Ada jenis kepemimpinan yang tidak lahir dari kedalaman tetapi dari
permukaan. Ia tidak tumbuh dari keteguhan nilai melainkan dari kebutuhan untuk
terlihat. Di sanalah kita mengenalnya pemimpin gimmick
Pemimpin gimmick menjadikan kepemimpinan sebagai panggung bukan amanah. Ia sibuk merancang momen bukan membangun makna. Setiap langkah diukur dari
seberapa menarik ia tampak, bukan dari seberapa dalam ia berdampak. Ia tidak
selalu kosong tetapi sering kehilangan inti karena terlalu sibuk membungkus
hingga lupa isi.
Dalam peta kepemimpinan ia bukan transformasional yang menggerakkan
perubahan, bukan pula transaksional yang membangun kesepakatan. Ia lebih dekat
pada kepemimpinan performatif yang mengutamakan tampilan dibandingkan ketulusan. Bekerja di depan sorotan tetapi sering absen dalam kerja sunyi yang justru
menentukan.
Ia tampil rapi di media sosial dan di hadapan orang yang dianggap
menguntungkan. Kata katanya terpilih, gesturnya terukur citranya terjaga. Namun kepada
mereka yang lemah ia bisa berubah keras menekan, bahkan menindas. Seperti cahaya
yang hanya terang dari satu arah tetapi gelap di sisi lain.
Di tempat kerja kehadirannya menciptakan suasana yang seolah penuh
semangat. Semua bergerak cepat, semua tampak baik. Tetapi sering kali itu bukan
karena kesadaran melainkan tekanan. Bagi bawahan, mempunyai dan dipimpin pemimpin model ini melaksanakan
tugas tidak lebih karena takut dan agar terlihat bekerja. Suasana kerja menjadi
tegang serba kaku dan melelahkan.
Dalam suasana seperti ini banyak "hantu" tercipta yang tak jarang menjadi "tuhan" bagi sebagian bawahan yang belum mengenal pemimpinnya secara utuh. Kalimat
seperti awas bos marah, jangan macam-macam nanti bos ngamuk beredar dari mulut
ke mulut tanpa kehadiran sang pemimpin. Alhasil hantu "hantu" itulah yang menjadi
bahan bakar yang menjaga ritme kepemimpinan model ini agar tetap berjalan.
Dalam situasi yang serba tegang, bawahan dituntut hadir dan pulang tepat
waktu, dengan absensi berlapis seperti: pinjer, aplikasi, bahkan seolah harus scan darah. Namun semua itu sering hanya menjadi gimmick. Aturan ketat itu berlaku untuk
pejabat rendah, staf, dan bawahan. Sementara bagi pejabat menengah ke atas bahkan
sang pemimpin sendiri aturan itu menjadi longgar seolah tidak berlaku.
Ketika ia tidak ada suasana berubah. Bukan karena sistem berjalan
mandiri, tetapi karena beban terasa hilang. Dalam ruang yang longgar itu sebagian
bawahan yang lama tertekan melampiaskan suara bathinnya. Ada yang tidak masuk. Ada yang
masuk hanya untuk mengulur waktu, bercakap tanpa arah, atau sekadar berkumpul dengan
mereka yang memiliki kebiasaan yang sama. Ritme kerja menjadi longgar bukan
karena sehat tetapi karena lepas dari tekanan sesaat.
Di titik itu, kita belajar bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari
bagaimana orang bersikap saat pemimpin hadir, tetapi dari bagaimana mereka tetap
bekerja ketika ia tidak ada.
Maka, jika kita menemukan pemimpin yang gemar menghiasi media sosial
jangan buru-buru salut. Kekaguman yang tergesa sering menutup kejernihan. Telisiklah perlahan.. Lihat bagaimana ia memperlakukan yang kecil dengarkan suara
yang jarang terdengar, rasakan apakah kehadirannya memberi ketenangan atau
justru tekanan.
Sebab tidak semua yang tampak memimpin benar benar memimpin. Dan tidak
semua yang sering terlihat benar, benar hadir.
Di zaman yang gemar pada tampilan, keaslian sering tersisih. Tetapi
justru di situlah kepemimpinan diuji, bukan saat disorot melainkan saat sunyi, bukan saat dipuji melainkan saat diuji, oleh mereka yang hanya punya kejujuran.
Dari sana kita bisa membedakan mana pemimpin yang sekadar tampil dan
mana yang benar benar hadir.

Post a Comment