Idul Adha tahun ini tetap datang
dengan takbir dan doa. Tetapi di banyak tempat, suasananya terasa tidak lagi
sama.
Jumlah hewan qurban disebut menurun
dibanding tahun lalu. Sebagian menyebut ekonomi sebagai penyebabnya. Itu
mungkin benar. Harga kebutuhan naik, sementara banyak keluarga hari ini lebih
sibuk menjaga dapur tetap menyala daripada memikirkan membeli hewan qurban.
Tetapi mungkin persoalannya tidak
sesederhana itu.
Sebab di saat sebagian orang merasa
berat membeli seekor kambing, kita juga melihat ada yang mampu membeli beberapa
ekor sapi sekaligus, lengkap dengan spanduk dan dokumentasi. Kadang yang
dipastikan hadir lebih dulu bukan panitia masjid, melainkan kamera.
Mungkin beginilah zaman bekerja.
Ibadah perlahan ikut masuk ke ruang pencitraan.
Dulu qurban membuat orang berkumpul
di halaman masjid. Yang kaya dan yang sederhana berdiri di tanah yang sama.
Kini sebagian memilih memotong sendiri. Alasannya boleh jadi soal kenyamanan
atau kepraktisan. Tetapi perlahan kita juga kehilangan ruang kebersamaan yang
dulu terasa hangat.
Yang lebih ironis, ada yang begitu
murah hati kepada masyarakat dan karyawannya, tetapi keluarganya sendiri merasa
jauh dari perhatian. Barangkali memang lebih mudah membagikan daging daripada
membagikan kasih sayang.
Padahal hakekat qurban yang
dicontohkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan tentang menunjukkan siapa paling
mampu. Qurban adalah tentang keikhlasan dan keberanian memotong ego diri
sendiri.
Karena sejatinya yang disembelih
bukan hanya sapi atau kambing. Tetapi juga sifat kebinatangan dalam diri
manusia. Kesombongan, kerakusan, dan keinginan untuk selalu dipuji.
Maka ketika sapi qurban dari
anggaran negara menuai kritik, masyarakat sebenarnya sedang bertanya sederhana:
apakah ibadah personal masih murni pengorbanan, atau perlahan berubah menjadi
bagian dari seremoni kekuasaan?
Mungkin masyarakat hari ini bukan
kehilangan iman untuk berbagi. Mereka hanya sedang lelah secara ekonomi dan
haus keteladanan.
Karena itu masyarakat tidak cukup
hanya dibantu dengan pembagian daging sesaat. Mereka perlu diberdayakan. Sebab
bantuan membuat orang bertahan beberapa hari, tetapi pemberdayaan membuat
masyarakat kembali memiliki daya hidup dan mampu menjadi pemberi.
Sebab qurban sejatinya lahir dari
masyarakat yang masih memiliki harapan.
Dan mungkin yang mulai berkurang
hari ini bukan hanya jumlah hewan qurban.
Tetapi keteladanan, kebersamaan, dan
keikhlasan yang dahulu membuat Hari Raya terasa lebih hangat.
Post a Comment