“Pagi yang Kita Tunda Berkali-Kali”

 



Pagi tidak pernah datang terlambat.

Ia selalu hadir tepat pada waktunya,

sementara yang kerap tertinggal

adalah kita yang enggan menyambutnya.

 

 

Di luar sana,

langit telah selesai berdamai dengan gelap,

matahari bersiap menyalakan hangatnya,

azan subuh sejak tadi memanggil pulang,

namun kita masih tenggelam

dalam sisa tidur

yang bahkan tak pernah benar-benar utuh.

 

 

Kita berkata tubuh masih lelah.

Kita beralasan semalam sulit terpejam.

Kita merasa waktu malam terlalu panjang,

penuh kegaduhan, penuh beban.

 

 

Lalu tudingan diarahkan pada malam,

seolah ia penyebab utama

dari setiap keterlambatan yang kita ulangi.

 

 

Padahal malam hanya menyediakan ruang,

kitalah yang mengisinya

dengan hal-hal yang tak kunjung selesai,

dengan cahaya layar yang tak pernah redup,

dengan pikiran yang enggan diajak tenang.

 

 

Kita terjaga bukan karena tuntutan,

melainkan karena tak ingin berhenti.

 

 

Kita menunda istirahat bukan karena tak mampu,

melainkan karena belum rela melepaskan

dunia kecil yang kita genggam sendiri.

 

 

Anehnya, sebelum mata terpejam,

kita masih sempat berjanji dalam diam,

bahwa esok akan disambut lebih awal.

 

 

Sebuah janji yang terdengar indah,

meski di dalam hati kita tahu

ia rapuh sejak diucapkan.

 

 

Alarm pun disiapkan,

seperti penjaga yang diberi tugas,

meski diam-diam kita telah merencanakan

untuk mengabaikannya.

 

 

Ketika bunyinya memecah sunyi,

itu bukan sekadar suara,

melainkan panggilan,

kesempatan,

dan sisa harapan yang mengetuk kesadaran.

 

 

Namun tangan bergerak lebih cepat

daripada niat yang baru tumbuh.

 

 

Suara itu dihentikan,

kesempatan itu diredam,

dan kita kembali terlelap

seolah waktu bisa diajak menunggu.

 

 

Akhirnya kita terbangun,

bukan karena kesiapan,

melainkan karena keadaan yang memaksa.

 

 

Semua berlangsung tergesa.

Air hanya menyentuh raga,

tanpa sempat menyegarkan batin.

Sholat menjadi rangkaian gerak,

bukan lagi perjumpaan yang dirindukan.

Sarapan sekadar mengisi perut,

tanpa ruang untuk rasa syukur.

 

 

Kita menjalani pagi

dengan tubuh yang hadir,

namun hati yang tertinggal di belakang.

 

Dan sekali lagi,

malam dijadikan alasan.

 

 

Padahal yang perlu diperiksa

bukan waktu yang datang dan pergi,

melainkan cara kita memperlakukannya

seolah ia selalu tersedia.

 

 

Padahal kenyataannya tidak demikian.

 

 

Detik tetap berjalan

meski kita terlelap.

Kesempatan terus bergeser

meski kita memilih menunda.

Hidup perlahan berkurang

meski kita belum benar-benar memulai.

 

 

Barangkali yang dibutuhkan

bukan suara pengingat yang lebih keras,

bukan pula alasan yang terus ditambah,

melainkan keberanian sederhana

untuk jujur kepada diri sendiri

 

 

bahwa kekalahan itu sering terjadi

bukan karena gelapnya malam

atau beratnya kantuk,

melainkan karena kebiasaan

yang diam-diam kita pelihara.

 

 

Dan pagi

tetap setia menunggu,

meski berkali-kali

kita memilih untuk tidak hadir.

Post a Comment

Previous Post Next Post