Di banyak tempat, desa masih diperlakukan sebagai halaman belakang negara: jauh dari pusat keputusan, dekat dengan janji. Tetapi sebuah gambar sederhana tentang nilai strategis BUMDes justru membantah anggapan itu. Ia bukan sekadar diagram, melainkan peta kesadaran. Peta tentang bagaimana desa seharusnya membaca dirinya sendiri—utuh, jujur, dan berani.
Di pusat lingkaran itu tertulis satu nama BUMDes. Nama yang terdengar
sederhana, tetapi dikelilingi oleh gagasan-gagasan keras: peluang usaha, aset
desa, dan kebutuhan sosial-ekologi. Tiga lingkaran yang saling bertaut, tidak
berdiri sendiri, tidak saling meniadakan. Seperti kehidupan desa itu
sendiri—selalu berada di antara kebutuhan hidup, keterbatasan alam, dan harapan
masa depan.
Peluang usaha di desa tidak lahir dari angan-angan. Ia tumbuh dari
potensi lokal yang dikenali, dirawat, dan dikelola. Pasar bukan sesuatu yang
selalu jauh; ia bisa dijangkau ketika desa memahami apa yang ia miliki.
Pertumbuhan ekonomi, dalam konteks ini, bukan sekadar grafik menanjak,
melainkan denyut aktivitas warga: hasil panen yang terserap, produk yang
dihargai, kerja yang memberi martabat.
Namun peluang usaha akan rapuh jika tercerabut dari aset desa. Tanah,
budaya, sumber daya alam, dan manusia bukan sekadar daftar inventaris. Mereka
adalah identitas. Ketika aset hanya dilihat sebagai komoditas, desa kehilangan
pijakan moralnya. Tetapi ketika aset dikelola dengan kesadaran dan
keberpihakan, desa memiliki daya tawar. Ia tidak lagi menunggu, tetapi berdiri.
Lingkaran yang sering diabaikan justru yang paling menentukan: kebutuhan
sosial dan ekologi. Desa bukan pabrik, dan BUMDes bukan mesin uang semata. Ada
kesejahteraan yang harus dijaga, ada alam yang tidak boleh diperas sampai
kering, ada lapangan kerja yang bukan sekadar angka serapan, tetapi ruang hidup
yang layak. Ramah lingkungan, adil secara sosial, dan berkelanjutan bukan
jargon—ia adalah batas etik.
Di titik inilah sebuah BUMDes menemukan maknanya. Ia bukan hanya badan
usaha, melainkan simpul tanggung jawab. Tempat di mana ekonomi dipaksa
berdialog dengan nurani, di mana pertumbuhan harus berdamai dengan
keberlanjutan. Tidak selalu harmonis, sering kali tegang, tetapi itulah proses
kedewasaan.
Ungkapan itu, jika dibaca lebih dalam, adalah kritik sunyi terhadap cara
kita membangun desa selama ini. Terlalu sering kita mendorong usaha tanpa
menimbang dampak, mengejar aset tanpa memuliakan manusia, dan menjanjikan
kesejahteraan sambil mengorbankan alam. Ia seolah mengingatkan: pembangunan
desa tidak boleh membabi buta.
Pada akhirnya, BUMDes bukan sekadar usaha. Ia adalah cara desa menolak
pasrah. Cara desa mengatakan bahwa ia mampu mengelola dirinya sendiri—dengan
akal sehat, dengan etika, dan dengan keberanian. Jika ini dijaga, maka BUMDes
bukan hanya instrumen ekonomi, melainkan penanda bahwa desa sedang tumbuh
dewasa.
إرسال تعليق