Selama lebih dari dua puluh tahun saya
melakoni profesi sebagai fasilitator masyarakat, banyak hal yang membekas dan
tak mungkin luruh hanya karena zaman berubah menjadi serba digital. Aplikasi
boleh berganti, pendekatan boleh diperbarui, istilah pemberdayaan boleh semakin
canggih. Tetapi ada pengalaman lapangan yang tidak bisa digantikan oleh
teknologi: tatapan sebelum musyawarah dimulai, cara seseorang menyebut nama
kampungnya dengan bangga, dan pertanyaan sunyi yang selalu hadir—apakah kita
datang sebagai saudara atau sekadar pelaksana program?
Di antara semua pengalaman itu, satu
pelajaran paling kuat yang saya pegang adalah ini: pintu masuk pemberdayaan
selalu bertumpu pada modal sosial yang hidup di masyarakat itu sendiri. Ia bisa
bernama budaya. Ia bisa bernama agama. Ia bisa berupa sejarah, bahasa, atau
jejaring kekerabatan. Apa pun bentuknya, di situlah energi sosial sesungguhnya
bersemayam.
Lampung adalah tanah yang mengajarkan
saya tentang arti perjumpaan. Beragam etnis hidup dan tumbuh bersama di sini,
saling mengisi ruang sosial yang sama. Lampung bukan hanya ruang geografis,
melainkan ruang dialog—tempat identitas tidak saling meniadakan, tetapi saling
menegaskan keberadaan.
Karena itu saya meyakini, untuk
memajukan suatu daerah kita harus menggunakan modal sosial yang telah ada,
bukan menggantinya dengan konstruksi yang asing. Prinsipnya sederhana: di mana
bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kita menghormati nilai yang telah
hidup, bukan menundukkannya demi ambisi perubahan yang tergesa-gesa.
Saya menyadari keterbatasan diri. Ilmu
agama saya tidak cukup dalam untuk menjadikannya sebagai jalan utama dalam setiap
ruang pemberdayaan. Maka saya lebih sering menggunakan pendekatan budaya—bahasa
yang santun, penghormatan pada adat, pengakuan pada sejarah, dan pertautan
kekerabatan. Bukan untuk menggantikan agama, tetapi sebagai cara agar saya
hadir secara tulus dan proporsional.
Di komunitas Lampung Pesisir, saya
belajar bahwa silsilah adalah bahasa yang lembut. Mengurut keturunan hingga
menemukan bahwa masih berada dalam satu garis leluhur seringkali menghadirkan
rasa kedekatan. Ketika berada di tengah masyarakat yang berakar pada tradisi
Lampung Pepadun, saya menunjukkan jalinan sosial yang nyata—hubungan
pertemanan, kekerabatan melalui pernikahan, atau persinggungan keluarga
antarwilayah. Intinya bukan pada klaim kedekatan, melainkan pada kesadaran
bahwa kita hidup dalam jejaring sosial yang saling terhubung.
Di situlah saya semakin memahami
kearifan Lampung. Piil Pesenggiri menjaga harga diri agar tetap bermartabat.
Nemui Nyimah meneguhkan keramahan. Nengah Nyampur mengajarkan keberanian berbaur. Bejuluk Beadok mengingatkan bahwa identitas membawa tanggung
jawab. Sakai Sambayan menegaskan gotong royong sebagai denyut kebersamaan. Dari
nilai-nilai itu lahir praktik seperti angkon muakhi—pengangkatan saudara yang
dikukuhkan secara adat—dan Mindai, pengangkatan saudara yang ditegaskan secara
kekeluargaan oleh kedua belah pihak.
Nilai-nilai itu bukan sekadar tradisi,
tetapi energi sosial yang mempersatukan beragam etnis di Lampung—dulu, kini,
dan ke depan.
Saya juga belajar bahwa budaya bukan
sekadar warisan, melainkan tafsir. Ketika budaya dimaknai secara
positif—sebagai ruang penghormatan dan kebersamaan—ia akan berbuah manis. Ia
melahirkan kepercayaan dan menguatkan kolaborasi. Namun jika dimaknai secara sempit
dan eksklusif, ia bisa melahirkan kesalahpahaman dan resistensi. Budaya adalah
jembatan jika kita menjadikannya jembatan; ia menjadi sekat jika kita
memperlakukannya sebagai sekat.
Dari perjalanan panjang itu saya semakin
yakin: pemberdayaan bukan tentang siapa yang paling pandai merancang program,
melainkan siapa yang paling sungguh menghormati nilai yang hidup di tengah
masyarakat.
Dan pada akhirnya, jika kita benar-benar
ingin memajukan daerah, kita tidak perlu mencari kekuatan jauh-jauh. Kekuatan
itu sudah ada—dalam adat yang dijaga, dalam bahasa yang dimuliakan, dalam
persaudaraan yang dirawat. Tugas kita hanya satu: tidak merusaknya.
Sebab ketika budaya dijalankan dengan
arif, ia bukan hanya membuka pintu—ia menjaga rumah tetap utuh. Dan di rumah
itulah, bernama Lampung, kita belajar bahwa kemajuan tidak pernah lahir dari
keseragaman, tetapi dari keberanian untuk saling menghormati dan berjalan
bersama.
Post a Comment