Dulu,
di hampir setiap pekon di Liwa, ada sebuah bangunan kecil yang hari ini mulai
jarang ditemukan. Namanya *Balai*. Bentuknya sederhana, ukurannya hanya sekitar
enam sampai sembilan meter persegi. Tidak mewah dan tidak tampak istimewa.
Tetapi bagi jelma pekon waktu itu, balai adalah tempat menyimpan ketenangan
hidup.
Balai
biasanya mudah ditemui di pekon-pekon, terutama di wilayah yang mayoritas
dihuni etnis Lampung. Ada yang berdiri sendiri di samping rumah, ada pula yang
berjajar dalam satu komplek. Dari jauh ia terlihat biasa saja, namun di
dalamnya tersimpan padi hasil panen setahun.
Saat
itu, hasil panen padi tidak untuk dijual dan tidak pula dihabiskan sekaligus.
Saat keluarga membutuhkan beras, mareka tinggal ngilik ke balai. Mengambil seperlunya. Sebab orang tua dulu
memahami satu hal yang hari ini perlahan mulai hilang: hidup tidak selalu
mudah, musim tidak selalu baik, dan dapur harus tetap mengepul meski keadaan
sedang sulit.
Karena
itu hasil sawah dan ladang kala itu hanya dipakai untuk makan keluarga,
membantu saudara, menjamu tamu saat hajatan, dan memastikan tidak ada anggota
rumah yang tidur dalam lapar. Kalaupun ada yang di jual biasanya karena sudah
sangat berlebih semisal hasil panen yang lalu masih banyak atau ada keperluan
mendesak lainnya.
Untuk
kebutuhan harian, jelma pekon biasanya bertumpu pada apa yang tumbuh di sekitar
mareka sendiri. Ada sayur-sayuran, singkong dari ladang, pisang di belakang
rumah, selada air dan talas dari sawah, ikan dari sawah yang tidak pernah
kering meskipun musin kemarau, serta ayam peliharaan di pekarangan. Kalau
membutuhkan uang tambahan, biasanya ada hasil menjual kulit kayu manis, pete,
durian, alpukat, dan buah-buahan musiman lainnya.
Mungkin
karena itu dulu orang tidak banyak memegang uang, tetapi kehidupan tetap
berjalan. Alam seperti ikut menjaga dapur-dapur sederhana di pekon.
Bahkan
bagi keluarga yang memiliki anak sedang sekolah atau kuliah di kota, biasanya
mareka memelihara sapi atau kambing. Hewan ternak itu dirawat bertahun-tahun
seperti menyimpan harapan. Saat tiba waktunya membayar biaya pendidikan, sapi
atau kambing itu dijual. Hasilnya selain untuk membayar keperluan saat itu,
juga ditabung untuk memenuhi kebutuhan berikutnya.
Ada
orang tua yang rela menahan banyak keinginan demi memastikan ternaknya tetap
hidup sampai waktunya bisa dijual. Dan anehnya, meski hidup mareka sederhana,
banyak anak-anak pekon waktu itu tetap bisa sekolah dengan tenang.
Begitu
pula dengan kopi. Dulu hasil panen kopi tidak langsung habis dijual. Sebagian
memang dijual untuk kebutuhan penting, tetapi sebagian lagi dititipkan kepada
penampung hasil bumi di pekon atau di pekon tetangga. Yang menarik, harga kopi
mengikuti harga pasar saat pemilik hendak menjual, bukan saat kopi dititipkan.
Di sana
ada sesuatu yang hari ini mulai mahal nilainya: rasa percaya. Orang dulu
percaya bahwa tetangga bukan ancaman dan rezeki tidak boleh memutus
persaudaraan.
Selain
itu masyarakat juga mengenal *Bebatok*. Gotong royong yang lahir bukan sekadar
karena tinggal satu lingkungan, tetapi tumbuh dari hubungan keluarga dan
kedekatan hati. Saat ada yang membangun rumah, membuka kebun, atau punya
hajatan, keluarga dan kerabat datang membantu tanpa sibuk menghitung upah. Yang
bekerja bukan hanya tenaga, tetapi juga rasa memiliki.
Lalu
ada pula *Belin*. Tradisi bekerja bergantian di sawah atau ladang tanpa
bayaran. Tidak ada amplop dan tidak ada kuitansi. Yang ada hanyalah rasa malu
bila tidak membalas kebaikan saudara sendiri. Jika hari ini si A membantu dua
hari di kebun si B, maka nanti si B juga akan membantu dua hari di kebun si A.
Sederhana.
Tetapi justru dari kesederhanaan itulah pekon dulu terasa kuat.
Hari
ini pemerintah sedang mendorong berbagai program ketahanan pangan. Tujuannya
tentu baik, agar masyarakat mampu menghadapi keadaan ekonomi yang tidak menentu
dan ancaman krisis pangan yang sewaktu-waktu bisa datang.
Namun
kadang saya berpikir, sesungguhnya jelma pekon dulu telah lebih dahulu
menjalankan ketahanan pangan itu dalam kehidupan sehari-hari, meski tanpa
istilah-istilah besar dan tanpa banyak rapat.
Balai
adalah ketahanan pangan. Sawah dan ladang yang dijaga bersama adalah ketahanan
pangan. Kebiasaan menyimpan kopi dan hasil bumi untuk masa sulit juga adalah
ketahanan pangan. Bahkan cara orang tua memelihara sapi demi pendidikan anaknya
pun sesungguhnya bagian dari ketahanan hidup yang nyata.
Karena
itu masyarakat hari ini sebenarnya tidak cukup hanya didampingi. Masyarakat
perlu diberdayakan. Sebab pendampingan sering kali hanya membuat masyarakat
ditemani sementara, sedangkan pemberdayaan membuat masyarakat mampu berdiri
dengan kekuatannya sendiri.
Pendampingan
kadang berhenti ketika program selesai. Tetapi pemberdayaan meninggalkan
kemampuan dan kesadaran yang tetap hidup meski tidak lagi diarahkan.
Dan
sesungguhnya, jelma pekon dulu telah lama mempraktikkan pemberdayaan tanpa
banyak teori. Balai adalah pemberdayaan. Belin adalah pemberdayaan. Bebatok
adalah pemberdayaan. Bahkan cara orang tua memelihara sapi demi sekolah anaknya
juga adalah pemberdayaan. Karena semua itu membuat masyarakat mampu bertahan
dengan kemampuan sendiri.
Maka
menghidupkan kembali pekon hari ini bukan hanya soal membangun fisik atau
membagikan bantuan. Tetapi juga tentang menghidupkan kembali rasa percaya diri
masyarakat terhadap sawahnya, kebunnya, ternaknya, dan persaudaraannya.
Sebab
masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang terus menunggu bantuan datang,
tetapi masyarakat yang kembali percaya pada kemampuan dirinya sendiri.
Dan
saya percaya, nilai-nilai lama itu sebenarnya belum benar-benar hilang. Ia
hanya mulai redup. Tertutup oleh zaman yang membuat orang terlalu sibuk mengejar
banyak hal, sampai lupa bahwa dulu jelma pekon pernah hidup tenang karena
saling menjaga.
Mereka
mungkin tidak memiliki banyak harta. Tetapi mareka memiliki sesuatu yang hari
ini mulai sulit dicari: rasa cukup, rasa percaya, dan keyakinan bahwa kehidupan
akan terasa lebih ringan bila dijaga bersama-sama.
إرسال تعليق