Ada hari-hari ketika kita begitu mudah tersulut, ucapan kecil terasa menghina, perbedaan, pandangan terasa ancaman, kesalahan orang lain terasa dosa besar yang harus segera kita hukum.
Dalam
keseharian, kita sering emosional. Kita bereaksi sebelum merenung. Kita menilai
sebelum memahami. Bahkan tanpa sadar kita mengambil alih wilayah langit.
Kita
berkata, “Itu dosa.”
Kita
berkata, “Dia pantas dihukum.”
Kita
menentukan standar pahala dan murka, seolah-olah catatan amal ada di tangan
kita.
Padahal
kita ini hamba.
Di
tengah riuhnya ego, saya teringat pada Surat Al-Ikhlas. Surat yang pendek,
namun menegakkan tauhid setegak-tegaknya.
Kulhuwallahu Ahad. Allahu Shamad,
Allah
Maha Esa.
Allah
tempat bergantung segala sesuatu.
Allah
Hussomad tempat kita bersandar, tempat segala urusan kembali. Bukan kita.
Bukan ego kita. Bukan standar emosi kita.
Jika
Allah adalah As Shomad, maka siapa kita hingga berani merasa paling benar?
Jika
Allah tempat bergantung, mengapa kita menggantungkan kebenaran pada hawa nafsu
sendiri?
Di
sanalah saya merenungi satu kalimat yang tampak sederhana namun sarat makna:
Something
plus something is nothing.
Ketika
amarah ditambah amarah, lahirlah kehancuran.
Ketika
ego ditambah ego, lahirlah perpecahan.
Ketika
nafsu ditambah kuasa, lahirlah kezhaliman.
Namun
ketika diri yang penuh ini kita kosongkan—ketika ambisi kita lepaskan, ketika
gengsi kita turunkan, ketika ingin menang kita matika, maka kita menjadi nothing.
Nothing
bukan ketiadaan makna.
Nothing
adalah penghambaan.
Nothing
adalah ketika kita berhenti menjadi pusat dan mengembalikan pusat itu kepada
Allah.
Dan
yakinlah… justru di saat nothing itulah pertolongan Allah SWT menghampiri
hamba-Nya.
Ketika
kita tak lagi merasa paling mampu, Allah menunjukkan kuasa-Nya.
Ketika
kita tak lagi merasa paling tahu, Allah membuka jalan-Nya.
Ketika
kita tak lagi merasa paling kuat, Allah kirimkan pertolongan-Nya.
Masalahnya
bukan apakah Allah menolong.
Masalahnya: seberapa sering kita benar-benar nothing?
Dan
pertanyaan yang lebih jujur lagi:
Apakah
ritual yang kita jalankan selama ini benar-benar menuju ke Nothing itu?
Ramadhan
hadir bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ramadhan adalah madrasah
pengosongan. Pengosongan perut agar hati berbicara. Pengosongan kesombongan
agar jiwa tunduk. Pengosongan diri agar tauhid tegak dalam dada.
Puasa
adalah latihan menjadi kecil.
Tarawih
adalah latihan berdiri sebagai hamba.
Zakat
adalah latihan melepaskan kepemilikan.
Doa
adalah pengakuan bahwa kita tak berdaya.
Jika
setelah Ramadhan kita masih mudah menghakimi, mungkin kita hanya menahan
lapar dan belum menahan ego.
Jika
setelah Ramadhan kita masih merasa paling benar, mungkin kita hanya menahan
haus dan belum menahan nafsu.
Ikhlas
adalah bentuk tertinggi dari nothing itu.
Ikhlas
berarti menerima segala yang Allah tetapkan dengan lapang dada. Menganggap apa
yang datan, baik maupun pahit adalah yang terbaik dariNya. Tanpa sedih
berlebihan yang menggugat takdir. Tanpa euforia berlebihan yang melupakan diri.
Kita
berusaha sekuat tenaga. Kita berikhtiar sebaik mungkin. Tetapi hasilnya kita
letakkan di hadapan Allah dengan kepala tertunduk.
Karena
kita sadar:
Kita
ini hamba.
Dan
hamba yang selamat adalah hamba yang tahu batas.
Selamat
menjalankan ibadah Ramadhan.
Semoga
ritual yang kita jalankan bukan sekadar tradisi, tetapi benar-benar perjalanan
menuju Nothing.
Menuju
kehambaan yang murni.
Menuju
hati yang kosong dari kesombongan.
Menuju
titik di mana kita tak lagi merasa apa-apa
kecuali
butuh kepada Allah semata.
Dan di
titik Nothing itulah, pertolongan Allah SWT turun dengan cara yang tak pernah
kita duga-duga. Wallahu a'lam bisshawab.
Bukit Kemiling Permai 01 Maret 2026
Post a Comment