Yang Menyempit Bukan Rumah Saja



Rumah-rumah hari ini memang tampak semakin kecil. Ukurannya menyusut, dindingnya saling mendekat, dan ruang di dalamnya dipaksa saling berbagi. Namun yang diam-diam ikut mengecil barangkali bukan hanya bangunan, melainkan cara kita menerima, cara kita menyapa, dan cara kita memuliakan kedatangan orang lain.

 

Dulu rumah tidak hanya menjadi tempat pulang bagi tubuh yang lelah. Ia adalah tempat orang saling menemukan. Tempat hubungan dijaga tanpa perlu dibuat-buat. Dari ruang itulah keluarga meluas, tetangga terasa dekat, dan masyarakat menjadi bagian dari kehidupan yang utuh.

 

Ada satu ruang yang dahulu begitu penting, ruang tamu.

Bukan sekadar tempat duduk, tetapi tempat hati dibuka. Di sanalah orang luar menjadi dekat, yang asing menjadi akrab, dan yang jauh terasa seperti keluarga.

 

Perjumpaan tidak pernah datang sendiri. Ia selalu ditemani kesungguhan. Ada suguhan yang tidak sekadar mengenyangkan, tetapi menghadirkan rasa dihargai. Secangkir kopi yang diseduh perlahan, teh yang dihangatkan dengan perhatian, gelas kaca yang dibersihkan sebelum dan sesudah digunakan. Semua sederhana, tetapi penuh makna.

 

Hari ini, banyak yang berubah.

 

Rumah semakin sempit. Dari ukuran yang dulu lapang, kini tinggal ruang yang cukup untuk sekadar hidup. Ruang tamu tidak lagi berdiri sendiri. Ia menyatu dengan ruang lain, bahkan kadang menghilang tanpa sempat kita sadari. Yang tersisa hanya ruang yang cukup untuk duduk, tanpa sempat benar-benar menerima.

 

Cara menjamu pun ikut berubah.

 

Piring anyaman lidi berlapis kertas nasi menjadi pilihan. Praktis dan cepat. Namun ada pertanyaan yang sering kita lewatkan. Apakah benar-benar bersih. Apakah ia diperlakukan dengan kehormatan yang sama seperti piring kaca yang dicuci dengan tangan dan kesadaran. Atau kita hanya merasa cukup karena ia tampak baru.

 

Gelas kaca pun perlahan tergantikan. Cup sekali pakai hadir mengganti yang dulu dijaga dan digunakan berulang. Kita memilih yang mudah, tetapi lupa bertanya apakah ia ramah bagi lingkungan. Kita memilih yang cepat, tetapi lupa bahwa yang kita lepaskan bukan hanya kebiasaan, melainkan nilai.

 

Di mana kearifan lokal kita diletakkan.

Apakah ia masih tinggal di rumah-rumah kita, atau sudah ikut terbuang bersama sisa-sisa yang kita anggap praktis.

 

Di pekon, kita pernah memiliki cara yang lebih utuh untuk menjaga kebersamaan.

 

Dalam Nayuh, orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi untuk hadir sepenuhnya. Mereka duduk bersama dalam satu ruang, merapat tanpa sekat. Jika rumah tidak cukup, rumah tetangga dibuka. Tidak ada perhitungan, tidak ada batas yang kaku. Yang ada hanya rasa bahwa kebahagiaan adalah milik bersama.

 

Para raja dan tokoh adat duduk di hadapan pahar. Kuningan yang memuat hidangan lengkap itu tidak sekadar menjadi tempat makan. Ia adalah simbol penghormatan. Ia dijaga, tidak disentuh sembarang tangan, dan dihidangkan dengan adab yang tidak perlu diajarkan karena sudah hidup dalam kebiasaan.

 

Makan pada masa itu bukan sekadar mengisi perut. Ia adalah cara merawat hubungan. Cara menyatukan rasa. Cara menegaskan bahwa kita tidak hidup sendiri.

 

Kini kita mengenal prancisan.

Orang mengambil makanan di satu tempat, lalu berpindah ke kursi masing-masing. Tidak salah, tidak pula sepenuhnya keliru. Namun di sana ada jarak yang perlahan tumbuh. Kebersamaan yang dulu terasa utuh kini menjadi terpisah dalam diam.

 

Kita masih bertemu, tetapi tidak lagi benar-benar bersama.

Kita masih makan, tetapi tidak lagi saling merasakan.

 

Lalu kita bertanya, mengapa hubungan terasa renggang.

Mengapa kehangatan tidak lagi lama tinggal.

 

Mungkin jawabannya sederhana.

Karena yang menyempit bukan hanya rumah, tetapi juga ruang di dalam hati kita.

 

Di titik ini, ada harapan yang masih bisa disampaikan dengan pelan.

 

Kepada para pemuka adat, para penjaga nilai yang masih menyimpan ingatan tentang masa ketika kebersamaan dijaga dengan sungguh, kiranya berkenan menyalakan kembali apa yang belum sepenuhnya padam. Tidak perlu mengembalikan semuanya seperti dulu. Cukup merawat yang tersisa, menjaga yang masih hidup, dan menghidupkan kembali rasa dalam cara yang kita mampu.

 

Karena kearifan lokal tidak pernah benar-benar hilang.

Ia hanya menunggu untuk dipanggil, untuk dihidupkan kembali, untuk diberi tempat di tengah perubahan yang terus berjalan.

 

Rumah boleh berubah.

Ruang boleh menyempit.

Cara hidup boleh berganti.

 

Namun selama hati masih bersedia untuk menerima, selama kita masih mau duduk sedikit lebih dekat, menunggu sedikit lebih lama, dan memuliakan dengan sedikit lebih sungguh, maka kehangatan itu tidak akan benar-benar pergi.

 

Sebab pada akhirnya, rumah bukan tentang dinding yang berdiri, tetapi tentang rasa yang tinggal.

 

Dan selama rasa itu masih kita jaga, siapa pun yang datang tidak akan merasa asing. Ia akan merasa pulang.

Post a Comment

Previous Post Next Post