Setiap tahun, SPMB (Sistem
Penerimaan Murid Baru) selalu menjadi musim yang mendebarkan. Yang berdebar
bukan hanya para siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SD, SMP,
atau SMA, tetapi juga para orang tua yang ikut menanggung harapan, kecemasan,
dan doa. Bagi sebagian keluarga, hasil SPMB bukan sekadar angka, melainkan
penentu arah perjalanan pendidikan anak-anak mereka.
Karena itu, pelaksanaan Tes Potensi
Akademik SPMB Provinsi Lampung selalu menarik perhatian. Ketika hasil sesi
pertama yang dilaksanakan pada Senin, 8 Juni 2026 diumumkan, publik kembali
diingatkan bahwa Lampung tidak pernah kekurangan anak-anak cerdas. Dari 27 SMA
Negeri Unggul Prestasi yang diumumkan, terdapat empat sekolah yang peringkat
pertamanya diraih oleh lulusan madrasah tsanawiyah, yakni MTsN yang berhasil
menempatkan alumninya di posisi teratas di SMAN 1 Liwa, SMAN 1 Tulang Bawang Tengah,
SMAN 3 Kotabumi, dan SMAN 9 Bandar Lampung. Bahkan di SMAN 9 Bandar Lampung,
peringkat pertama diraih dengan nilai sempurna 100.
Fakta ini menyampaikan pesan yang
sangat penting. Persoalan pendidikan kita sesungguhnya bukan terletak pada
minimnya potensi generasi muda. Anak-anak Lampung terbukti mampu bersaing,
belajar, dan berprestasi. Mereka datang dari berbagai latar belakang sekolah,
dari kota maupun daerah, dari sekolah umum maupun madrasah. Ketika diberi
kesempatan, mereka mampu menunjukkan kualitas yang membanggakan.
Namun pendidikan yang baik tidak
boleh berhenti pada angka, peringkat, dan nilai ujian. Kita tidak sedang
menyiapkan generasi yang hanya pandai menjawab soal pilihan ganda. Kita sedang
menyiapkan manusia yang kelak akan memimpin keluarga, masyarakat, bahkan bangsa
ini. Karena itu, ajarilah anak-anak bukan hanya dengan hafalan, teori, dan
rumus. Ajarilah mereka dengan keteladanan, kejujuran, dan konsistensi. Sebab
anak-anak lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada mengingat apa yang
mereka dengar. Mereka perlu dibimbing menjadi generasi yang cerdas pikirannya,
jujur perilakunya, baik akhlaknya, serta bertanggung jawab tidak hanya kepada
manusia, tetapi juga kepada Tuhan, dalam urusan dunia maupun akhirat.
Di tengah kabar menggembirakan itu,
muncul pula cerita yang layak menjadi perhatian bersama. Sejumlah peserta yang
mengikuti tes di SMAN 2 Bandar Lampung mengeluhkan adanya gangguan pada sistem
saat ujian berlangsung. Menurut pengakuan peserta, website ujian sempat
mengalami kendala sekitar sepuluh menit sehingga mereka tidak dapat melanjutkan
pengisian jawaban. Waktu terus berjalan, sementara layar tidak memberikan
kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
Ketika kondisi tersebut ditanyakan
kepada pengawas, jawaban yang diterima cukup sederhana: "Sabar ya,
Nak."
Kalimat itu tentu baik sebagai
nasihat kehidupan. Dalam banyak hal, kesabaran memang penting. Tetapi dalam
sebuah sistem seleksi yang menentukan masa depan anak-anak, kesabaran tidak
dapat menggantikan waktu yang hilang. Server yang bermasalah tidak otomatis
pulih karena peserta bersabar. Sistem digital memerlukan kesiapan teknis,
antisipasi risiko, dan mekanisme penanganan gangguan yang jelas.
Di sinilah pendidikan sesungguhnya
sedang memberikan pelajaran yang tidak tertulis di dalam soal ujian. Anak-anak
belajar bukan hanya dari guru dan buku, tetapi juga dari sistem yang dibuat
oleh orang-orang dewasa. Ketika kita meminta mereka berlaku jujur, maka sistem
harus menunjukkan keadilan. Ketika kita meminta mereka disiplin, maka
penyelenggara harus menunjukkan profesionalisme. Ketika kita mengajarkan
tanggung jawab, maka institusi juga harus berani bertanggung jawab atas setiap
kekurangan yang terjadi.
Sepuluh menit mungkin terdengar
singkat bagi sebagian orang. Namun dalam ruang ujian, sepuluh menit bisa
menjadi pembeda antara satu soal dan beberapa soal yang tidak sempat dijawab.
Dalam kompetisi yang ketat, setiap menit memiliki nilai yang sangat berharga.
Lebih dari itu, gangguan teknis juga berpotensi mengganggu konsentrasi dan
kondisi psikologis peserta yang sedang berusaha memberikan kemampuan
terbaiknya.
Tulisan ini bukan untuk mencari
siapa yang salah. Kita patut mengapresiasi upaya digitalisasi sistem penerimaan
murid baru yang terus dilakukan pemerintah. Tidak ada sistem teknologi yang
sepenuhnya bebas dari gangguan. Namun justru karena menyangkut masa depan
ribuan anak, setiap gangguan harus menjadi bahan evaluasi yang serius. Jika
memang terjadi kendala teknis, harus tersedia prosedur yang menjamin tidak ada peserta
yang dirugikan, baik melalui penambahan waktu, pencatatan insiden, maupun
langkah mitigasi lainnya.
Kita sering berbicara tentang
Generasi Emas Indonesia. Kita mendorong anak-anak untuk belajar lebih keras,
berkompetisi lebih sehat, dan meraih prestasi setinggi mungkin. Tetapi pada
saat yang sama, negara dan penyelenggara pendidikan juga memiliki tanggung
jawab untuk memastikan bahwa sistem yang disiapkan memiliki kualitas yang sama
baiknya dengan semangat anak-anak yang menggunakannya.
Hasil Tes Potensi Akademik tahun ini
sekali lagi membuktikan bahwa Lampung tidak kekurangan murid cerdas. Mereka ada
di sekolah-sekolah kita, di ruang-ruang kelas kita, dan di rumah-rumah
sederhana yang dipenuhi harapan orang tua. Mereka telah menunjukkan kesiapan
untuk bersaing.
Maka yang perlu kita bangun bukan
hanya ruang kelas yang lebih baik, bukan hanya server yang lebih kuat, dan
bukan hanya sistem seleksi yang lebih canggih. Yang perlu kita bangun adalah
kepercayaan bahwa pendidikan dijalankan dengan keteladanan dan tanggung jawab.
Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan anak-anak yang pintar menghitung,
tetapi juga anak-anak yang mengerti makna kejujuran, amanah, dan integritas.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi
apakah anak-anak Lampung mampu berprestasi. Mereka sudah menjawabnya dengan
nilai dan kerja keras mereka. Pertanyaan yang tersisa adalah: ketika anak-anak
Lampung sudah siap bersaing, apakah sistem yang kita siapkan untuk mereka juga
sudah benar-benar siap menjadi teladan?
إرسال تعليق