Dunia bergerak cepat.
Setiap hari, dering notifikasi dan layar yang terang memanggil kita.
Teknologi ada di mana-mana—cepat, efisien, memudahkan.
Sebagai pendamping masyarakat, saya sering bertanya pada diri sendiri:
Apakah kemajuan ini benar-benar memudahkan mereka? Atau justru membuat kita lupa cara hadir?
Di lapangan, saya melihat tangan-tangan yang canggung memegang gawai, mata yang ragu menatap layar, senyum yang perlahan tumbuh ketika mereka berhasil memahami sesuatu.
Mereka tidak butuh cepat. Mereka butuh hadir.
Mereka butuh kita—bukan hanya teknologi.
Melek teknologi memang penting.
Tapi tetap manusiawi lebih penting.
Pendampingan bukan soal siapa paling mahir memakai aplikasi,
bukan soal laporan paling rapi atau data paling lengkap.
Pendampingan adalah hadir, mendengar, dan menumbuhkan kepercayaan.
Ancaman terbesar bukan pada gawai atau jaringan.
Ancaman terbesar adalah ketika kita terlalu terpikat pada layar hingga lupa manusia di depan mata.
Ketika efisiensi mengalahkan empati.
Ketika angka menggantikan cerita.
Namun teknologi bisa menjadi energi positif.
Ia bisa membantu masyarakat belajar, bercerita, berkarya, dan percaya diri.
Ia bisa berjalan di samping manusia, bukan di depan atau di atasnya.
Yang dibutuhkan adalah kesabaran: mendampingi tanpa tergesa, menunggu tanpa menekan, mengajari tanpa memaksakan.
Saya percaya, masa depan pendampingan bukan soal canggihnya alat.
Bukan soal cepatnya proses.
Bukan soal data yang rapi dan laporan yang lengkap.
Yang akan bertahan adalah manusia—yang hadir, mendengar, dan tetap manusiawi.
Teknologi hanyalah alat.
Manusia adalah hati dari setiap perubahan.
إرسال تعليق