Sepulang dari salat Subuh di masjid, seperti biasa kami
tidak langsung pulang. Udara pagi masih terasa sejuk. Beberapa jamaah berdiri
di halaman masjid, menikmati sisa dingin malam yang belum sepenuhnya pergi.
Obrolan mengalir ke mana-mana, dari urusan keluarga, pekerjaan, harga kebutuhan
pokok, hingga urusan negara yang belakangan terasa semakin dekat dengan
kehidupan sehari-hari.
Di tengah percakapan itu, seorang kawan yang bekerja di
Dinas PU di salah satu kabupaten di Lampung tiba-tiba berkomentar.
"Gila ya konsultan sekarang. Masa kerja bawa bontot,
bawa bekal makan siang."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun cukup membuat kami
saling menoleh. Bukan karena membawa bekal makan siang adalah sesuatu yang
aneh. Melainkan karena yang dibicarakan adalah konsultan, profesi yang selama
ini identik dengan kompetensi, keahlian, dan posisi yang relatif mapan dalam
berbagai pekerjaan pembangunan.
Belum sempat saya menanggapi, seorang kawan lain yang
juga bekerja di Dinas PU ikut menyambung.
"Iya. Nggak pernah terjadi di era sebelumnya. Sekelas
konsultan harus bawa bontot. Mungkin anggaran mereka sudah minim betul."
Kami tertawa kecil. Tetapi tawa itu bukan semata karena
lucu. Kadang-kadang kenyataan memang lebih satir daripada lelucon. Apa yang
dulu terasa mustahil, kini perlahan menjadi hal biasa. Konsultan yang selama ini
identik dengan perjalanan dinas, rapat, dan berbagai fasilitas pekerjaan, kini
mulai akrab dengan kotak makan yang dibawa dari rumah.
Tulisan ini tentu bukan bermaksud menempatkan konsultan
pada derajat yang lebih tinggi dibanding profesi lainnya. Semua pekerjaan
memiliki kehormatan yang sama. Petani, nelayan, guru, sopir, buruh, pedagang,
pegawai, semuanya sama-sama berjuang mencari nafkah yang halal untuk
keluarganya.
Namun kita juga harus jujur mengakui bahwa selama ini
masyarakat, dunia kerja, bahkan pemerintah sendiri menempatkan konsultan pada
posisi yang cukup istimewa. Bukan karena status sosialnya, melainkan karena
kompetensi dan keahlian yang mereka miliki. Dalam banyak proyek pembangunan,
mereka menjadi tempat bertanya, tempat meminta pertimbangan, bahkan menjadi
bagian penting dalam proses perencanaan.
Karena itulah cerita tentang konsultan yang membawa
bontot menjadi menarik. Bukan karena membawa bekal adalah sesuatu yang
memalukan. Justru sebaliknya. Membawa nasi dari rumah adalah sesuatu yang
terhormat. Di dalam kotak makan itu sering kali tersimpan kasih sayang
keluarga, penghematan, dan perjuangan agar penghasilan yang terbatas tetap
cukup hingga akhir bulan.
Tetapi ketika profesi yang selama ini dianggap mapan
mulai merasakan ketatnya keadaan, masyarakat tentu akan bertanya. Jika sekelas
konsultan saja mulai menghitung ulang pengeluaran hariannya, lalu bagaimana
dengan yang lain? Jika mereka yang selama ini dianggap berada di lapisan atas
dunia kerja mulai merasakan dinginnya angin efisiensi, bagaimana dengan mereka
yang sejak awal hidup dalam keterbatasan?
Pertanyaan itu semakin terasa masuk akal ketika saya
teringat cerita seorang kawan yang bekerja di salah satu Balai PU di sebuah
provinsi. Menurutnya, sampai pertengahan Juni 2026, di tempatnya bekerja sudah
terjadi dua kali efisiensi anggaran.
Dua kali.
Bukan karena perencanaannya salah. Bukan karena
programnya buruk. Bukan pula karena kebutuhan pekerjaan tiba-tiba menghilang.
Semua sudah dirancang. Semua sudah dihitung. Semua sudah direncanakan
sebagaimana mestinya. Tetapi kemudian datang penyesuaian, datang efisiensi,
datang kebijakan baru, dan akhirnya banyak rencana harus kembali dibongkar dan
disesuaikan.
"Ya mau bagaimana lagi, kementerian meminta
begitu," katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di dalamnya
tersimpan cerita panjang tentang bagaimana sebuah keputusan yang lahir di pusat
dapat mengubah denyut pekerjaan hingga ke daerah-daerah yang jauh dari ibu
kota.
Belum selesai saya merenungkan cerita itu, seorang kawan
lain yang bekerja di lingkungan pemerintah daerah menyampaikan kegelisahan yang
lebih dalam.
*"Kalau sekarang datang ke kantor-kantor pemda,
rasanya lesu sekali. Seolah nggak ada aktivitas. Kegiatan hampir nggak ada.
Anggaran kegiatan sudah habis dipangkas. Untuk biaya rutin saja minim. Gimana
mau bikin kegiatan?"*
Saya terdiam. Karena saya tahu yang sedang ia ceritakan
bukan sekadar soal kantor. Yang sedang ia ceritakan adalah denyut kehidupan
sebuah daerah. Sebab kantor pemerintahan hidup dari kegiatan. Ada pembinaan,
pendampingan, monitoring, sosialisasi, pelayanan, dan pembangunan.
Ketika kegiatan itu hilang, maka yang ikut hilang bukan
hanya agenda kerja. Tetapi juga perputaran ekonomi yang selama ini hidup di
sekitarnya. Warung-warung menjadi sepi. Percetakan kehilangan pelanggan.
Penyedia jasa kehilangan pekerjaan. Hotel kehilangan tamu. Pedagang kecil
kehilangan pembeli. Dan perlahan roda ekonomi ikut melambat.
Orang memang tetap masuk kantor. Komputer tetap menyala.
Absensi tetap berjalan. Tetapi suasananya berbeda. Seperti pasar yang masih
buka tetapi pembelinya berkurang. Seperti terminal yang masih berdiri tetapi
busnya tak lagi ramai. Seperti pelabuhan yang masih ada tetapi kapal-kapal
jarang singgah.
Di tengah berbagai cerita itu, saya teringat sebuah video
yang sempat beredar di media sosial. Video seorang Bupati Siak, Riau, yang menyampaikan
kegelisahannya mengenai Dana Bagi Hasil dari kekayaan alam daerah penghasil.
Terlepas dari bagaimana aturan fiskal negara mengaturnya,
ada satu pertanyaan yang terasa begitu masuk akal.
Bagaimana mungkin daerah yang menghasilkan minyak, gas, dan
berbagai sumber daya alam justru sering kali merasa kekurangan anggaran?
Bagaimana mungkin kekayaan alam keluar dari tanah mereka setiap hari, tetapi
kemampuan keuangan daerah mereka semakin terbatas? Bagaimana mungkin daerah
yang kaya sumber daya justru sibuk menghitung kekurangan dana operasional?
Bukankah terasa ironis jika daerah penghasil jatuh miskin
karena kekayaan alamnya lebih banyak ditarik ke pusat?
Pertanyaan itu mungkin memiliki jawaban teknokratis yang
panjang. Tetapi rakyat tidak hidup dari jawaban teknokratis. Rakyat hidup dari
kenyataan yang mereka lihat dan rasakan. Dan kenyataan itulah yang melahirkan
pertanyaan lain yang semakin sering terdengar di warung kopi, di halaman
masjid, dan di teras-teras rumah.
Kalau memang negara sedang melakukan efisiensi, mengapa
yang paling terasa justru di daerah? Mengapa kegiatan daerah yang lebih dulu
hilang? Mengapa kantor-kantor pemda yang lebih dulu lesu? Mengapa ruang gerak
daerah yang lebih dulu menyempit?
Sementara pada saat yang sama rakyat masih melihat begitu
banyak kementerian, wakil menteri, badan, dan lembaga negara yang jumlahnya
luar biasa besar. Rakyat masih mendengar perjalanan ke luar negeri. Masih
melihat kunjungan kerja. Masih membaca berita rapat demi rapat. Masih
menyaksikan berbagai agenda yang tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Tentu saja mungkin ada alasan yang tidak diketahui
masyarakat. Mungkin ada penghematan yang juga dilakukan di tingkat pusat.
Mungkin ada pekerjaan besar yang tidak terlihat oleh publik. Tetapi rakyat
selalu memiliki cara berpikir yang sederhana.
Kalau memang seluruh bangsa diminta mengencangkan ikat
pinggang, apakah semua mengencangkannya pada lubang yang sama? Ataukah ada yang
mengencangkan sampai sesak napas, sementara ada yang masih cukup longgar untuk
tersenyum?
Dan pertanyaan yang lebih besar lagi adalah: apa
sebenarnya hasil dari semua pengorbanan ini? Apa terobosan besar yang sudah
dirasakan rakyat? Apa yang membuat hidup petani lebih mudah? Apa yang membuat
nelayan lebih tenang? Apa yang membuat sopir truk tidak lagi mengantre solar
berhari-hari? Apa yang membuat daerah penghasil lebih sejahtera? Apa yang
membuat kehidupan masyarakat lebih baik dibanding kemarin?
Karena rakyat tidak terlalu peduli berapa banyak
kementerian dibentuk. Rakyat tidak sibuk menghitung berapa banyak wakil menteri
dilantik. Rakyat tidak tertarik pada panjangnya struktur organisasi. Yang
mereka ingin lihat hanyalah hasil. Hasil yang bisa dirasakan. Hasil yang bisa
disentuh. Hasil yang bisa dibawa pulang ke rumah.
Mungkin karena itulah saya akhirnya menyela obrolan pagi
itu dengan sebuah hiperbola. Dengan sebuah kalimat yang lebih dekat kepada
humor daripada analisis.
"Kita harus berterima kasih kepada Presiden Prabowo.
Berkat MBG, semua konsultan dan bahkan pegawai sekarang harus bawa
bontot."
Semua tertawa.
Tawa yang tidak sedang menghina siapa pun. Tawa yang
lahir dari kebiasaan rakyat Indonesia yang selalu mampu mengubah kegelisahan
menjadi humor. Karena sering kali humor adalah satu-satunya cara agar keresahan
tidak berubah menjadi keputusasaan.
Dan mungkin itulah yang sebenarnya tersimpan di balik
cerita seorang konsultan yang membawa bekal makan siang dari rumah. Ini bukan
lagi cerita tentang nasi bungkus. Bukan lagi cerita tentang kotak makan. Bukan
lagi cerita tentang bontot.
Ini adalah cerita tentang daerah yang ruang geraknya
semakin sempit. Tentang kantor-kantor yang mulai kehilangan denyut
aktivitasnya. Tentang daerah penghasil yang merasa belum menikmati kekayaan
yang keluar dari tanahnya sendiri. Tentang rakyat yang terus diminta berhemat.
Dan tentang harapan yang sampai hari ini masih menunggu untuk dibuktikan.
Karena pada akhirnya, rakyat tidak pernah meminta
kemewahan. Mereka hanya ingin melihat keadilan. Mereka hanya ingin melihat
hasil. Mereka hanya ingin memastikan bahwa setiap pengorbanan yang mereka
lakukan hari ini benar-benar akan kembali menjadi kesejahteraan bagi anak-anak
mereka esok hari.
Dan selama jawaban itu belum benar-benar terlihat, maka
obrolan-obrolan kecil selepas Subuh seperti pagi itu akan terus hidup. Hidup di
halaman masjid, di warung kopi, di teras rumah, dan di hati rakyat yang masih
setia berharap bahwa negeri yang begitu kaya ini suatu hari nanti mampu membuat
seluruh anak bangsanya ikut merasakan kekayaannya.
إرسال تعليق