Suatu saat saya menyadari bahwa ternyata yang paling cepat berubah dalam
hidup bukanlah cuaca, melainkan cara sebagian orang memperlakukan kita. Ketika
seseorang memiliki jabatan, usaha yang maju, dan rekening yang sehat, mendadak
banyak orang mengingat namanya. Telepon berdering tanpa henti, pesan WhatsApp
datang silih berganti, undangan berdatangan dari berbagai arah. Saudara yang
lama tak bertemu mendadak akrab. Teman yang bertahun-tahun menghilang tiba-tiba
teringat kenangan masa lalu. Seolah-olah kita adalah manusia paling penting di
muka bumi.
Fenomena ini mengingatkan saya pada pohon mangga yang sedang berbuah
lebat. Ketika ranting-rantingnya penuh buah ranum, banyak orang datang membawa
galah. Banyak mata memandang ke arahnya. Banyak tangan ingin memetik hasilnya.
Namun ketika musim berganti dan pohon itu tidak sedang berbuah, halaman menjadi
sepi. Tidak ada yang bertanya apakah akarnya masih kuat, apakah batangnya
sedang diserang hama, atau apakah ia membutuhkan pupuk. Yang dicari ternyata
bukan pohonnya, melainkan buahnya.
Begitu pula dalam kehidupan sosial kita. Ketika jabatan masih melekat,
ketika pengaruh masih kuat, dan ketika rezeki sedang lapang, perhatian datang
dari berbagai penjuru. Namun ketika jabatan berakhir, usaha sedang sulit, atau
kondisi ekonomi tidak lagi sebaik dulu, suasana berubah perlahan. Pesan
WhatsApp hanya berakhir pada centang dua. Telepon berdering tanpa jawaban.
Bahkan ada yang bertemu di jalan dan berpura-pura lupa pernah mengenal kita.
Yang berubah sebenarnya bukan diri kita, melainkan manfaat yang mereka lihat
dari diri kita.
Fenomena ini sebenarnya sudah lama dijelaskan oleh para ahli ilmu sosial.
Sosiolog Jerman, Max Weber, menjelaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat sering
kali status, kekuasaan, dan prestise memengaruhi pola hubungan antar manusia.
Orang cenderung mendekati mereka yang memiliki posisi sosial tinggi karena
dianggap memiliki sumber daya, pengaruh, atau peluang yang dapat dimanfaatkan.
Sementara itu, sosiolog Amerika, Peter Blau, melalui teori pertukaran sosial
menjelaskan bahwa sebagian hubungan sosial dibangun atas dasar pertimbangan
keuntungan dan biaya. Selama seseorang dianggap memberikan manfaat, hubungan
dipertahankan. Ketika manfaat itu berkurang, hubungan pun sering ikut melemah.
Inilah wajah sosial yang semakin sering kita jumpai hari ini. Silaturahmi
tidak lagi selalu dibangun di atas rasa persaudaraan, tetapi sering kali
diletakkan dalam timbangan untung-rugi. Selama dianggap menguntungkan, hubungan
dipelihara dengan baik. Selama masih ada peluang memperoleh akses, bantuan,
atau keuntungan tertentu, perhatian terus mengalir. Tetapi ketika manfaat itu
hilang, sebagian hubungan ikut mengering.
Kadang-kadang kita seperti pohon durian saat musim panen. Ketika buahnya
berjatuhan, halaman ramai oleh orang-orang yang datang. Mereka tersenyum,
bercanda, bahkan memuji pohonnya. Namun setelah musim berlalu, yang tersisa
hanyalah batang yang berdiri sendiri. Tidak sedikit yang lupa bahwa pohon yang
sama pernah memberi mereka buah yang mereka nikmati bersama.
Ironisnya, masyarakat kita dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung
tinggi nilai kekeluargaan dan gotong royong. Dalam berbagai kesempatan, kata
persaudaraan selalu terdengar indah. Tetapi dalam kenyataan, tidak sedikit yang
lebih cepat mendekati orang sukses daripada menemani orang yang sedang
berjuang. Kita lebih antusias datang ke pesta syukuran daripada berkunjung ke
rumah sahabat yang sedang menghadapi kesulitan.
Padahal ukuran persahabatan dan persaudaraan yang sesungguhnya justru
terlihat ketika seseorang sedang tidak memiliki apa-apa untuk ditawarkan.
Pemikiran ini sejalan dengan pandangan Aristotle yang membedakan persahabatan
menjadi tiga bentuk: karena manfaat, karena kesenangan, dan karena kebaikan.
Menurutnya, persahabatan yang paling kuat adalah persahabatan karena kebaikan,
bukan karena manfaat. Persahabatan yang dibangun atas manfaat akan berakhir
ketika manfaat itu hilang, sedangkan persahabatan yang dibangun atas ketulusan
akan tetap bertahan meskipun keadaan berubah.
Sebab tidak sulit menemukan teman saat kita seperti pohon yang sedang
berbuah. Yang sulit adalah menemukan orang yang tetap menyiram ketika pohon itu
sedang meranggas. Tidak sulit menemukan saudara saat meja makan penuh hidangan.
Yang sulit adalah menemukan mereka ketika dapur sedang sepi asap.
Karena itu, jangan terlalu kecewa ketika suatu hari banyak orang menjauh
saat kita sedang susah. Anggap saja kehidupan sedang memperlihatkan siapa yang
mencintai pohonnya dan siapa yang hanya menyukai buahnya. Sebab sahabat sejati
tidak datang hanya saat panen. Ia tetap hadir saat musim kemarau. Ia tidak
menghitung nilai seseorang dari jabatan, harta, atau pengaruh, melainkan dari
ikatan kemanusiaan yang tulus.
Waktu adalah hakim yang paling adil. Kesulitan adalah lampu yang paling
terang. Keduanya akan memperlihatkan bahwa tidak semua silaturahmi dibangun
oleh hati. Sebagian ternyata dibangun oleh kalkulator. Dan ketika hubungan
kemanusiaan mulai ditimbang dengan untung-rugi, saat itulah kita perlu
bertanya: apakah mereka selama ini menyayangi pohonnya, atau hanya menunggu
buahnya?
Sebab dalam hidup ini, yang paling berharga bukanlah banyaknya orang yang
datang saat panen, melainkan satu atau dua orang yang tetap bertahan ketika
pohon kehidupan kita sedang tidak berbuah. Itulah sahabat. Itulah saudara. Dan
itulah silaturahmi yang sesungguhnya.
إرسال تعليق