**Jam Dihormati, Hasil Dinegosiasi**
Ada yang diam-diam kita tahu, tetapi sering kita
pura-pura tidak melihatnya bahwa wajah sebuah instansi bukan hanya dibentuk
oleh undang-undang, melainkan oleh siapa yang duduk di kursi paling depan.
Aturan boleh seragam dari pusat hingga kabupaten seperti doa yang sama dibaca
di banyak tempat, tetapi tafsirnya beranak pinak di tangan pemimpin. Di sanalah
budaya kerja lahir, tumbuh, dan pelan-pelan mengambil alih arah.
Maka jangan heran jika satu OPD terasa seperti ruang yang
penuh garis lurus setiap huruf harus tegak, setiap angka presisi, setiap titik
dan koma patuh. Salah sedikit, ulang. Salah lagi, cetak ulang. Hingga seratus
kali pun tak mengapa, sebab bagi mereka ketertiban administrasi adalah iman
yang tidak boleh goyah. Kesalahan kecil bukan sekadar keliru, ia pelanggaran
terhadap martabat kerja.
Di sisi lain, ada OPD yang bernafas lebih longgar. Mereka
percaya substansi adalah jantung, sementara administrasi adalah kulit yang bisa
menyesuaikan. Yang penting tepat, tidak melanggar, dan bergerak. Kertas boleh
lentur, langkah tidak boleh kaku. Pekerjaan mengalir, menyesuaikan keadaan,
mencari bentuknya, tetapi tetap menuju muara.
Perbedaan itu tidak berhenti pada cara memandang berkas.
Ia menjalar hingga cara memandang waktu sesuatu yang bagi sebagian orang adalah
garis tegas, dan bagi sebagian lain adalah ruang yang bisa ditawar.
Yang satu berdiri tegak dengan jam di tangan. Waktu
adalah disiplin yang tidak boleh diganggu. Pukul sekian harus mulai, pukul
sekian harus selesai. Tidak ada ruang untuk terlambat, bahkan semenit pun
terasa sebagai pelanggaran terhadap sistem. Ketepatan waktu adalah kehormatan.
Sementara yang lain memandang waktu dengan cara yang
lebih lentur. Produktivitas tidak diukur dari kapan dimulai dan diakhiri,
tetapi dari kesungguhan menjalankan tugas. Maju atau mundur dari jadwal tidak
dianggap masalah selama hasil tetap utuh, tetap berkualitas, tetap tidak
melanggar aturan meskipun kelonggaran ini sering berjalan di tepi yang rawan.
Di sinilah ironi itu berdiri dengan tenang kita begitu
khusyuk menghormati jam, tetapi diam-diam bernegosiasi dengan hasil. Kita bisa
sangat disiplin memulai, tetapi tidak cukup jujur menuntaskan. Kita bisa tepat
waktu hadir, tetapi terlambat memberi makna.
Mirisnya, pada level bawah sering tumbuh kehati-hatian
yang berlebih jika tidak mau dibilang suudzon setiap kali pekerjaan datang. Ada
ragu yang tak diucapkan, ada waspada yang berlebihan, seolah setiap langkah
harus menunggu isyarat. Pola kerja yang terlalu dikendalikan dari atas perlahan
membentuk mental yang tidak lagi lincah, tidak lagi berani mengambil inisiatif.
Niat baik pun tersendat, bukan karena tidak mampu, tetapi karena takut
melangkah tanpa restu. Dan di titik itu, pekerjaan kembali melambat bukan oleh
kurangnya tenaga, tetapi oleh hilangnya keberanian.
Dua keyakinan ini ketika berjumpa sering tidak saling
melengkapi, melainkan saling menguji. Yang satu melihat kelonggaran sebagai
pintu ketidaktertiban. Yang lain melihat kekakuan sebagai penghambat gerak.
Percikan pun lahir bukan karena salah satu pasti keliru, tetapi karena keduanya
membawa cara pandang berbeda tentang tanggung jawab.
Bayangkan sebuah rapat awal. Bagi penganut administrasi
rapi, menghadap pimpinan daerah sebelum berkas siap adalah tabu. Bagi penganut
substansi, arahan pimpinan adalah pintu pertama yang harus diketuk. Dua niat
baik, dua jalan yang tidak selalu berpapasan.
Kebekuan biasanya tidak mencair oleh dokumen atau surat
edaran. Ia mencair ketika pemimpin level menengah berani melangkah lebih dulu,
menjembatani, menerjemahkan, dan menahan ego sektoral. Mereka jarang terlihat,
tetapi menjadi poros yang membuat roda tetap berputar.
Ketika ruang tengah itu kosong atau diisi oleh keraguan,
kebekuan berubah menjadi dinding. Komunikasi tersendat, prasangka menguat, dan
agenda yang semula ditulis dengan optimisme perlahan molor lalu tertunda.
Di situlah kita sadar bahwa birokrasi bukan sekadar
aturan, tetapi manusia yang menafsirkan aturan. Keterlambatan bukan semata
persoalan teknis, tetapi buah dari ego yang tidak terkelola. Kemajuan bukan
hanya lahir dari rencana besar, tetapi dari kemampuan memahami cara kerja yang
berbeda.
Barangkali yang kita butuhkan bukan memilih menjadi rapi
atau mengalir, melainkan keberanian menjadi jembatan yang tahu kapan harus
tegak seperti garis dan kapan harus lentur seperti air.
Sebab pada akhirnya jam hanyalah alat, bukan tujuan. Dan hasil tidak seharusnya dinegosiasi, apalagi dikompromikan diam-diam. Ia harus diperjuangkan dengan kejujuran yang sama seperti kita menghormati waktu.. Wallahu A'lam Bish Shawab.
Post a Comment