Mendampingi masyarakat itu seperti menanam pohon. Tidak cukup menabur benih, kita harus memperhatikan tanah, air, cahaya, dan cuaca. Setiap tahapan pendampingan punya titik kritis yang menentukan apakah pohon itu tumbuh atau layu. Kegiatan yang saya ceritakan ini saya lakukan ketika masih di NGO, jauh sebelum bergabung dengan program pemerintah. Awal pendampingan sering dianggap formalitas, tapi percayalah, tanpa kepercayaan, semua rencana bisa sia-sia. Saya selalu mulai dengan ngobrol santai, ikut kegiatan warga, dan mendengar cerita mereka. Dari sini, fondasi kerja sama tercipta.
Data itu penting, tapi pengalaman nyata lebih berharga. Titik kritisnya adalah kejujuran informasi. Duduk di warung kopi, ikut gotong royong, saya bisa memahami kebutuhan mereka yang sesungguhnya—bukan sekadar yang tertulis di laporan. Rencana yang bagus di kertas belum tentu jalan di lapangan. Titik kritisnya ada pada realisme dan keterlibatan masyarakat. Program terbaik lahir dari diskusi, kompromi, dan menyesuaikan kapasitas warga.
Tahap pelaksanaan adalah ujian disiplin. Titik kritisnya adalah konsistensi dan kemampuan menyesuaikan diri. Cuaca hujan, fasilitas terbatas, atau kondisi mendadak berubah? Kita harus tetap menjaga tujuan utama sambil fleksibel menghadapi situasi. Evaluasi bukan sekadar angka atau laporan formal. Titik kritisnya adalah objektivitas dan keterlibatan warga. Dari obrolan sederhana, saya sering mendapat insight yang jauh lebih berharga daripada catatan resmi.
Tahap akhir adalah ujian sejati: memastikan kemandirian masyarakat. Program yang sukses adalah yang meninggalkan kemampuan warga untuk berjalan sendiri, bukan sekadar catatan kegiatan. Pendampingan bukan soal proyek selesai atau tidak. Yang penting adalah membangun kepercayaan, memahami konteks, dan menumbuhkan kemandirian. Bila titik-titik kritis ini diperhatikan, pohon yang kita tanam tidak hanya tumbuh, tapi memberi buah untuk generasi berikutnya.
إرسال تعليق