Pembangunan sering kita bayangkan
menjulang ke atas—gedung, jalan, lampu-lampu kota yang berkilau di malam hari.
Kita terpukau pada yang tampak. Kita bangga pada yang berdiri tegak. Tetapi
jarang kita menyadari bahwa kekuatan sebuah daerah justru diuji pada hal-hal
yang tersembunyi, yang bekerja dalam diam, yang tak pernah masuk baliho ucapan
selamat.
Lumpur tinja, misalnya.
Ia tidak punya panggung. Tidak ada
seremoni untuknya. Ia hadir di belakang rumah, di dasar septic tank, di ruang
yang bahkan kita sendiri enggan membicarakannya. Namun di situlah peradaban
diuji: bagaimana sebuah daerah memperlakukan limbahnya, bagaimana ia menjaga
tanah dan airnya, bagaimana ia melindungi kesehatan warganya.
Program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal
bukan sekadar urusan teknis penyedotan. Ia adalah pernyataan sikap. Ia adalah
kesadaran bahwa pembangunan tidak boleh hanya bersih di permukaan, tetapi juga
sehat di akarnya.
Di titik ini, studi kelayakan menjadi
penting. Bukan untuk sekadar memenuhi dokumen administratif, tetapi untuk
memastikan bahwa niat baik bertemu dengan hitungan yang matang. Sebab niat
tanpa perencanaan adalah romantisme. Dan romantisme tidak pernah cukup untuk
membangun daerah.
Studi kelayakan L2T2 membaca kenyataan
secara jujur: berapa rumah yang harus dilayani, berapa armada yang dibutuhkan,
berapa biaya operasional yang harus ditanggung. Ia menghitung dengan kepala
dingin, tetapi berpijak pada kepentingan publik.
Lalu masuklah kita pada pertanyaan yang
sering membuat dahi berkerut: bisakah layanan sanitasi meningkatkan Pendapatan
Asli Daerah?
Pertanyaan ini bukan tentang memungut
dari yang lemah. Ia tentang keberlanjutan. Tentang bagaimana pelayanan publik
tidak selalu bergantung pada suntikan anggaran, tetapi mampu berdiri dengan
skema pembiayaan yang sehat.
Tarif dihitung bukan untuk membebani,
tetapi untuk menyeimbangkan. Cukup menutup biaya operasional, cukup merawat
armada, cukup memberi kontribusi terhadap kas daerah. Jika dikelola dengan tata
kelola yang baik, L2T2 dapat menjadi sumber PAD yang legal, terukur, dan
berkelanjutan.
Namun angka tidak pernah berdiri
sendiri.
Kunci sesungguhnya ada pada kepercayaan
masyarakat. Tanpa komunikasi yang jernih, tanpa edukasi yang menyentuh
kesadaran, layanan terjadwal hanya akan menjadi kewajiban administratif. Di
sinilah peran komunikasi menjadi denyut nadi. Warga harus paham bahwa
penyedotan rutin bukan sekadar kewajiban bayar iuran, melainkan ikhtiar menjaga
kesehatan keluarga.
Ketika masyarakat sadar, resistensi
berubah menjadi partisipasi. Ketika partisipasi tumbuh, keberlanjutan menguat.
Dan ketika keberlanjutan terjaga, PAD bukan lagi target ambisius, melainkan
konsekuensi logis dari tata kelola yang baik.
L2T2 mengajarkan kita satu hal sederhana
namun mendalam: martabat daerah tidak lahir dari apa yang paling terlihat,
tetapi dari apa yang paling bertanggung jawab dikelola. Mengurus lumpur adalah
mengurus kesehatan. Mengurus kesehatan adalah mengurus masa depan.
Maka jangan remehkan yang bekerja di
bawah tanah. Di sanalah sesungguhnya fondasi dibersihkan. Di sanalah air tanah
dijaga. Di sanalah penyakit dicegah sebelum menjadi beban sosial dan fiskal.
Jika kita mampu melihat potensi pada
yang selama ini dianggap kotor, maka kita sedang belajar menjadi dewasa sebagai
daerah. Kita sedang mengubah beban menjadi peluang. Kita sedang menumbuhkan
martabat dari sesuatu yang sebelumnya diabaikan.
Dari lumpur yang dikelola dengan
disiplin dan perencanaan, bertunaslah kemandirian.
Dari ruang sunyi yang dibersihkan dengan
tanggung jawab, tumbuhlah harga diri daerah.
Dan mungkin, di situlah makna
pembangunan yang paling jujur: bukan sekadar meninggikan yang tampak, tetapi
merawat yang tersembunyi.
Post a Comment