Kita adalah bangsa yang
gemar membangun yang tampak. Jalan yang halus, gedung yang menjulang, taman
yang berlampu gemerlap. Kita bangga pada yang terlihat mata. Namun sering kali
kita lupa pada yang tersembunyi di bawah lantai rumah kita sendiri—tempat di
mana limbah berdiam, tempat di mana kesehatan dipertaruhkan diam-diam.
Sanitasi selalu sunyi. Ia
tidak pernah menjadi baliho kemenangan. Tidak pernah menjadi panggung seremoni.
Ia bekerja dalam gelap—atau dibiarkan gelap.
Padahal di sanalah
martabat peradaban diuji.
Era digital datang
membawa cahaya. Semua ingin tercatat, terhubung, terkendali. Kita bicara
tentang smart city, tentang dashboard, tentang integrasi sistem. Tetapi betapa
ironisnya jika kota disebut cerdas, sementara pemerintahnya tidak tahu berapa
jumlah tangki septik warganya. Tidak tahu kapan terakhir disedot. Tidak tahu ke
mana lumpur itu berakhir.
Kita membanggakan data
besar, tetapi abai pada data paling dasar: sanitasi.
Digitalisasi LLTT bukan
sekadar soal aplikasi dan server. Ia adalah soal keberanian melihat yang selama
ini kita sembunyikan. Ia adalah keputusan moral untuk tidak lagi membiarkan
limbah mengalir tanpa kendali, mencemari air tanah, perlahan meracuni generasi.
Karena sesungguhnya,
sanitasi bukan hanya persoalan teknis. Ia persoalan amanah.
Bayangkan jika setiap
rumah tercatat. Setiap tangki memiliki jadwal. Setiap sedotan tercatat
volumenya. Setiap rupiah retribusi transparan. Setiap wilayah yang rawan
pencemaran terlihat jelas di peta digital.
Itu bukan sekadar
efisiensi. Itu adalah keadilan.
Data membuat pemerintah
tidak lagi bekerja berdasarkan asumsi. Data memaksa kita jujur. Data menghapus
alasan “tidak tahu”. Dan ketika alasan hilang, yang tersisa hanyalah tanggung
jawab.
Era digital sesungguhnya
menguji kesungguhan kita: apakah teknologi hanya untuk mempercepat pelayanan
yang tampak, atau juga untuk memperbaiki yang selama ini kita anggap sepele?
Selama ini kita menunggu
tangki penuh baru bergerak. Kita menunggu bau menyengat baru bertindak. Kita
menunggu anak sakit baru panik. Seolah-olah pencegahan tidak pernah menjadi
budaya.
Padahal iman pun
mengajarkan kebersihan sebagai sebagian dari keutamaan hidup. Kebersihan bukan
reaksi, tetapi kesadaran. Bukan karena dilihat orang, tetapi karena merasa
diawasi Tuhan.
Digitalisasi sanitasi
adalah upaya mengubah budaya reaktif menjadi budaya terjadwal. Mengubah
kebiasaan menunda menjadi kebiasaan menjaga. Mengubah kelalaian menjadi sistem.
Dan sistem yang baik
adalah bentuk kasih sayang kepada rakyatnya.
Ada yang berkata, “Ah,
itu hanya lumpur.”
Namun dari lumpur itulah
bakteri berkembang. Dari air tanah yang tercemar, diare menyebar. Dari infeksi
berulang, anak kehilangan masa emas pertumbuhannya. Stunting bukan sekadar
angka statistik. Ia adalah masa depan yang tereduksi perlahan.
Jika data sanitasi rapi,
wilayah risiko dapat dipetakan. Intervensi bisa tepat sasaran. Anggaran tidak
lagi sekadar formalitas, tetapi solusi. Kepala daerah dapat melihat langsung di
layar: berapa persen rumah yang belum pernah disedot. Berapa IPLT yang belum
optimal. Berapa potensi PAD yang belum tergarap.
Teknologi akhirnya bukan
sekadar gaya, melainkan alat keberpihakan.
Namun mari kita jujur
pula: digitalisasi tanpa integritas hanya akan melahirkan ilusi modernitas.
Aplikasi bisa dibuat, tetapi jika tidak diisi dengan kesungguhan, ia hanya
menjadi ikon di layar.
Yang dibutuhkan bukan
hanya sistem, tetapi niat. Bukan hanya dashboard, tetapi keberanian mengambil
keputusan. Bukan hanya notifikasi otomatis, tetapi kesadaran kolektif bahwa
sanitasi adalah tanggung jawab bersama.
Sanitasi harus naik
kelas—dari urusan belakang rumah menjadi agenda depan kebijakan. Dari pekerjaan
teknis menjadi komitmen etis. Dari proyek sesaat menjadi layanan publik yang
berkelanjutan.
Kita boleh berbicara
tentang transformasi digital. Tetapi transformasi sejati dimulai ketika kita
berani memperbaiki yang paling mendasar. Karena peradaban tidak runtuh karena
kurangnya gedung tinggi, tetapi karena lalai menjaga fondasinya.
Lumpur tinja mungkin
tidak pernah menjadi simbol kemajuan. Tetapi cara kita mengelolanya adalah
cermin siapa kita sebenarnya.
Jika era ini adalah era
data, maka biarlah data juga menyinari ruang-ruang yang selama ini kita
abaikan. Agar pembangunan tidak hanya modern, tetapi bermakna. Tidak hanya
cepat, tetapi sehat. Tidak hanya maju, tetapi bermartabat.
Sebab pada akhirnya,
kemajuan bukan sekadar tentang seberapa terang layar kita, melainkan seberapa
bersih air yang kita minum dan seberapa kuat generasi yang kita lahirkan.
Dan mungkin, di situlah
Tuhan melihat kesungguhan kita: bukan pada gemerlapnya kota, tetapi pada
kesetiaan kita menjaga kebersihan yang tak terlihat.
Post a Comment