Ada orang-orang yang tidak lagi
hidup dari kerja, tetapi dari peran.
Bukan dari apa yang ia lakukan,
melainkan dari bagaimana ia terlihat.
Dalam tulisan saya sebelumnya,
16 April 2026, “Yang Bukan Siapa-siapa”, saya sempat menyinggung tentang
pemimpin yang gemar gimmick. Pemimpin yang lebih sibuk mengatur sorot lampu
daripada menata arah. Dari sana, lahirlah anak buah yang “menjadi”: menjadi sok
pintar, menjadi sok wibawa, menjadi sok sibuk. Mereka tidak tumbuh, hanya
tampak seperti tumbuh.
Kini, sandiwara itu berkembang.
Anak buah yang “menjadi” tidak
lagi bermain sendirian. Ia mulai menulis skenario baru: mengumpulkan pengikut,
membangun lingkaran kecil, menciptakan gema agar suaranya terdengar lebih besar
dari kenyataan. Bukan untuk kebaikan bersama, tetapi untuk memastikan dirinya
tetap aman di panggung yang rapuh.
Di situlah krisis eksistensi
itu menemukan bentuknya.
Ia tidak cukup berdiri dengan
dirinya sendiri. Ia butuh pengakuan. Ia butuh cerita yang terus diulang, meski
harus dibumbui. Di depan rekan-rekannya, ia tampil sebagai orang dekat atasan,
seolah-olah setiap keputusan besar melewati telinganya. Kata-katanya panjang,
penuh rahasia yang sengaja diumbar agar tampak berharga. Bahkan, sesekali ia
membuka aib atasannya sendiri, hanya agar dipercaya.
Di depan rekannya, sang anak
buah yang dua muka itu tampak seolah-olah paling paham segalanya. Ia
menempatkan diri sebagai bawahan kepercayaan atasan, seakan-akan dialah pintu
masuk segala keputusan. Namun di hadapan atasannya, ia berubah seperti ayam
sayur yang habis diguyur air. Kaku. Tak berdaya. Tak mampu berkata apa-apa
selain “iya pak”, “siap pak”, “betul pak”, “cocok pak”, dan seterusnya.
Namun di hadapan atasan,
naskahnya memang selalu berubah.
Ia menjadi bersih, rapi, dan
patuh. Ia tak segan menjelekkan rekannya sendiri demi mengangkat dirinya. Ia
menukar kebenaran dengan posisi aman. Dalam satu waktu, ia bisa menjadi dua
orang yang berbeda, tanpa merasa perlu menjelaskan siapa yang asli.
Di tengah riuhnya kata-kata
itu, ada satu pengingat yang terasa sederhana, namun tajam dalam makna:
“Maka lakukanlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Fussilat: 40)
Barangkali kita merasa bebas
berkata sesuka hati. Namun pada akhirnya, kata-kata itu tidak berhenti sebagai
bunyi. Ia menjelma menjadi sikap, menjadi kebiasaan, menjadi diri. Kita
pelan-pelan menjadi apa yang kita ucapkan.
Dan anehnya, ia bertahan.
Sebab ia hidup dalam sistem
yang memberi ruang bagi sandiwara. Pemimpin yang gemar gimmick tidak
membutuhkan kejujuran yang sunyi. Ia lebih menyukai loyalitas yang berisik,
yang tampak, yang mudah dipuji, yang bisa dipertontonkan.
Maka panggung itu terus
berdiri.
Pemimpin memainkan citra.
Bawahan memainkan peran. Penonton, kita semua, perlahan terbiasa. Yang jujur
menjadi canggung. Yang apa adanya terasa ketinggalan. Dan yang paling lihai
berpura-pura justru dianggap paling layak dipercaya.
Di titik ini, sandiwara tidak
lagi terasa sebagai kebohongan. Ia berubah menjadi kebiasaan.
Dan dari kebiasaan itulah,
lahir kenyamanan yang menipu.
Bawahan dengan dua muka bisa
hidup “bahagia”. Ia tahu ke mana harus condong, kapan harus diam, kapan harus
menyerang. Ia mungkin tidak benar-benar dihormati, tetapi ia selamat. Dan di
lingkungan yang keliru, keselamatan sering disalahartikan sebagai keberhasilan.
Namun ada yang perlahan
terkikis, hampir tak terasa.
Kepercayaan.
Ketika kepercayaan hilang,
organisasi hanya tinggal tubuh tanpa ruh. Ia bergerak, tetapi kosong. Ia ramai,
tetapi sepi. Ia penuh suara, tetapi kehilangan makna.
Barangkali kita tidak sedang
kekurangan orang pintar.
Kita hanya terlalu lama
memelihara sandiwara.
Dan di tengah semua itu, ada
pertanyaan yang diam-diam menunggu dijawab
Masih adakah yang berani hidup
tanpa peran?
Post a Comment