Pemberdayaan Absen, Pendampingan Pura-Pura Hadir

  


Ada yang seolah pergi dari desa, tanpa pamit, tanpa upacara, tanpa berita kehilangan. Ia bukan orang, bukan pula bangunan. Ia adalah pemberdayaan, sesuatu yang dulu sering kita ucapkan dengan penuh keyakinan, seolah-olah ia benar-benar hidup dan bekerja di tengah masyarakat. Kini, ia masih tertulis rapi di papan nama Organisasi Perangkat Daerah (OPD), di dokumen resmi, di laporan yang disusun dengan bahasa yang tertib dan meyakinkan. Tapi kehadirannya, entah di mana.

 

Kita masih menyebutnya pemberdayaan masyarakat desa, seakan kata itu cukup untuk menghadirkan makna. Padahal di lapangan, yang berjalan justru sesuatu yang lain, pendampingan. Itu pun sebagian besar bukan pendampingan yang kita bayangkan dulu, yang duduk bersama warga, menyentuh persoalan hidup mereka, dan perlahan mengantarkan mereka menuju kemandirian. Yang ada sekarang lebih mirip aktivitas administratif yang dibungkus rapi, kadang berpindah dari ruang rapat ke layar-layar dingin bernama pertemuan daring. Masyarakat yang seharusnya disentuh, justru terasa semakin jauh.

 

Padahal perbedaan antara pemberdayaan dan pendampingan begitu terang, bahkan tanpa harus dijelaskan panjang lebar. Pemberdayaan adalah proses menyalakan daya dalam diri manusia, membuat yang lemah menjadi kuat, yang bergantung menjadi mandiri, yang diam menjadi berani menentukan arah hidupnya. Ia bukan sekadar kegiatan, melainkan perjalanan batin dan sosial yang menyentuh langsung masyarakat. Sementara pendampingan adalah proses menemani, menyertai, memfasilitasi, ia penting, tetapi ia hanyalah jembatan, bukan tujuan. Ia seharusnya mengantar, bukan menggantikan.

 

Yang membuatnya semakin getir, pendampingan yang tersisa hari ini pun mulai kehilangan arah. Ia tidak lagi menyasar individu atau masyarakat secara langsung, tetapi lebih sering berhenti di level lembaga dan instansi. Hubungan yang seharusnya hangat berubah menjadi formal, yang seharusnya dekat menjadi berjarak. Bahkan dalam banyak kesempatan, pendampingan cukup dilakukan dari jauh, cukup dengan pertemuan daring, cukup dengan laporan, cukup dengan kehadiran simbolik. Seolah-olah kehadiran bisa digantikan oleh sinyal, dan kedekatan bisa disubstitusi oleh koneksi internet.

 

Di titik ini, kita patut bertanya dengan jujur, ke mana perginya pemberdayaan. Apakah ia terlalu berat untuk dijalankan, terlalu lama untuk menunjukkan hasil, atau terlalu jujur sehingga sulit disesuaikan dengan ritme birokrasi yang serba cepat dan serba ingin terlihat selesai. Pemberdayaan memang tidak instan. Ia tidak selalu menghasilkan angka yang mudah dipresentasikan. Ia menuntut kesabaran, kehadiran, dan keberanian untuk benar-benar bersama masyarakat, bukan sekadar di atas kertas.

 

Dan di tengah kegelisahan itu, ada rindu yang diam-diam tumbuh, rindu pada tokoh-tokoh pemberdayaan yang dulu berjalan dari desa ke desa, menembus jalan becek, menghampiri dan singgah di rumah warga, makan seadanya, tetapi hatinya penuh. Mereka tidak sekadar datang membawa program, mereka datang membawa keyakinan. Mereka memegang teguh sebuah kredo yang sederhana namun dalam, pergilah kepada masyarakat, tinggallah bersama mereka, cintailah mereka, layanilah mereka, belajarlah kepada mereka, belajar bersama mereka, mulai dengan apa yang mereka miliki, buat rencana bersama mereka, ajari mereka dengan memberi contoh.

 

Kredo itu bukan sekadar kalimat, tetapi napas dari setiap langkah mereka. Dari situlah lahir kepercayaan, dari situlah tumbuh keberanian masyarakat untuk bangkit. Mereka tidak hadir sebagai orang yang paling tahu, tetapi sebagai manusia yang mau belajar bersama. Mereka tidak berdiri di depan untuk memerintah, tetapi berjalan di samping untuk menguatkan.

 

Kini, kredo itu terasa semakin jauh, tenggelam di balik meja kerja, hilang di antara tumpukan laporan, dan nyaris tak terdengar di ruang-ruang rapat. Kita lebih sibuk menyusun kata daripada menyentuh kehidupan. Lebih fasih menjelaskan konsep daripada menghidupkan makna.

 

Jika memang pemberdayaan telah lama absen, sementara pendampingan pun hanya pura-pura hadir, maka mungkin yang perlu kita benahi bukan hanya program, tetapi juga kejujuran kita dalam memberi nama. Sebab ada yang terasa janggal ketika sebuah lembaga terus menyebut dirinya sebagai pelaku pemberdayaan, sementara yang dikerjakan tak lebih dari pendampingan yang berjarak. Bukankah lebih jujur jika kita menyebutnya apa adanya. Mengganti nama mungkin terdengar sederhana, tetapi setidaknya ia menyelamatkan kita dari kebiasaan memelihara istilah tanpa makna.

 

Namun, rindu itu belum sepenuhnya padam. Ia masih hidup di ingatan, di cerita-cerita lama, di jejak-jejak kecil yang pernah ditinggalkan oleh mereka yang sungguh-sungguh mencintai masyarakat. Dan mungkin, dari rindu itulah, suatu hari nanti pemberdayaan akan benar-benar kembali, bukan sebagai nama, tetapi sebagai kerja yang nyata, sebagai kehadiran yang utuh, sebagai cinta yang tidak pura-pura. Wallahu a'lam bishowab

Post a Comment

Previous Post Next Post