum ia dibingkai oleh target
dan laporan.
Saya pernah duduk di
ruang tamu sebuah rumah warga. Lantainya beralas tikar, dindingnya dipenuhi
kalender lama dan foto keluarga yang warnanya mulai pudar. Tidak ada meja
panjang, tidak ada kursi berderet rapi. Kami duduk melingkar, sebagian
bersandar pada dinding, sebagian lagi memeluk lutut. Di ruang sesederhana itu,
saya mulai memahami: pendidikan tidak membutuhkan ketinggian untuk bermakna—ia
membutuhkan keberanian untuk hadir.
Sebagai fasilitator, saya
datang dengan niat baik dan persiapan yang dianggap cukup. Materi telah
disusun, tujuan dirancang, alur kegiatan terasa rapi di kepala. Namun rumah
warga tidak pernah tunduk pada skenario. Ketika cerita-cerita hidup mulai
mengalir—tentang usaha kecil yang tersendat, tentang hutang yang membelit,
tentang kecemasan masa depan anak—rencana itu runtuh perlahan. Dari runtuhan
itulah proses belajar justru menemukan jalannya.
Sebagai media, saya
menaruh beberapa lembar plano di daun pintu yang kebetulan ada pakunya. Pintu
itu bukan papan tulis, bukan pula simbol formal pelatihan. Ia bagian dari
rumah—tempat orang keluar-masuk, tempat batas antara ruang dalam dan dunia luar
berada. Di sanalah plano digantung, menegaskan bahwa belajar tidak pernah
terpisah dari kehidupan sehari-hari.
Kata-kata ditulis dengan
tangan yang berbeda-beda. Tidak semuanya rapi, tidak semuanya lengkap. Ada
keluhan singkat, ada harapan panjang, ada kegelisahan yang hanya ditandai satu
kata. Daun pintu menjadi saksi bahwa pengetahuan tidak selalu lahir dari ruang
yang steril, melainkan dari rumah yang penuh cerita dan keterbatasan.
Di titik itu saya sadar,
daun pintu adalah metafora pendidikan warga itu sendiri. Ia bukan tembok yang
menghalangi, melainkan ambang yang mengundang. Pendidikan tidak memaksa warga
masuk ke dalam sistem yang asing, tetapi berdiri di batas—menyambut pengalaman
mereka, lalu membantu menemukan maknanya bersama-sama.
Saya memilih duduk. Duduk
sejajar, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin. Relasi setara
bukan jargon pelatihan, melainkan syarat agar percakapan berlangsung tanpa rasa
takut. Warga belajar tidak membutuhkan fasilitator yang paling tahu, tetapi
mitra yang bersedia mendengar tanpa tergesa menyimpulkan.
Tujuan pelatihan pun
tidak lagi datang dari proposal. Ia lahir dari apa yang tertulis di plano dan
dari apa yang terucap di ruang tamu itu: keinginan agar penghasilan lebih
stabil, agar usaha kecil tidak selalu goyah, agar anak-anak tetap bisa sekolah
tanpa rasa cemas. Ketika warga melihat kata-kata mereka sendiri tergantung di
daun pintu rumahnya, tujuan belajar berhenti menjadi abstrak. Ia menjelma
menjadi kesepakatan yang hidup.
Di rumah warga, saya
belajar bahwa setiap orang adalah sumber belajar. Pengalaman hidup menjadi teks
utama; fasilitator hanya menjaga alur agar pengalaman-pengalaman itu saling
terhubung. Percakapan mengalir tanpa hirarki—kadang berulang, kadang berhenti dalam
diam panjang. Namun justru di sanalah makna bekerja, pelan dan tidak memaksa.
Belajar tanpa menara
bukan berarti menolak pengetahuan, melainkan menurunkannya agar sejajar dengan
kehidupan. Menemukan makna lewat percakapan adalah pengakuan bahwa pendidikan
warga tumbuh bukan dari instruksi, melainkan dari perjumpaan manusia yang
saling percaya.
Selama pelatihan masih
diperlakukan sebagai proyek yang harus menghabiskan anggaran dan menutup
laporan, pendidikan warga akan terus berdiri di kejauhan—tinggi, rapi, dan
asing. Ia lebih sibuk membangun menara daripada memahami rumah, lebih setia
pada jadwal daripada pada percakapan. Barangkali sudah waktunya kebijakan turun
dari ketinggian, berdiri di daun pintu kehidupan warga, dan belajar mendengar
sebelum merasa perlu mengajar.
إرسال تعليق