Bagaimana Menemukan Kembali Pringsewu?


 

Pringsewu tidak lahir dari ruang kosong. Ia pernah menjadi bagian dari Kabupaten  Lampung Selatan dan Kemudian Tanggamus, lalu berdiri sendiri dengan membawa jejak yang sudah lebih dulu ada. Bukan hanya batas wilayah yang berubah, tetapi juga cara orang memandangnya.

 

Tulisan ini berangkat dari kedekatan yang tidak bisa saya lepaskan karena Pringsewu bukan sekadar tempat yang sering saya datangi. Saya mengenalnya dari percakapan dengan kawan,keluarga,  dari kegiatan mendampingi masyarakat, dan dari waktu-waktu yang saya habiskan tanpa banyak rencana. Di sini pula istri saya berasal, dan putri saya dilahirkan. Mungkin itu sebabnya, setiap perubahan di Pringsewu terasa lebih dekat dari sekadar cerita.

 

Sejak lama, Pringsewu dikenal sebagai tempat belajar bukan hanya bagi putra putri asli Pringsewu, tetapi juga daerah lain. Pondok pesantren tumbuh dan menjadi rujukan. Sekolah seperti SPG dan SGO melahirkan banyak tenaga pendidik. Dari daerah ini juga lahir atlet angkat besi yang dikenal hingga tingkat Asia Tenggara. Letaknya berada di jalur yang menghubungkan Pesawaran, Lampung Tengah bagian barat, Tanggamus, dan arah Lampung Barat. Pada masanya, orang singgah di Pringsewu bukan karena terpaksa, tetapi karena memang ada alasan untuk berhenti di sini.

 

Pringsewu juga pernah dikenal sebagai ruang perjumpaan lintas keyakinan. Goa Maria Pajar Esuk menjadi salah satu tujuan ziarah umat Nasrani. Kepasturan di Jalan Kesehatan Pringsewu pada masanya juga ikut memberi warna dan membesarkan nama daerah ini. Semua itu berjalan berdampingan dengan kehidupan pesantren dan pendidikan umum.

 

Nama-nama yang lahir dari Pringsewu tidak sedikit. KH Kholib sebagai pejuang sekaligus pengasuh pondok pesantren, KH Abdullah Sayuti sebagai pengasuh pondok pesantren, Muhajir Utomo dan Sugeng P Haryanto yang pernah memimpin Universitas Lampung, Imron sebagai pelatih angkat besi, hingga atlet seperti Eko Yuli Irawan dan Sri Wahyuni Agustiani. Nama-nama ini masih diingat sampai sekarang. Mereka menjadi penanda bahwa dari tempat ini pernah lahir orang-orang yang memberi arti di bidangnya.

 

Yang juga terasa adalah cara hidup masyarakatnya. Perbedaan tidak menjadi hal yang dipersoalkan. Orang datang, berdagang, dan menetap. Ada rasa aman yang membuat orang tidak tergesa untuk pergi. Bahkan ada yang memilih berhenti sejenak di Pringsewu sebelum melanjutkan perjalanan.

 

Di sisi lain, pertanian pernah menjadi penopang penting. Sistem irigasi sawah sudah dikenal sejak masa Jepang dan ikut menjaga keberlanjutan produksi dalam waktu yang panjang. Bahkan untuk hal sederhana seperti cemilan klanting dan marning, orang dulu mengenalnya dari Kecamatan Pringsewu dan Gadingrejo. Nama daerah melekat pada produk yang dibawa pulang, menjadi bagian dari ingatan banyak orang.

 

Ruang-ruang kebersamaan juga pernah hidup. Pendopo Kecamatan Pringsewu dulu menjadi pusat kegiatan, tempat perlombaan, latihan seni, kepramukaan, hingga olahraga. Orang berkumpul, berlatih, dan tumbuh bersama di ruang yang sama. Kini, pendopo itu lebih sering dikenal sebagai tempat pasar kuliner malam dan permainan anak-anak. Fungsinya berubah, dan bersama itu ada suasana yang ikut bergeser.

Namun keadaan tidak selalu berjalan ke arah yang sama.

 

Hari ini, ada bagian dari Pringsewu yang terasa berubah. Sebutan sebagai kota santri dan kota pendidikan tidak lagi sekuat dulu. Pondok pesantren tetap ada, tetapi suasananya tidak sama. Banyak yang memilih belajar ke Bandar Lampung dan menjadikan Pringsewu sebagai tempat pulang, bukan tujuan.

 

Aktivitas olahraga masih berjalan, tetapi tidak seramai sebelumnya. Daerah sekitar seperti Kalirejo, Talang Padang, Ulu Belu, dan Gisting tumbuh dengan pusatnya masing-masing. Arus yang dulu menuju Pringsewu kini menyebar.

 

Perubahan itu juga terasa pada layanan kesehatan. Masyarakat Suoh dan Tanggamus yang dulu banyak berobat ke Pringsewu kini mulai beralih ke Kota Agung, Gisting, atau ke arah Liwa. Begitu juga dengan masyarakat Lampung Tengah bagian barat yang kini lebih memilih berobat ke Kalirejo. Pelan-pelan, peran Pringsewu sebagai tempat rujukan mulai berkurang.

 

Lahan pertanian perlahan berkurang. Sebagian berubah menjadi permukiman. Jalan di beberapa titik belum sepenuhnya pulih dalam waktu yang lama. Hal-hal ini perlahan mempengaruhi cara orang melihat Pringsewu.

 

Hari ini, Kabupaten Pringsewu memiliki luas wilayah sekitar 625 kilometer persegi dengan sembilan kecamatan. Secara administratif ia tidak besar, tetapi cukup untuk menjadi ruang hidup yang pernah ramai dan berarti bagi wilayah di sekitarnya.

 

Lalu bagaimana menemukan kembali Pringsewu?

 

Mungkin bukan dengan mencari sesuatu yang baru. Lebih pada mengingat apa yang pernah membuatnya berarti. Tempat belajar, ruang singgah, kehidupan yang terasa aman, dan kerja-kerja yang pernah dibangun.

 

Selebihnya, mungkin kembali pada rasa memiliki. Ketika rasa itu masih ada, hal-hal sederhana pun bisa kembali berarti.

 

Pringsewu mungkin tidak ke mana-mana. Hanya saja, cara kita melihatnya yang perlahan berubah.

Post a Comment

Previous Post Next Post