Di banyak ruang rapat, kata usaha kerap dibicarakan seperti mesin: ditekan, dipacu, diperas. Yang dihitung grafik. Yang dipuja angka. Yang dikorbankan sering kali manusia dan alam. Di titik inilah saya merasa perlu berhenti sejenak—menarik napas—lalu menengok sebuah cara pandang yang jarang diberi ruang: bahwa usaha seharusnya bertumbuh bersama, bukan sendirian.
Bukan sekadar model. Melainkan sikap.
Dalam ruang itu, ada satu pusat yang tak menyebut dirinya apa-apa. Ia
bukan pemilik segalanya, bukan pula penguasa. Ia hanya simpul. Titik temu.
Sebuah kesadaran yang mengikat peluang usaha, kebutuhan sosial-ekologis, dan
aset kelompok dalam satu tarikan napas yang sama. Tiga hal yang sering kita
pisahkan, padahal mestinya saling menopang—atau sama-sama runtuh.
Pada sisi peluang usaha, kita bicara tentang potensi lokal, pertumbuhan
ekonomi, dan kemampuan menjangkau pasar. Namun etika mengingatkan: potensi
lokal bukan bahan mentah untuk dikeruk, melainkan titipan yang harus dijaga.
Pasar bukan hanya ruang transaksi, tetapi tempat bertemunya nilai dan tanggung
jawab. Pertumbuhan ekonomi yang tercerabut dari konteks hanya akan melahirkan
statistik, bukan kesejahteraan.
Lalu kita masuk ke wilayah yang kerap dianggap beban: kebutuhan sosial
dan ekologis. Ramah lingkungan. Kesejahteraan. Lapangan pekerjaan. Ini bukan
tambahan. Ini fondasi. Usaha yang abai pada lingkungan sejatinya sedang
menabung bencana. Usaha yang tak membuka kerja hanya sedang memindahkan
kemiskinan dari satu tangan ke tangan lain. Di sini etika berdiri sebagai
penyeimbang: alam bukan musuh usaha, dan manusia bukan sekadar pasar.
Di sisi lain, ada aset kelompok: sumber daya alam, sumber daya manusia,
dan budaya. Tiga hal yang sering dielu-elukan dalam pidato, tapi tercecer dalam
praktik. Budaya direduksi jadi slogan. Manusia diperas tenaganya, lupa
ditumbuhkan martabatnya. Alam dikuras tanpa jeda. Padahal usaha hanya akan
berumur panjang bila aset bersama diperlakukan sebagai subjek, bukan objek.
Yang kerap membuat konsep ini terasa tidak nyaman justru adalah tiga kata
sederhana: akuntabilitas, partisipatif, transparan. Bagi mereka yang gemar
jalan pintas, kata-kata ini terdengar seperti penghambat. Padahal tanpanya,
usaha berubah menjadi ruang manipulasi, program menjelma proyek elitis, dan
kepercayaan mati perlahan tanpa suara.
Usaha yang beretika mengajarkan satu hal penting: keuntungan bukan tujuan
akhir, melainkan konsekuensi dari tanggung jawab yang dijalankan dengan jujur.
Tanggung jawab kepada investor, kepada warga, kepada tanah tempat usaha itu
berpijak, dan kepada nilai yang diwariskan.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti mengagungkan usaha yang tumbuh cepat
namun rapuh secara moral. Lebih baik usaha yang bertumbuh pelan, berakar kuat,
dan tahu batas. Usaha yang hidup karena lingkungannya hidup, dan bertahan
karena kepercayaan dijaga.
Di situlah usaha menemukan martabatnya. Dan pembangunan, akhirnya,
menemukan akalnya.
إرسال تعليق