Ruas dari Gapura Perbatasan Bandar Lampung-Pesawaran hingga Tugu Bambu Kabupaten Pringsewu, sepanjang 30,9 kilometer, bukan sekadar garis di peta yang menghubungkan dua titik. Ia seperti potongan waktu yang tak pernah benar-benar selesai. Di atasnya, kita tidak hanya bergerak dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga diajak memahami bagaimana harapan dan kenyataan berjalan berdampingan, kadang searah, lebih sering saling menyalip tanpa aba-aba.
Dulu, jalan ini terasa seperti janji yang sederhana. Kendaraan
melintas tanpa tergesa, perjalanan terasa cukup, dan waktu tidak menjadi
sesuatu yang harus dilawan. Namun kini, 30,9 kilometer itu seperti memanjang
tanpa ukuran. Ia bisa ditempuh dalam 1- 2 jam pada hari biasa, waktu yang sudah
cukup untuk membuat kita bertanya, sejauh apa sebenarnya jarak itu. Dan pada
waktu-waktu tertentu, ketika Lebaran tiba, ketika kecelakaan terjadi, ketika
hujan menumpahkan air hingga jalan menggenang, atau saat ada kendaraan besar
mogok di titik sempit, jarak itu seolah berubah menjadi perjalanan batin, 3
hingga 4 jam.
Di situlah jalan ini terasa menggemaskan, dalam arti yang
paling getir. Ia seperti ingin membuat kita tersenyum, tetapi justru menguji
kesabaran yang paling dalam.
Negara telah berulang kali hadir di ruas ini. Aspal
diperbaiki, lubang ditutup, drainase dibangun. Setiap proyek membawa harapan
baru, seolah kali ini jalan akan benar-benar sembuh. Namun jalan ini seperti
memiliki ingatan yang aneh, ia cepat melupakan sentuhan perbaikan, tetapi tidak
pernah lupa pada beban yang harus ditanggungnya. Truk-truk besar dan atau truk
tengki melintas tanpa jeda, membawa muatan berat. Air hujan datang, dan di
beberapa titik, terutama di Gadingrejo, ia seperti tidak tahu ke mana harus
pergi, menggenang, meresap, lalu perlahan merusak apa yang baru saja
diperbaiki.
Sementara itu, kehidupan tumbuh tanpa menunggu jalan ini
siap. Mahasiswa hilir mudik membawa cita-cita, pegawai berangkat pagi dan
pulang sore dengan rutinitas yang tak pernah benar-benar ringan. Dari dan
menuju Tanggamus, Pringsewu, Pesawaran, hingga Bandar Lampung, semua bergerak
di atas ruas yang sama. Ditambah lagi arus menuju kawasan industri dan
infrastruktur strategis, dari tambang, pembangkit listrik Batu Tegi dan Ulu
Belu, hingga bendungan Way Sekampung, semuanya berbagi ruang yang terbatas,
seperti kehidupan yang dipaksa tinggal dalam rumah yang terlalu sempit.
Bahkan bagi sebagian warga Lampung Tengah bagian barat dan
Warga Lampung Barat yang menyukai lewat Ulu Belu, jalan ini adalah pilihan yang
lebih masuk akal. Lebih dekat, lebih efisien, katanya. Padahal di balik pilihan
itu, ada kesediaan untuk menerima kemacetan, risiko, dan waktu yang tidak
pernah pasti. Jalan ini bukan hanya penghubung, tetapi juga penampung, menyerap
arus dari berbagai arah tanpa pernah benar-benar diberi ruang untuk bernapas.
Lebarnya yang hanya sekitar 6 sampai 7 meter terasa seperti
ironi yang nyata. Dua lajur yang harus menampung segalanya, kendaraan kecil,
kendaraan besar, pejalan kaki, aktivitas pasar, bahkan kehidupan yang meluber
ke badan jalan. Di beberapa titik, seperti di sekitar Tugu Coklat Negeri Sakti,
rekayasa Lalu Lintas sepertinya tak pernah manjur disini, Pasar Wiyono, ujung
jembatan Gedong Tataan menjelang pertigaan kedondong, pasar Gading, Sidoarjo,
Depan Chandra Supermaket, serta Simpang Terminal Pringsewu, pada daerah-daerah
ini jalan seperti kehilangan
identitasnya. Ia bukan lagi jalur nasional, melainkan ruang hidup yang dipakai
bersama tanpa batas yang jelas. Di sana, kendaraan tidak hanya melaju pelan,
tetapi juga bernegosiasi dengan pedagang, dengan pejalan kaki, dengan kenyataan
bahwa jalan ini tidak pernah cukup luas untuk semua.
Dan di balik semua itu, Kecelakaan yang tidak selalu menjadi
berita, tetapi selalu meninggalkan duka. Ada mereka yang harus menempuh
perjalanan ini untuk berobat, termasuk yang rutin menjalani cuci darah di
Bandar Lampung, perjalanan yang bukan hanya soal jarak, tetapi juga tentang
daya tahan dan harapan. Ada pula para pelintas jauh, menuju Pesisir Barat, Bengkulu,
hingga Muko-Muko, yang menjadikan 30,9 kilometer ini hanya sebagian kecil dari
perjalanan panjang mereka, meski sering kali justru menjadi bagian yang paling
melelahkan.
Di atas kertas, jalan ini mungkin terlihat baik-baik saja.
Panjangnya jelas, 30,9 kilometer. Kondisinya tercatat mantap. Lubang telah
diperbaiki. Tetapi bagi pengguna jalan, ukuran tidak pernah sesederhana itu.
Ukurannya adalah waktu yang terbuang, rem yang terlalu sering diinjak, napas
yang ditahan saat menyalip, dan kesabaran yang perlahan terkikis di tengah
kemacetan yang terasa tanpa ujung.
Ada jarak yang tak terlihat antara data dan kenyataan. Dan
di dalam jarak itulah jalan ini hidup, dalam pengulangan yang nyaris sama
setiap hari.
Ruas ini tidak pernah benar-benar rusak, tetapi juga tidak
pernah benar-benar sembuh. Ia seperti tubuh yang terus dipaksa bekerja tanpa
sempat pulih. Yang diperbaiki sering hanya permukaan, sementara yang lebih
dalam, tata ruang, disiplin lalu lintas, beban kendaraan, hingga keberanian
mengambil kebijakan besar, tetap dibiarkan berjalan apa adanya.
Maka, jika pelebaran belum bisa dilakukan sampai ke
Tanggamus, pelebaran di sepanjang 30,9 KM sepertinya sudah sangat mendesak,
jika masih harus menunggu waktu, kita tidak bisa terus menggantungkan harapan
pada satu ruas ini saja. Jalan-jalan kabupaten di Pesawaran, Pringsewu, dan
Tanggamus perlu dibuka dan dihidupkan. Dan begitu juga jalan provinsi harus
hadir sebagai alternatif yang nyata. Bukan sekadar pilihan kedua, tetapi
sebagai napas bagi ruas yang sudah terlalu lama menahan sesak.
Namun pada akhirnya, jalan ini mengajarkan sesuatu. Ia bukan
hanya tentang aspal, kendaraan, atau panjang kilometer. Ia adalah cermin
tentang bagaimana kita memandang pembangunan, apakah sekadar menyelesaikan
proyek, atau benar-benar memahami kehidupan yang berjalan di atasnya.
Dan mungkin, justru di situlah letak menggemaskannya. Kita
tahu ia tidak baik-baik saja, tetapi kita terus bersikap seolah semuanya akan
baik-baik saja. Kita mengeluh, lalu terbiasa. Kita lelah, lalu kembali
berharap. Kita melewati jalan yang sama, dengan cerita yang sama, seakan itu
sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup.
Sampai suatu hari kita benar-benar mengerti bahwa membangun
jalan bukan hanya soal menghampar aspal, tetapi juga menata kehidupan yang
melintasinya, maka 30,9 kilometer ini akan tetap seperti sekarang,
menggemaskan, dalam cara yang paling melelahkan, dan paling jujur menggambarkan
diri kita sendiri.

Post a Comment