Dalam dunia pendampingan
dan pergerakan sosial, kata momentum adalah salah satu istilah yang paling sering
diucapkan. Ia terdengar ringan, bahkan kadang seperti jargon. “Tunggu
momentumnya.” “Sekarang momentumnya pas.” Atau sebaliknya, “Ini bukan momentum
yang tepat.” Kalimat-kalimat itu kerap meluncur dari mulut para pendamping,
organizer, hingga fasilitator lapangan.
Namun, semakin sering
diucapkan, justru muncul pertanyaan yang jarang diajukan: apakah kita masih
benar-benar memahami apa itu momentum, atau sekadar mengulang kata yang dulu
hidup dalam tradisi gerakan, tetapi kini kehilangan maknanya?
Dalam teori sosial,
momentum tidak berdiri sebagai peristiwa tunggal yang jatuh dari langit. Ia
lahir dari pertemuan antara kondisi objektif dan subjektif. Karl Marx
menekankan bahwa perubahan sosial terjadi ketika kontradiksi objektif dalam
struktur masyarakat bertemu dengan kesadaran dan tindakan subjek. Sementara
itu, Charles Tilly dan para teoritikus gerakan sosial melihat momentum sebagai
hasil dari celah-celah kesempatan politik, krisis legitimasi, atau perubahan
konfigurasi kekuasaan yang mampu dibaca dan dimanfaatkan oleh aktor sosial.
Artinya, momentum bukan
sekadar soal waktu, melainkan soal proses. Ia bisa tumbuh, dipercepat,
bahkan—dalam batas tertentu—diciptakan melalui kerja sosial yang sadar dan
terarah.
Dalam tradisi
pendampingan lama, terutama sebelum dan awal reformasi, membaca momentum adalah
keterampilan dasar seorang organizer. Ia tidak hanya menunggu situasi matang,
tetapi ikut mengolahnya. Hidup bersama warga, membuka ruang diskusi,
memunculkan masalah yang selama ini terpendam, serta menghubungkan pengalaman
personal warga dengan struktur yang lebih luas. Di situlah kondisi subjektif perlahan
bergerak: dari pasrah menjadi sadar, dari takut menjadi berani.
Pendamping pada masa itu
memahami bahwa momentum tidak selalu ditemukan, tetapi sering kali didorong.
Ketika tekanan objektif sudah ada—kemiskinan, ketidakadilan kebijakan, atau
konflik lahan—pendamping bertugas membantu warga menyadari bahwa apa yang
mereka alami bukan nasib pribadi, melainkan persoalan bersama. Sebaliknya,
ketika kesadaran warga mulai tumbuh tetapi belum ditopang kondisi objektif yang
memadai, pendamping bekerja memperluas jejaring, membuka akses informasi, atau
menciptakan ruang negosiasi agar peluang perubahan benar-benar hadir.
Sayangnya, dalam praktik
pendampingan berbasis proyek yang bersumber dari keuangan negara, peran
mendorong momentum ini kian menghilang. Pendamping bekerja dalam kerangka
logframe, indikator, target output, dan jadwal kegiatan yang ketat. Semua
berjalan dalam koridor pengendalian. Ruang untuk mengolah situasi sosial
dianggap berisiko karena tidak selalu sejalan dengan jadwal dan target yang telah
ditentukan.
Dalam kondisi seperti
ini, momentum tidak lagi dibaca, apalagi didorong. Ia digantikan oleh kalender
program. Pendamping tinggal mengikuti alur yang sudah digariskan, sementara
dinamika sosial masyarakat dibiarkan berjalan sendiri. Akibatnya, muncul ironi:
pendamping hadir di tengah warga, tetapi tidak ikut menggerakkan perubahan
kesadaran maupun situasi.
Di sinilah pentingnya
membaca sekaligus mendorong momentum seharusnya menjadi materi wajib dalam
setiap pelatihan pendamping. Pendamping perlu dibekali pemahaman bahwa tugas
mereka bukan hanya menunggu situasi ideal, tetapi ikut membentuknya. Mendorong
kondisi subjektif melalui pendidikan kritis, dialog, dan penguatan kepercayaan
diri warga. Mendorong kondisi objektif melalui advokasi kebijakan, penguatan
kelembagaan lokal, atau membuka akses terhadap sumber daya yang sebelumnya
tertutup.
Tanpa pemahaman ini,
pelatihan pendamping hanya akan melahirkan pelaksana program yang patuh
prosedur, tetapi pasif secara sosial. Mereka mahir memastikan kegiatan berjalan
sesuai rencana, namun gagap ketika dihadapkan pada peluang perubahan yang tidak
tertulis di modul.
Idealnya, seorang
pendamping atau organizer terus memetakan dua hal secara bersamaan: apa yang
sedang menekan masyarakat secara objektif, dan sejauh mana kesadaran subjektif
warga telah berkembang. Dari peta itulah pendamping menentukan peran: kapan
mempercepat kesadaran, kapan membuka peluang, dan kapan menyatukan keduanya
agar momentum benar-benar lahir.
Membaca momentum tanpa
upaya mendorongnya akan membuat pendamping terjebak sebagai penonton.
Sebaliknya, mendorong tanpa membaca situasi akan berujung pada pemaksaan. Di
antara dua ekstrem itulah kerja pendampingan menemukan keseimbangannya.
Jika pendampingan hari
ini kehilangan kemampuan membaca dan mendorong momentum, maka yang tersisa
hanyalah aktivitas rutin tanpa daya ubah. Program selesai, laporan rampung,
tetapi masyarakat tetap berada di titik yang sama. Momentum, yang seharusnya
menjadi pintu perubahan, justru tak pernah benar-benar terbuka.
Barangkali sudah waktunya
dunia pendampingan kembali mengingat satu pelajaran mendasar: momentum bukan
sekadar ditunggu, tetapi diupayakan. Dan tugas pendamping adalah memastikan
pertemuan antara kesadaran dan peluang itu benar-benar terjadi—di tengah
kehidupan nyata masyarakat yang mereka dampingi.

إرسال تعليق