“Bandar Lampung Tidak Kekurangan Kendaraan, Tetapi Kekurangan Ruang”



Bandar Lampung terus tumbuh menjadi kota yang sibuk. Penduduknya tahun 2025 mencapai sekitar 1.226.210 jiwa, belum termasuk mahasiswa, pekerja, dan para pendatang yang datang silih berganti membawa harapan hidup di kota ini. Sementara luas Bandar Lampung hanya sekitar 197,22 kilometer persegi. Kota ini akhirnya seperti rumah yang terus menerima tamu, tetapi lupa memperluas ruang tamunya.

 

Di saat jumlah manusia terus bertambah, kendaraan justru tumbuh lebih cepat dari kesiapan kotanya. Data BPS menunjukkan jumlah kendaraan bermotor di Bandar Lampung tahun 2020 mencapai sekitar 945 ribu unit, lalu menembus lebih dari satu juta kendaraan pada tahun 2022 dan 2023. Angka yang diam-diam sedang memberi pesan bahwa jalan-jalan di kota ini mulai dipaksa bekerja melampaui kemampuannya.

 

Akibatnya kini terasa hampir di mana-mana.

Pagi macet. Siang macet. Sore macet. Bahkan malam mulai kehilangan tenangnya.

 

Beberapa tahun lalu, hari libur di Bandar Lampung masih terasa lengang. Jalan-jalan lebih longgar, perjalanan lebih santai, dan kota seperti diberi kesempatan bernapas sejenak. Tetapi sekarang suasananya mulai berbeda. Hari libur pun Bandar Lampung tetap macet. Menariknya, kemacetan itu sering didominasi kendaraan berplat nomor luar Bandar Lampung, bahkan luar Provinsi Lampung. Kota ini perlahan bukan hanya menjadi pusat aktivitas masyarakat lokal, tetapi juga menjadi titik pertemuan arus kendaraan dari banyak daerah.

 

Sementara pada hari kerja, kemacetan seperti punya jadwal tetap. Pagi hari masyarakat berbondong-bondong masuk kerja, anak-anak berangkat sekolah, mahasiswa menuju kampus, lalu semua kendaraan seperti dipaksa bertemu di waktu dan ruas jalan yang sama. Sore harinya keadaan berulang, orang pulang hampir bersamaan, dan jalan kembali berubah menjadi antrean panjang kesabaran.

 

Semua jalan utama di Bandar Lampung kini terasa macet. Hanya saja ada yang cepat terurai, ada pula yang butuh waktu lama untuk kembali bergerak normal. Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi ini perlahan mulai menular ke kawasan pinggiran kota yang dulu masih terasa lengang.

 

Hari-hari ini, warga Bandar Lampung seolah bukan hanya harus menyiapkan uang dan stamina untuk bepergian, tetapi juga harus menyiapkan waktu luang agar tidak terlambat sampai ke tempat tujuan.

 

Kadang yang lucu bukan macetnya, tetapi cara kita mulai terbiasa dengannya. Lampu merah tiga kali masih dianggap wajar. Kendaraan parkir memakan badan jalan dianggap biasa. Trotoar berubah fungsi dianggap lumrah. Bahkan ada yang menganggap kemacetan sebagai tanda kemajuan kota. Seolah-olah semakin padat kendaraan, semakin modern sebuah daerah.

 

Padahal kota yang maju bukan kota yang membuat warganya habis tenaga di jalan.

 

Macet tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh pelan-pelan, dari tata ruang yang kalah cepat dari pertumbuhan kendaraan, dari pembangunan yang kadang lebih sibuk menambah bangunan daripada menambah ruang gerak manusia.

 

Karena itu Bandar Lampung membutuhkan langkah besar, bukan sekadar tambal sulam musiman. Kota ini sudah waktunya memikirkan pembangunan jalan lingkar luar yang benar-benar terintegrasi agar beban kendaraan tidak seluruhnya menumpuk di pusat kota. Sebab bila semua arus dipaksa bertemu di titik yang sama, maka jalan raya perlahan berubah bukan lagi jalur perjalanan, tetapi tempat orang menghabiskan kesabaran.

 

Aturan batas sepadan jalan juga harus ditegakkan dengan serius. Jangan sampai bangunan berdiri terlalu mepet jalan, bahu jalan hilang, trotoar menyempit, lalu masyarakat dipaksa berebut ruang dengan kendaraan yang terus bertambah setiap tahun.

 

Mall, lembaga pendidikan, rumah sakit, pusat usaha, dan fasilitas umum lainnya juga harus memiliki lahan parkir yang memadai. Sebab sering kali kemacetan bukan hanya disebabkan banyaknya kendaraan, tetapi karena badan jalan diam-diam berubah fungsi menjadi tempat parkir gratis berjamaah.

 

Kita kadang terlalu sibuk membangun gedung yang menjulang, tetapi lupa menyediakan ruang agar kota tetap bisa bernapas.

 

Yang lebih mengkhawatirkan, kemacetan bukan hanya soal waktu yang terbuang. Emosi meningkat, polusi bertambah, dan kecelakaan ikut mengintai. Tahun 2024 tercatat 133 kejadian kecelakaan lalu lintas di Bandar Lampung. Angka yang mungkin terlihat biasa di atas kertas, tetapi sesungguhnya menyimpan cerita tentang keluarga yang menunggu seseorang pulang, lalu menerima kabar yang mematahkan harapan.

 

Ironisnya, di satu sisi kendaraan bermotor menjadi andalan pendapatan daerah melalui pajak dan retribusi. Kendaraan terus bertambah, pemasukan meningkat. Tetapi jalan tetap sempit, parkir semrawut, dan masyarakat makin akrab dengan kemacetan. Kota ini akhirnya seperti sedang rajin menghitung jumlah kendaraan, tetapi lupa menghitung berapa banyak waktu warganya yang habis di jalan.

 

Bila tidak ada langkah serius, dua sampai lima tahun ke depan Bandar Lampung bisa menjadi kota yang semakin melelahkan. Hari ini ribut banjir, besok ribut macet, lalu lusa sibuk menghitung korban kecelakaan.

 

Sebab kota yang baik bukan kota yang paling ramai kendaraannya, tetapi kota yang masih memberi ruang nyaman bagi manusia untuk hidup, bergerak, dan pulang tanpa terlalu banyak kehilangan waktu di jalan.


Post a Comment

أحدث أقدم