Pemberdayaan hampir
selalu terdengar baik. Ia hadir dalam pidato, dokumen kebijakan, dan laporan
program. Kata ini seolah menjanjikan kemajuan, kemandirian, dan keadilan. Namun
jarang kita bertanya: pemberdayaan yang seperti apa, dan untuk siapa? Sebab
pemberdayaan yang tidak berangkat dari penghormatan atas harga diri manusia
sering kali hanya memindahkan ketergantungan dari satu bentuk ke bentuk lain.
Warga dibantu, tetapi tidak dipercayai. Dikuatkan secara angka, tetapi
dilemahkan sebagai subjek. Di situlah masalah yang jarang dibicarakan itu
bermula.
Harga diri, pada
dasarnya, adalah kesadaran akan nilai diri. Kesadaran bahwa manusia bukan
sekadar angka statistik, bukan alat kebijakan, bukan penerima pasif yang cukup
patuh lalu dianggap selesai. Harga diri adalah keyakinan tenang bahwa diri ini
bermakna, layak dihormati, dan tidak boleh diperlakukan semena-mena. Ia bukan
kesombongan, bukan pula pembangkangan tanpa arah. Ia justru dewasa: tahu siapa
dirinya dan tahu batas yang tidak boleh dilanggar.
Dalam negara hukum, harga
diri kerap dianggap otomatis hadir begitu aturan ditegakkan. Seolah hukum
adalah tujuan akhir. Padahal hukum hanyalah pagar, bukan rumah. Ia memberi
bentuk, tetapi tidak selalu memberi jiwa. Tanpa harga diri, hukum mudah berubah
menjadi teks dingin yang ditaati karena takut, bukan karena sadar. Negara bisa
tampak tertib, tetapi warganya merasa kecil dan tidak dilibatkan.
Di titik inilah
pemberdayaan seharusnya memainkan peran penting.
Pemberdayaan bukan
sekadar program, bukan jargon laporan, bukan kegiatan seremonial yang selesai
setelah foto diambil. Pemberdayaan adalah proses memulihkan daya manusia atas
hidupnya sendiri. Memberi daya berarti mengakui bahwa warga bukan objek yang harus
diarahkan terus-menerus, melainkan subjek yang mampu memilih, menimbang, dan
bertanggung jawab.
Harga diri tanpa
pemberdayaan hanya melahirkan kesadaran yang frustrasi: tahu dirinya bernilai,
tetapi tidak diberi ruang bergerak. Sebaliknya, pemberdayaan tanpa harga diri
akan melahirkan kuasa tanpa nurani. Karena itu, keduanya harus berjalan
bersama. Harga diri memberi arah moral, pemberdayaan memberi jalan praktis.
Dalam praktik bernegara,
kita kerap menjumpai pola memberi tanpa mempercayai. Bantuan dibagikan, tetapi
suara warga jarang didengar. Program digelontorkan, sementara ruang partisipasi
justru menyempit. Warga dilatih menerima, bukan menentukan. Dalam jangka
panjang, pola ini tidak melahirkan kemandirian, melainkan ketergantungan yang
tertata—dan pelan-pelan menggerus harga diri.
Padahal harga diri paling
jujur terlihat bukan dalam pidato, melainkan dalam tindakan sehari-hari.
Seseorang yang memiliki harga diri mampu berkata “tidak” tanpa merasa bersalah.
Ia menjaga batas tanpa menghina. Ia menolak tanpa ribut. Ia tidak menjual
prinsip demi kenyamanan sesaat, tidak memalsukan data meski ditekan, dan tidak
menganggap pelanggaran sebagai kewajaran. Ia tidak haus pengakuan, tetapi juga
tidak merendahkan diri. Ketika salah, ia bertanggung jawab tanpa mencari
kambing hitam. Diam-diam, tetapi tegak.
Hal yang sama berlaku
pada kelompok dan komunitas. Kelompok yang memiliki harga diri tidak mudah
diadu dan dibeli. Mereka bisa berbeda pendapat tanpa kehilangan arah nilai.
Mereka menyuarakan kepentingan dengan argumen, bukan anarki. Mereka melindungi
anggota yang paling lemah, bukan mengorbankannya demi citra bersama. Mereka
memiliki aturan internal yang adil dan mematuhinya bukan karena takut, tetapi
karena merasa aturan itu milik mereka.
Contoh-contoh ini
sebenarnya dekat dengan kehidupan kita.
Di banyak desa,
pembangunan sering datang dalam bentuk proyek yang sudah jadi. Warga
dikumpulkan untuk mendengar, bukan diajak merumuskan. Musyawarah berlangsung,
tetapi keputusan kerap sudah ditentukan di luar ruang desa. Jalan dibangun,
balai diperbaiki, papan proyek dipasang. Namun warga tetap merasa sebagai
penonton. Dalam situasi seperti ini, desa mungkin tampak bergerak, tetapi harga
diri kolektif justru melemah. Pemberdayaan baru benar-benar bekerja ketika warga
dilibatkan sejak perencanaan, memahami anggaran, dan diberi ruang menilai
hasilnya. Bukan proyeknya yang terutama menumbuhkan martabat, melainkan proses
yang menghormati akal dan suara warga.
Semua itu bukan soal
menang atau kalah. Itu soal tidak menyerahkan martabat kepada keadaan.
Di situlah harga diri
bangsa sesungguhnya dibangun. Bukan dari slogan kebesaran atau seremoni
nasionalisme, melainkan dari pengalaman sehari-hari warga ketika berhadapan
dengan negara. Apakah mereka diperlakukan adil? Apakah hukum hadir sebagai
pelindung, bukan alat menekan? Apakah kebijakan membuka ruang tumbuh, bukan
sekadar mengatur dan membatasi?
Bangsa yang warganya
berdaya tidak mudah dibeli, tidak mudah ditakuti, dan tidak perlu berteriak
untuk dihormati. Harga diri kolektif tumbuh perlahan dari keberanian individu
menjaga martabatnya—dan dari kesediaan negara mempercayai warganya sebagai
manusia yang dewasa.
Pada akhirnya,
pemberdayaan bukan soal seberapa banyak program dijalankan, melainkan seberapa
jauh manusia diperlakukan sebagai subjek. Harga diri tidak tumbuh dari bantuan
yang rutin, tetapi dari kepercayaan yang konsisten. Negara boleh mengatur,
bahkan harus mengatur, tetapi tidak sampai mencabut daya warganya untuk
berpikir, memilih, dan bertanggung jawab. Negara yang besar bukan negara yang
paling rajin memberi, melainkan yang paling berani mempercayai. Dan hanya dari
kepercayaan itulah, harga diri—baik individu maupun bangsa—bisa benar-benar
hidup.
Post a Comment