“Bangsa Ini Tidak Selalu Runtuh Karena Krisis, Kadang Ia Lelah Karena Kehilangan Rasa Adil”

 


Saya membaca tulisan Prof. Dr. Nairobi di heloIndonesia.com tanggal 23 Mei 2026 tentang kemungkinan krisis 1997/1998 terulang kembali di Indonesia. Tulisan itu tenang, hati-hati, dan penuh pertimbangan akademik. Tidak menakut-nakuti, tetapi juga tidak meninabobokan.

 

Dan mungkin memang seperti itulah seharusnya seorang ilmuwan berbicara kepada bangsanya, mengingatkan tanpa membakar kepanikan.

 

Tetapi sebagai orang yang tumbuh dalam ingatan panjang tentang reformasi, tentang demonstrasi, tentang teriakan melawan korupsi, kolusi, dan nepotisme, saya merasa ada satu hal yang kadang luput dibahas ketika orang berbicara soal krisis ekonomi : bahwa krisis sering kali tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan dari pembiaran, dari rasa cukup terhadap keadaan yang sebenarnya belum baik-baik saja, dari kebiasaan menutup persoalan dengan pencitraan, dan dari kelelahan rakyat kecil yang terlalu lama diminta mengerti keadaan.

 

Tahun 1998 dahulu bukan hanya soal rupiah yang jatuh. Yang lebih jatuh dari itu adalah rasa percaya. Masyarakat menyaksikan jarak yang begitu lebar antara kehidupan elite dan kenyataan rakyat biasa. Ada yang sibuk menyelamatkan kepentingannya sendiri, sementara di sudut-sudut rumah sederhana, orang tua mulai bingung memikirkan harga beras, biaya sekolah, dan masa depan anak-anaknya.

 

Hari ini memang kondisinya berbeda. Seperti yang dijelaskan Prof Nairobi, fondasi ekonomi Indonesia jauh lebih kuat dibanding masa lalu. Sistem perbankan lebih baik, pengawasan lebih ketat, dan ruang demokrasi lebih terbuka. Tetapi sejarah mengajarkan, bangsa tidak hanya diuji oleh angka-angka ekonomi. Bangsa diuji oleh rasa keadilannya.

 

Sebab rakyat Indonesia sebenarnya bukan masyarakat yang mudah marah. Mereka terbiasa hidup sederhana, terbiasa menahan kecewa, bahkan terlalu sering memaklumi keadaan. Tetapi ada satu hal yang diam-diam mengikis ketahanan sosial : ketika pengorbanan terasa tidak dibagi secara adil. Ketika rakyat diminta bersabar, tetapi kemewahan dipamerkan tanpa rasa. Ketika masyarakat diminta memahami kondisi negara, tetapi korupsi terus muncul dengan wajah baru. Ketika suara kritik dianggap mengganggu, padahal kritik sering lahir karena cinta kepada negeri.

 

Di situlah keresahan pelan-pelan tumbuh. Bukan langsung menjadi kerusuhan, tetapi menjadi rasa lelah kolektif. Dan bangsa yang lelah biasanya mulai kehilangan harapan.

 

Saya percaya Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Negeri ini juga tidak kekurangan sumber daya. Yang sering kurang hanyalah keberanian untuk benar-benar menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok. Karena itu, pembicaraan tentang ancaman krisis seharusnya tidak berhenti pada kurs rupiah, indeks saham, atau utang negara semata. Kita juga perlu berbicara tentang moral kekuasaan, tentang keteladanan, tentang kesederhanaan pejabat, dan tentang keberpihakan kepada rakyat kecil yang hari-hari ini hidupnya makin sunyi dari perhatian.

 

Sebab rakyat kecil tidak terlalu peduli istilah fiskal ekspansif atau tekanan pasar global. Yang mereka rasakan sederhana : harga kebutuhan naik, pekerjaan sulit, dan masa depan terasa makin mahal.

 

Tulisan Prof Nairobi mengingatkan kita agar tidak gegabah menyamakan situasi hari ini dengan 1998. Dan itu benar. Sejarah tidak pernah hadir dengan wajah yang persis sama. Tetapi sejarah juga punya kebiasaan lain : ia sering mengetuk pelan sebelum akhirnya mendobrak keras.

 

Karena itu, bangsa ini mungkin tidak akan runtuh hanya karena rupiah melemah atau pasar global bergejolak, tetapi bisa benar-benar rapuh ketika rakyat mulai kehilangan rasa percaya kepada keadilan, ketika kekuasaan terasa semakin jauh dari penderitaan masyarakat kecil, dan ketika jabatan lebih sibuk menjaga kepentingan kelompok dibanding menjaga harapan rakyatnya sendiri; karena krisis ekonomi masih bisa dipulihkan dengan kebijakan, tetapi jika harapan dan kepercayaan rakyat ikut runtuh, maka yang hilang bukan sekadar stabilitas negara, melainkan perlahan-lahan jiwa dari bangsa itu sendiri.

Post a Comment

أحدث أقدم