Di hampir setiap doa, kita memohon hal yang sama: semoga
Allah SWT memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat. Kalimat itu begitu akrab
di telinga. Menjadi penutup pengajian, sambutan, rapat, bahkan percakapan
sehari-hari. Namun, di balik doa yang indah itu, ada satu pertanyaan yang
jarang kita ajukan kepada diri sendiri: apakah pekerjaan yang kita lakukan
setiap hari benar-benar sedang mengantarkan kita kepada kebahagiaan akhirat,
atau jangan-jangan hanya sibuk mengurus dunia?
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ketika manusia meninggal
dunia, seluruh amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu
yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya. Ketiga
bekal itu tidak bisa dipersiapkan menjelang akhir kehidupan. Ilmu harus lebih
dahulu dibagikan agar menjadi manfaat. Kebaikan harus lebih dahulu ditanam agar
terus mengalir. Anak harus lebih dahulu dididik agar kelak menjadi penyejuk
hati dan penolong orang tuanya dengan doa-doanya.
Ketika merenungkan hadis tersebut, saya justru teringat
kepada profesi fasilitator. Mungkin tidak banyak pekerjaan yang sedekat ini
dengan peluang mengumpulkan bekal akhirat. Setiap hari fasilitator berbagi
pengetahuan, mendampingi masyarakat, menguatkan keluarga, membantu tumbuhnya
kelompok-kelompok yang mandiri, dan mendorong orang lain agar mampu berdiri di
atas kakinya sendiri. Jika semua itu dilakukan dengan niat yang lurus, bukan
mustahil setiap ilmu yang dibagikan menjadi ilmu yang bermanfaat, setiap
perubahan yang lahir menjadi bagian dari amal jariyah, bahkan setiap
keluarga yang menjadi lebih baik ikut melahirkan generasi yang saleh. Tanpa
disadari, seorang fasilitator sedang menanam sesuatu yang mungkin tetap hidup
jauh setelah dirinya meninggalkan lokasi pendampingan.
Ironisnya, kesempatan sebesar itu sering kalah oleh
kesibukan administratif. Kita hidup di zaman ketika keberhasilan lebih mudah
diukur dengan angka daripada manfaat. Jumlah kegiatan dihitung, jumlah peserta
dihitung, serapan anggaran dihitung, laporan diperiksa berulang kali. Sementara
perubahan yang benar-benar tumbuh di tengah masyarakat sering kali tidak
mempunyai kolom penilaian. Akibatnya, ada yang lebih sibuk mengejar tanda
tangan daripada memastikan ilmu dipahami, lebih cemas bila laporan terlambat
daripada bila masyarakat tidak mengalami perubahan, bahkan lebih khawatir
target administrasi tidak tercapai daripada manfaat yang tidak pernah
bertumbuh.
Laporan tentu penting. Ia adalah bentuk pertanggungjawaban
kepada lembaga. Namun laporan bukanlah tujuan akhir dari pendampingan. Tujuan
seorang fasilitator bukan menghasilkan tumpukan dokumen, melainkan melahirkan
masyarakat yang semakin mampu, hingga suatu hari tidak lagi bergantung kepada
pendampingnya. Ketika itu terjadi, boleh jadi laporan telah selesai, tetapi
manfaatnya baru saja dimulai.
Karena itulah, alangkah sayangnya bila profesi yang begitu
dekat dengan peluang menjadi bekal akhirat justru dipersempit hanya menjadi
jalan mencari dunia. Lebih ironis lagi apabila demi memperoleh sedikit tambahan
dunia, seorang fasilitator rela mengurangi amanahnya sendiri. Korupsi tidak
selalu berbentuk uang. Ada korupsi waktu ketika jam kerja dikurangi tetapi
laporan tetap sempurna. Ada korupsi komitmen ketika pendampingan dilakukan
sekadar memenuhi absensi. Ada pula korupsi kepedulian ketika masyarakat hanya
dipandang sebagai objek agar target segera selesai. Semuanya mungkin tampak
rapi di atas kertas, tetapi manfaat tidak pernah bisa dipalsukan. Masyarakat
mengetahui siapa yang benar-benar mendampingi mereka, dan siapa yang hanya
datang ketika dokumentasi akan diambil.
Menariknya, hampir semua fasilitator adalah orang-orang yang
pandai berbicara. Mereka terbiasa menjelaskan program, memimpin diskusi,
memotivasi masyarakat, dan meyakinkan orang lain agar mau berubah. Kemampuan
itu memang bagian dari profesinya. Maka bolehlah seorang fasilitator berbicara
tentang integritas, profesionalisme, pemberdayaan, atau perubahan. Bolehlah ia
dikenal sebagai pribadi yang cakap dan terampil. Namun, kata-kata hanya akan
memiliki wibawa apabila berjalan seiring dengan cara ia bekerja. Sebab
masyarakat tidak hanya mendengar apa yang kita ucapkan. Mereka melihat
bagaimana kita menghargai waktu, menjaga amanah, memperlakukan orang lain, dan
menyelesaikan pekerjaan. Teman-teman kerja pun demikian. Mungkin mereka tidak
selalu berbicara, tetapi mereka mengetahui bagaimana sesungguhnya kita bekerja.
Ada satu hal yang sering terlupakan. Jika hari ini kita
masih dipandang baik oleh banyak orang, boleh jadi bukan karena kita telah
menjadi manusia yang sempurna. Bisa jadi Allah SWT masih berkenan menutupi
kekurangan dan aib kita. Masih memberi kesempatan agar kita memperbaiki diri
sebelum keburukan itu dibukakan di hadapan manusia. Karena itu, jangan terlalu
cepat merasa bangga ketika pujian datang. Yang lebih penting adalah
memanfaatkan kesempatan itu untuk terus memperbaiki diri. Sebab tidak ada
laporan yang dapat disembunyikan dari Allah SWT.
Ada kalanya, bertahun-tahun setelah kontrak pendampingan
berakhir, kita sedang berada di pasar, menghadiri hajatan, atau sekadar
melintas di sebuah desa. Tiba-tiba seseorang menghampiri, menyalami kita dengan
hangat, lalu berkata, "Masih ingat saya, Pak? Dulu Bapak pernah
mendampingi kami." Jika itu terjadi, anggaplah sebagai bonus dari sebuah
pengabdian. Barangkali itulah bentuk apresiasi dari masyarakat yang pernah kita
dampingi. Sebuah pertanda bahwa kehadiran kita pernah memberi kesan dalam
perjalanan hidup mereka.
Namun jangan tergesa-gesa berbangga.
Sebab penghargaan manusia belum tentu sama dengan penilaian
Sang Khalik.
Bisa saja kita dikenang karena pandai berbicara, sementara
Allah SWT menilai seberapa jujur kita bekerja. Bisa saja kita dipuji karena
sering hadir di tengah masyarakat, sementara yang dihitung di sisi-Nya adalah
seberapa ikhlas kita menjaga amanah. Penilaian manusia sering berhenti pada apa
yang tampak, sedangkan penilaian Allah SWT menembus apa yang tersembunyi di
dalam niat dan perbuatan.
Karena itu, yang benar-benar menjadi bekal bukanlah
banyaknya orang yang mengenal nama kita. Bekal itu adalah ilmu yang
bermanfaat yang masih diamalkan, amal jariyah yang terus mengalir meski
kita telah tiada, dan setiap ikhtiar kebaikan yang melahirkan anak-anak
saleh yang kelak mendoakan kedua orang tuanya. Itulah tiga perkara yang
dijanjikan Rasulullah SAW tetap menemani seseorang ketika seluruh urusan
dunianya telah selesai.
Pada akhirnya, program akan berakhir. Kontrak akan habis.
Jabatan akan berganti. Laporan akan masuk ke dalam lemari arsip, lalu perlahan
dilupakan. Namun jejak tidak pernah mengenal masa kedaluwarsa. Ia hidup dalam
ilmu yang diamalkan, dalam masyarakat yang menjadi lebih berdaya, dalam
kebaikan yang terus mengalir, dan dalam kehidupan yang berubah karena kita
pernah hadir.
Mungkin itulah ukuran keberhasilan seorang fasilitator yang
sesungguhnya. Bukan seberapa banyak kegiatan yang pernah dilaksanakan. Bukan
pula seberapa tebal laporan yang berhasil diselesaikan. Melainkan seberapa
panjang manfaat yang tetap hidup setelah kita pergi.
Sebab kelak, ketika seluruh laporan dunia telah selesai diperiksa, mungkin Allah SWT tidak lagi bertanya berapa banyak kegiatan yang pernah kita dampingi atau berapa banyak halaman laporan yang pernah kita susun. Yang lebih bernilai adalah berapa banyak ilmu yang masih diamalkan, berapa banyak manfaat yang masih mengalir, dan berapa banyak kebaikan yang tetap hidup karena kita pernah hadir. Itulah jejak seorang fasilitator.
إرسال تعليق