Ketika Desa Dibangun Tanpa Mendengar Perempuan



Desa sering dibangun dengan suara yang lantang,

namun telinganya tak selalu terbuka.

 

Rapat demi rapat digelar, keputusan demi keputusan diambil, program disusun rapi dalam tabel dan laporan. Tetapi di balik semua itu, ada suara yang kerap tertinggal—bukan karena tak ingin bicara, melainkan karena tak pernah benar-benar diberi ruang untuk didengar.

 

Perempuan hadir di banyak ruang pembangunan desa, namun sering hanya sebagai angka kehadiran. Tubuhnya ada, pikirannya tertahan, hatinya dipinggirkan. Ia ikut rapat, tetapi suaranya tak dicatat. Ia menyimak, tetapi pendapatnya sering dianggap selesai bahkan sebelum dimulai. Situasi ini jarang disebut sebagai ketimpangan. Ia lebih sering disamarkan sebagai kebiasaan, adat, atau sesuatu yang “sudah dari dulu begitu”.

 

Padahal, menghadirkan perempuan dalam pembangunan desa bukan semata soal mengisi kursi kosong. Ia adalah tentang membuka ruang bagi **pikiran dan hati perempuan** untuk menyuarakan kebutuhan yang sungguh-sungguh mereka alami—tentang dapur yang kering air bersihnya, tentang anak yang jauh dari layanan pendidikan, tentang kesehatan yang kerap dikorbankan demi bertahan hidup. Tanpa itu, partisipasi hanya menjadi formalitas, dan pembangunan kehilangan jiwanya.

 

Kesetaraan gender, dalam konteks desa, bukan upaya menukar peran atau menghapus tradisi. Ia bukan pula seruan dari luar yang hendak mengacak-acak tatanan. Kesetaraan gender adalah ikhtiar memulihkan keadilan—tentang akses yang dibuka, kesempatan yang dibagi, dan keputusan yang tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kepedulian dan kemampuan. Ia adalah fondasi agar pembangunan tidak hanya tumbuh tinggi, tetapi juga berakar kuat.

 

Pengalaman perempuan di desa menyatu dengan denyut kehidupan sehari-hari: pangan yang diolah, air yang dijaga, anak yang dibesarkan, dan relasi sosial yang dirawat. Ketika pengalaman ini tak masuk dalam perencanaan, pembangunan mudah terjebak pada proyek-proyek yang tampak megah, tetapi jauh dari kebutuhan nyata. Ia bergerak cepat, namun rapuh. Ia berdiri, tetapi mudah tumbang.

 

Tak jarang, pembicaraan tentang feminisme memunculkan jarak. Istilah ini terdengar asing, bahkan menakutkan, seolah ia datang membawa ancaman. Jika istilah feminisme menimbulkan perdebatan, hal itu wajar. Namun yang sedang dibicarakan di sini bukan soal label, melainkan soal keadilan: tentang siapa yang dilibatkan, siapa yang didengar, dan siapa yang selama ini terlewatkan dalam proses pembangunan desa. Bukan nama yang dipersoalkan, melainkan kenyataan yang dialami.

 

Di sinilah pendamping desa berdiri pada simpul yang menentukan. Pendamping bukan sekadar pelaksana program atau penjaga administrasi. Ia adalah jembatan antara kebijakan dan kehidupan. Di desa-desa yang masih menyimpan bias gender, pendamping tak bisa hadir dengan suara keras dan istilah rumit. Yang dibutuhkan justru kepekaan—membaca relasi kuasa, memahami struktur sosial, dan menemukan bahasa yang akrab dengan nilai-nilai setempat.

 

Pendamping perlu memulai dari hal-hal yang disepakati bersama: kesejahteraan keluarga, masa depan anak, keberlanjutan desa. Dari sanalah kesetaraan diperkenalkan, bukan sebagai agenda asing, melainkan sebagai jalan agar pembangunan benar-benar menyentuh kehidupan. Bukan melawan budaya, melainkan mengajaknya berjalan lebih adil.

 

Saat musyawarah berlangsung, peran pendamping menjadi semakin sunyi namun penting. Membuka ruang ketika perempuan ragu berbicara. Menjaga agar suara mereka tidak terpotong. Mengulang pendapat yang nyaris hilang agar diakui sebagai bagian dari keputusan bersama. Tindakan-tindakan kecil ini sering kali lebih bermakna daripada pidato panjang tentang partisipasi.

 

Pendamping yang peka tahu bahwa netralitas di tengah ketimpangan bukanlah keadilan, melainkan pembiaran. Kesadaran gender, dalam hal ini, bukan sikap ideologis, tetapi **cara membaca realitas**—agar pembangunan tidak dijalankan dengan mata tertutup dan hati yang tergesa.

 

Desa sejatinya tidak kekurangan program.

Yang sering kurang adalah keberanian untuk mendengar.

 

Selama perempuan hanya dihadirkan sebagai pelengkap, pembangunan akan terus berjalan tanpa mendengar separuh denyut kehidupan desa itu sendiri. Dan pembangunan yang menolak mendengar, pada akhirnya, hanya akan berbicara pada dirinya sendiri—keras, tetapi hampa.

 

Post a Comment

أحدث أقدم