Bangkit yang Tinggal Upacara

 




Setiap tahun bendera kembali dikibarkan. Lagu kebangsaan kembali dinyanyikan. Barisan kembali dirapikan. Pidato tentang persatuan, perjuangan, dan pengabdian kembali diperdengarkan dengan suara yang penuh semangat.

 

Tetapi entah sejak kapan, banyak hal terasa hanya selesai di lapangan upacara.

 

Sejarah Kebangkitan Nasional sejatinya lahir dari penderitaan panjang. Dari rakyat yang diperas tenaganya, dibungkam suaranya, dan dipaksa hidup tunduk di tanahnya sendiri. Lalu lahirlah kesadaran bahwa bangsa ini tidak boleh terus hidup sebagai penonton di negeri sendiri.

 

Karena itu, kebangkitan bukan sekadar peristiwa sejarah. Ia adalah keberanian melawan ketidakadilan. Ia adalah keberpihakan kepada rakyat kecil. Ia adalah kesadaran bahwa kekuasaan seharusnya menjadi alat melayani, bukan alat menguasai.

 

Maka upacara bendera sejatinya bukan hanya seremoni tahunan. Ia seharusnya menjadi pengingat bahwa setiap jabatan hanyalah titipan. Bahwa setiap keputusan akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Tuhan.

 

Namun hari-hari ini, spirit kebangkitan terasa makin jauh dari kehidupan nyata.

 

Kata pengabdian terdengar di mana-mana, tetapi yang tumbuh justru perlombaan mencari posisi. Kata perjuangan terus diteriakkan, tetapi rakyat sering hanya hadir sebagai angka, tepuk tangan, dan latar belakang spanduk kegiatan.

 

Di tengah semua itu, kriminalitas meningkat. Pencurian, kekerasan, peredaran narkoba, dan berbagai kejahatan lain makin akrab di telinga masyarakat. Tetapi yang paling mudah disalahkan selalu mereka yang tertangkap di permukaan.

 

Pelaku kecil diburu dan dipertontonkan. Sementara akar persoalan sering dibiarkan tumbuh diam-diam.

 

Ada rakyat yang terdesak ekonomi hingga kehilangan arah. Ada anak muda yang tumbuh tanpa harapan lalu jatuh dalam lingkaran narkoba. Tetapi ketika semua meledak menjadi kejahatan, bangsa ini lebih sibuk menghukum akibat dibanding membenahi sebab.

 

Yang lebih ironis, para bandar besar dan cukong kadang tetap hidup nyaman di balik gelapnya keadaan. Sebagian bahkan tampil lantang berbicara tentang pemberantasan kejahatan, berteriak keras tentang moral dan ketertiban, seolah paling bersih di tengah kekacauan yang terjadi.

 

Lalu kita bertepuk tangan.

 

Kita marah kepada pencuri kecil, tetapi terlalu pelan mempertanyakan mengapa hidup rakyat makin sulit. Kita sibuk mengutuk pengguna narkoba, tetapi sering takut menyentuh jaringan besar yang menikmati kehancuran generasi muda.

 

Dan anehnya, sebagian masyarakat masih rela membela mati-matian mereka yang sesekali memberinya nasi bungkus, bantuan sesaat, atau janji menjelang musim kekuasaan.

 

Padahal mungkin di belakang semua itu ada lahan luas atas nama orang lain, ada kekayaan yang tumbuh dari jalan yang gelap, ada keluarga yang bergantian duduk di jabatan publik karena kolusi dan nepotisme yang perlahan dianggap biasa.

 

Rakyat kecil dibuat haru oleh pemberian kecil, sementara hak-haknya diambil pelan-pelan tanpa disadari.

 

Kita terlalu mudah tersentuh oleh pencitraan, tetapi terlalu jarang bertanya dari mana semua kemewahan dan kekuasaan itu berasal.

 

Padahal para pendiri bangsa sejak lama sudah mengingatkan bahwa setelah penjajah asing pergi, bangsa ini harus berhati-hati terhadap lahirnya penjajah dari bangsanya sendiri. Mereka yang wajahnya sama, bahasanya sama, bahkan ikut berdiri paling depan saat lagu kebangsaan dinyanyikan, tetapi diam-diam menjadikan rakyat sekadar alat mempertahankan kekuasaan.

 

Ayo bangkitlah bangsaku.

 

Bangkit bukan hanya dengan berdiri tegak saat upacara. Tetapi dengan keberanian membuka mata. Dengan keberanian mengenali siapa yang benar-benar bekerja untuk rakyat dan siapa yang hanya hidup dari penderitaan rakyat.

 

Sebab tidak semua yang berbicara tentang nasionalisme benar-benar mencintai negeri ini.

 

Ada yang memeluk rakyat saat membutuhkan dukungan, lalu melupakan rakyat setelah kursi kekuasaan berhasil diamankan.

 

Hari ini bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan pidato hebat. Tidak kekurangan slogan perjuangan.

 

Yang mulai langka adalah kejujuran, rasa malu, dan keteladanan.

 

Dan mungkin itulah sebabnya kebangkitan hari ini terasa tinggal upacara. Wallahualam bishawab

 

Post a Comment

أحدث أقدم