Sejak September 2025, ada antrean yang lebih panjang dari
janji yang belum sempat ditepati, lebih sabar dari orang yang menunggu kabar
baik bertahun-tahun, dan lebih setia dari sebagian hubungan yang katanya
dibangun atas cinta. Namanya antrean solar. Di SPBU, di bahu jalan, di bawah
matahari yang membakar kulit, di bawah hujan yang membasahi kursi kemudi, di
bawah langit yang diam saja seolah tidak tahu harus berpihak kepada siapa,
truk-truk berbaris dengan moncongnya menghadap ke depan, tetapi nasibnya
seperti berjalan di tempat. Bukan mau pawai, bukan mau konvoi, bukan pula mau
demonstrasi. Mereka hanya ingin minum. Karena truk tidak meminta kemewahan,
tidak meminta karpet merah, tidak meminta penghargaan. Ia hanya meminta solar
agar bisa bergerak. Seekor sapi masih bisa bertahan tanpa dimandikan beberapa
hari, seekor kambing masih bisa hidup tanpa kalung, tetapi truk tidak bisa
hidup tanpa solar. Tangkinya mungkin hanya terbuat dari besi, namun di dalam
tangki itulah ribuan harapan ikut diisi.
Lucunya, sejak dulu truk sering menjadi terdakwa tanpa pengacara.
Kalau jalan macet, yang disalahkan truk. Kalau aspal retak, yang dituduh truk.
Kalau kendaraan kecil terlambat sampai tujuan, yang dicaci truk. Seolah-olah
truk adalah biang kerok dari segala masalah lalu lintas. Padahal, cobalah
bayangkan sehari saja semua truk berhenti. Tidak ada beras yang sampai ke
pasar. Tidak ada sayur yang tiba di kota. Tidak ada semen yang sampai ke
proyek. Tidak ada pupuk yang sampai ke sawah. Tidak ada hasil panen yang keluar
dari desa. Tidak ada barang kebutuhan yang masuk ke toko. Rak-rak perlahan
kosong, pasar perlahan sepi, pabrik perlahan berhenti. Dan saat itulah orang
mulai sadar bahwa yang selama ini dianggap pengganggu ternyata adalah
penghubung, yang selama ini dianggap beban ternyata adalah penopang, yang selama
ini dibenci ternyata diam-diam dirindukan. Truk itu seperti akar pohon. Tidak
pernah dipajang, tidak pernah dipuji, tidak pernah dijadikan latar foto. Tetapi
ketika akar hilang, pohon sebesar apa pun akan tumbang.
Dulu para sopir punya semboyan yang sederhana namun sangat
berarti: "Waktu adalah uang." Karena setiap menit roda berputar,
dapur menyala. Setiap kilometer yang ditempuh, ada anak yang bisa membeli buku
sekolah. Ada istri yang bisa memenuhi kebutuhan rumah. Ada orang tua yang bisa
menerima kiriman uang. Ada keluarga yang menggantungkan hidup pada putaran roda
itu. Maka mereka berlomba dengan waktu. Tidur sebentar, makan seadanya,
istirahat secukupnya, pulang sesempatnya. Karena mereka percaya waktu yang
hilang adalah penghasilan yang hilang. Tetapi sekarang semboyan itu terdengar
seperti kenangan, seperti tulisan kusam yang mulai pudar di bak belakang truk
tua. Bagaimana mau mengejar waktu kalau waktu habis untuk mengantre? Bagaimana
mau mencari uang kalau kendaraan hanya menjadi patung besi di pinggir jalan?
Bagaimana mau mengantar barang kalau bahan bakarnya belum ada? Hari demi hari
berlalu, jarum jam terus bergerak, tetapi roda tidak berputar. Akhirnya
lahirlah semboyan baru. Bukan dari seminar, bukan dari ruang rapat, bukan dari
pidato. Semboyan itu lahir dari lelah, lahir dari kenyataan, lahir dari antrean
yang tidak kunjung selesai:
"Bukan lagi
waktu adalah uang, tetapi tanpa solar, kami bisa apa?"
Kadang saya melihat seorang sopir duduk di bawah truknya.
Menikmati bayangan roda yang lebih setia daripada keadaan. Termos kopinya sudah
dingin. Rokoknya tinggal puntung. Bekal makannya mulai habis. Tetapi antrean
masih panjang. Matanya menatap ke depan, namun pikirannya mungkin sedang berada
di rumah. Mungkin ada anak yang bertanya, "Ayah kapan pulang?"
Mungkin ada istri yang mulai menghitung uang belanja yang tersisa. Mungkin ada
cicilan yang jatuh tempo. Mungkin ada kebutuhan sekolah yang harus dibayar.
Mungkin ada orang tua yang menunggu kiriman. Tetapi yang bisa dilakukan sang
sopir hanyalah menunggu. Menunggu. Dan menunggu. Kadang hidup memang aneh.
Orang yang pekerjaannya berjalan jauh justru dipaksa diam berhari-hari. Orang
yang terbiasa bergerak justru harus akrab dengan ketidakpastian. Antrean itu
perlahan bukan hanya menguras solar, tetapi juga menguras tenaga, menguras
pikiran, dan menguras kesabaran.
Negeri ini sering bicara tentang logistik, distribusi,
pertumbuhan ekonomi, dan ketahanan pangan. Sering bicara tentang angka-angka
yang naik dan turun. Tetapi kadang lupa melihat orang-orang yang membuat semua
itu bergerak. Wajah yang terbakar matahari. Kulit yang menghitam karena
perjalanan. Tangan yang akrab dengan oli. Punggung yang pegal karena ribuan
kilometer. Mereka bukan menteri, bukan pejabat, bukan pengusaha besar, bukan
tokoh yang sering muncul di televisi. Mereka hanya sopir truk. Tetapi dari tangan
merekalah barang berpindah. Dari kesabaran merekalah kebutuhan sampai tujuan.
Dari perjuangan merekalah roda ekonomi terus berputar. Mereka tidak meminta
disebut pahlawan. Mereka hanya ingin diberi kesempatan untuk bekerja.
Karena sesungguhnya sopir truk tidak takut jalan rusak.
Tidak takut tanjakan curam. Tidak takut hujan deras. Tidak takut panas terik.
Tidak takut perjalanan ribuan kilometer. Tidak takut tidur di kabin sempit.
Tidak takut makan seadanya di warung pinggir jalan. Mereka sudah bersahabat
dengan semua itu sejak lama. Yang mereka takutkan hari ini hanya satu. Mesin
masih sehat. Ban masih bulat. Muatan masih menunggu. Order masih ada. Semangat
masih ada. Tetapi tangki kosong. Dan ketika tangki kosong, truk sebesar apa pun
hanya menjadi besi yang diam. Sopir sekuat apa pun hanya bisa menunggu. Harapan
sebesar apa pun hanya bisa tertahan.
Maka jika hari ini engkau melihat antrean truk yang mengular
panjang, jangan hanya melihat kendaraannya. Jangan hanya melihat ukurannya.
Jangan hanya melihat asap dan rodanya. Lihatlah juga manusia yang ada di balik
kemudi itu. Karena di sana ada seorang ayah yang sedang memperjuangkan isi
dapurnya, ada seorang suami yang sedang menjaga martabat keluarganya, ada
seorang anak yang sedang berusaha membalas jerih payah orang tuanya. Mereka
tidak meminta belas kasihan. Mereka hanya ingin bekerja. Mereka hanya ingin
roda kembali berputar.
Dan mungkin, di tengah malam yang panjang, di tengah antrean
yang tidak kunjung bergerak, di bawah lampu SPBU yang redup dan langit yang
terus membisu, mereka hanya mampu mengulang satu pertanyaan yang sama,
pertanyaan yang sederhana namun terasa begitu berat:
"Kalau dulu
waktu adalah uang, sekarang tanpa solar... kami bisa apa?"
Ali Rukman
Kadang yang membuat orang lelah bukan jauhnya perjalanan,
melainkan terlalu lama berhenti di tengah jalan, padahal masih banyak kehidupan
yang harus diperjuangkan.
Post a Comment