Dari pengalaman saya mendampingi warga, persoalan negosiasi yang paling sering muncul kadang justru soal yang terlihat sederhana: tarif pasang baru listrik PLN lewat perusahaan pengembang. Listrik itu sudah dianggap kebutuhan pokok, jadi ketika ada program listrik masuk desa, warga jarang curiga. Pikirannya sederhana saja, “Ini kan listrik, pasti sudah ada aturannya.” Tak banyak yang menyangka, urusan yang terlihat pasti ini bisa menimbulkan masalah.
Di sinilah pendamping
biasanya mulai ikut membantu. Bukan untuk menolak program, apalagi memaksa
warga berbeda pendapat, tapi sekadar menemani berpikir. Pendamping bisa
membantu warga memahami hal-hal yang kadang luput: misalnya, mana tarif resmi
PLN, mana biaya tambahan dari pengembang, apakah ada rincian tertulis, dan
apakah keputusan itu benar-benar harus diambil segera.
Pertanyaan-pertanyaan
kecil ini sebenarnya sederhana, tapi sering membuat perbedaan besar. Dengan
sedikit penjelasan, warga bisa mulai bertanya tanpa sungkan. Proses yang
tadinya terburu-buru bisa berjalan lebih santai. Dan dari situ, negosiasi pun
mulai terasa sebagai ruang untuk memahami, bukan sekadar mengikuti arus.
Kalau tanpa pendamping,
warga sering mengikuti saja, menandatangani dokumen, dan baru sadar belakangan
kalau biaya yang dibayarkan lebih tinggi atau tidak sesuai aturan PLN. Ada yang
baru tahu beberapa bulan kemudian bahwa tarif di desa lain lebih murah,
sementara mereka membayar lebih. Ada pula yang harus berurusan sendiri ketika
pengembang tidak menepati janji. Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa banyak
warga tidak menolak pembangunan atau listrik baru, tapi mereka ingin semua
jelas dan adil.
Pendamping hadir bukan
untuk menggantikan suara warga, tapi untuk membantu mereka tetap memahami dan
memilih dengan tenang. Bahkan pertanyaan sederhana—apakah tarif itu sesuai PLN,
atau ada biaya tambahan yang perlu dijelaskan—dapat membantu warga mengambil
keputusan dengan lebih percaya diri.
Musyawarah desa dulu juga
mengajarkan hal yang sama: keputusan besar sebaiknya tidak membuat yang kecil
merasa kehilangan pegangan. Negosiasi yang baik bukan soal cepat atau banyak
tanda tangan, tapi tentang warga yang merasa mengerti dan siap dengan
pilihannya. Dalam hal ini, pendamping seperti jembatan, agar komunikasi tetap
lancar dan warga bisa ikut memahami proses dengan lebih jelas.
Akhirnya, negosiasi bukan
soal siapa paling pandai bicara atau paling cepat menyetujui. Ia soal
keberanian untuk menjaga hidup, keberanian bertanya, dan keberanian berkata
“tidak” jika itu diperlukan. Pendamping hanya membantu memastikan keberanian
itu tetap ada, di tengah jalannya proses yang sering kali tidak terlihat kasat
mata.

إرسال تعليق